Korban Jiwa Ratusan, BNPB Sebut Banjir Sumatera Belum Penuhi Ambang Bencana Nasional
Jakarta [DESA MERDEKA] – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Suharyanto, mengungkapkan alasan pemerintah belum menetapkan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat sebagai bencana nasional. Menurut Suharyanto, meskipun terjadi cuaca ekstrem yang mengakibatkan dampak signifikan, bencana di ketiga wilayah tersebut masih dikategorikan sebagai bencana daerah tingkat provinsi.
Suharyanto menjelaskan bahwa status bencana nasional hanya ditetapkan melalui pertimbangan yang sangat ketat, salah satunya berdasarkan skala korban dan dampak kerugian yang masif. Ia membandingkan bahwa status bencana nasional di Indonesia sebelumnya hanya pernah ditetapkan pada kasus yang sangat besar, seperti pandemi Covid-19 dan Tsunami Aceh 2004.
“Status bencana nasional yang pernah ditetapkan oleh Indonesia itu kan Covid-19 dan Tsunami Aceh 2004,” ucap Suharyanto dalam konferensi pers yang disiarkan di kanal YouTube resmi BNPB pada Jumat, 28 November 2025. Ia juga menambahkan bahwa sejumlah bencana besar lainnya, seperti Gempa Palu, Gempa Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Gempa Cianjur, juga tidak ditetapkan sebagai bencana nasional.
Belum Mencapai Ambang Batas Penetapan Status
Suharyanto menegaskan bahwa situasi bencana yang terjadi di Sumatera saat ini, meskipun menimbulkan banyak korban, belum mencapai ambang batas atau kriteria yang ditetapkan untuk diangkat menjadi status bencana nasional.
Banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah kota dan kabupaten di Sumatera dalam beberapa hari terakhir memang telah menimbulkan korban yang tidak sedikit. Hingga Jumat sore, BNPB mencatat total 174 orang meninggal dunia dan 12.546 kepala keluarga (KK) mengungsi akibat bencana ini.
Klaim Kondisi Membaik Setelah Hujan Reda
Kepala BNPB juga menyinggung persepsi publik terkait kondisi di lapangan. Ia mengakui bahwa informasi yang beredar di media sosial memang menimbulkan kesan krisis dan bencana yang mencekam, terutama ketika laporan mengenai warga terisolasi dan jaringan komunikasi terputus muncul.
“Memang kemarin kelihatannya mencekam karena berseliweran di media sosial,” ujarnya.
Namun, Suharyanto mengklaim bahwa kondisi di banyak wilayah terdampak kini sudah mulai membaik seiring dengan berhentinya hujan ekstrem. Ia menyebutkan bahwa dari seluruh wilayah terdampak, kini hanya Tapanuli Tengah yang masih menjadi fokus perhatian sangat serius. Sementara itu, wilayah lain di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh dilaporkan mulai menunjukkan pemulihan dan kondisi yang lebih terkendali.
Meskipun statusnya masih bencana daerah, pemerintah pusat melalui BNPB terus memberikan bantuan dan dukungan penuh kepada pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk penanganan darurat, evakuasi, dan pemulihan pascabencana.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.