Bulukumba, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Masa depan anak-anak di Desa Batang, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba untuk tahun 2027 justru sedang ditentukan dari dalam ruang rapat hari ini. Melalui Rembuk Stunting yang digelar di Kantor Desa Batang pada Rabu (20/05/2026), pemerintah desa bersama warga tidak lagi sekadar berkumpul, melainkan sedang membedah data isi dapur dan pola asuh di tingkat dusun. Langkah konkret ini diambil demi mengejar target ambisius: melahirkan generasi tanpa stunting.
Pertemuan ini menjadi krusial karena berfungsi ganda. Bukan hanya menyusun program intervensi untuk tahun anggaran 2027, forum ini juga menjadi ruang sidang evaluasi yang jujur atas apa saja yang sudah berjalan—atau justru mandek—sepanjang tahun 2026 ini.
Duduk bersama di satu meja, Pemerintah Desa, BPD, kader Posyandu, dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) berdialog langsung dengan tenaga gizi Puskesmas Batang serta Tenaga Pendamping Profesional (TPP). Sinergi lintas sektor seperti inilah yang menjadi kunci utama konvergensi pencegahan stunting agar anggaran desa yang dikucurkan benar-benar berdampak nyata.

Sudut pandang menarik muncul saat KPM Desa Batang membuka data sasaran di lapangan. Data terperinci mengenai ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga pemetaan keluarga yang masuk kategori berisiko stunting dibeberkan tanpa ada yang ditutupi. Angka-angka inilah yang nantinya menjadi penentu ke mana arah kebijakan dan anggaran desa tahun depan akan dialokasikan.
Dari sisi medis, tim gizi Puskesmas Batang mengingatkan bahwa urusan stunting bukan cuma soal bagi-bagi makanan tambahan. Masalah mendasar justru sering kali berakar pada rendahnya tingkat kehadiran di Posyandu, pola asuh keluarga yang keliru, serta pemahaman tentang gizi seimbang yang belum merata di masyarakat.
Diskusi yang dipandu langsung oleh BPD Desa Batang ini berjalan hidup. Perwakilan dari tiap dusun secara bergantian menyampaikan kendala riil pelayanan kesehatan dasar di wilayah mereka. Lewat rembuk stunting desa batang ini, seluruh pemangku kepentingan sepakat bahwa investasi terbesar pembangunan desa bukanlah pada infrastruktur fisik, melainkan pada investasi gizi manusia yang berkelanjutan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.