Padang Sago, Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Swasembada pangan bukan sekadar angka di atas meja birokrat, melainkan kerja keras mencangkul semak belukar. Di Korong Tanjung Mutuih, Nagari Koto Dalam Barat, seorang tokoh masyarakat bernama Bustami Tanjung melontarkan kritik pedas sekaligus aksi nyata: mengolah empat hektar lahan tidur menjadi kebun jagung produktif mulai Sabtu (25/04/2026).
Kalimatnya menampar realitas pembangunan desa saat ini. “Sebenarnya tak ada lahan yang tidur, yang ada itu masyarakatnya yang tertidur,” tegas pria yang akrab disapa Datuak Bustami ini. Baginya, optimisme terhadap potensi lokal harus dibarengi dengan perubahan pola pikir warga agar berhenti membiarkan aset desa terbengkalai.

Strategi Panen Tiap Bulan
Gerakan ini tidak dilakukan secara asal tanam. Empat hektar lahan yang sebelumnya semak belukar kini dibagi menjadi empat titik lokasi yang dikelola secara bertahap. Strategi pola tanam ini dirancang secara teknis agar siklus produksi terjaga. Tujuannya ambisius namun logis: warga harus bisa memanen jagung secara berkelanjutan setiap bulan, bukan setahun sekali.
Filosofi “Tiada hari tanpa kerja” menjadi motor penggerak warga. Dengan strategi ini, siklus uang di desa diharapkan tetap berputar dan warga tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan pangan dari luar daerah.
Sinergi Tokoh: Perantau Pulang Membangun Nagari
Langkah konkret ini menjadi magnet bagi para elit lokal. Terbukti, Wali Korong Yahya Efendi, mantan anggota DPRD Alfa Edison, hingga Ali Muzar—seorang tokoh yang baru pulang dari perantauan—turut terjun ke lapangan. Kehadiran para perantau ini menjadi modal sosial penting dalam pembangunan desa: membawa semangat baru dan dukungan strategis untuk warga.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah. Datuak Bustami berharap inisiatif swadaya dari masyarakat bawah ini mendapatkan respons nyata berupa bantuan teknis dan sarana produksi dari pemerintah daerah maupun pusat. Tanpa dukungan sarana yang memadai, semangat warga yang baru saja “terbangun” ini dikhawatirkan akan layu sebelum panen raya tiba.

Penggiat Desa. Lakukan yang Perlu saja (Prioritas).
Kita Gak perlu memenangkan semua Pertempuran.
Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.