Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

PENDIDIKAN · 19 Mei 2026 21:24 WIB ·

Benteng Pendem Ambarawa Jadi Laboratorium Mitigasi Bencana Digital


					Benteng Pendem Ambarawa Jadi Laboratorium Mitigasi Bencana Digital Perbesar

Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Jika dahulu Benteng Fort Willem I dibangun kolonial Belanda untuk menahan gempuran peluru musuh, kini benteng legendaris di Ambarawa, Kabupaten Semarang ini punya misi baru yang jauh lebih krusial: menahan gempuran bencana alam. Melalui program Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN), Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menyulap situs sejarah yang akrab disapa Benteng Pendem ini menjadi laboratorium hidup untuk memperkuat literasi kebencanaan masyarakat akar rumput.

Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Ambarawa memegang posisi geografis yang sangat vital sebagai jalur penghubung utama di Jawa Tengah. Sayangnya, wilayah ini juga menyimpan risiko tinggi terhadap bencana geologi dan hidrometeorologi. Di sinilah Unhan RI masuk dengan sudut pandang berbeda: melihat ketahanan nasional bukan lagi soal angkat senjata, melainkan sejauh mana komunitas lokal siap dan tanggap menghadapi kedaruratan alam.

Strategi yang diterapkan di lapangan memutus ego sektoral dengan memadukan tiga pendekatan utama secara praktis:

  • Audit Struktur Sejarah: Menguji ketahanan fisik bangunan benteng tua terhadap getaran gempa, guna memastikan titik mana saja yang aman dijadikan ruang perlindungan sementara bagi warga.
  • Akses Logistik Terbuka: Memetakan lahan luas di sekitar benteng sebagai pusat distribusi bantuan dan dapur umum darurat yang mudah diakses dari berbagai arah.
  • Mitigasi Berbasis Budaya: Menggandeng komunitas sejarah dan warga desa sekitar untuk mengemas materi penyelamatan diri lewat narasi kearifan lokal yang santun dan mudah dipahami.

Kolaborasi ini menyatukan frekuensi kerja antara Pemda, BPBD, pengelola cagar budaya, TNI, dan masyarakat dalam satu gerakan serentak.

Salah satu terobosan konkret yang dihadirkan adalah digitalisasi pemetaan risiko. Mengingat usia benteng yang sudah ratusan tahun, beberapa sudut bangunan rawan runtuh. Tim KKDN Unhan RI menyiasatinya dengan membuat zonasi risiko berbasis digital. Lewat sistem ini, pelancong dan masyarakat lokal bisa langsung memindai informasi jalur evakuasi serta titik aman melalui gawai mereka.

Melalui digitalisasi dan edukasi berbasis komunitas ini, Benteng Willem I kini resmi memikul fungsi baru. Ia tidak lagi sekadar menawarkan pesona arsitektur kuno, melainkan bertransformasi menjadi pusat kekuatan kolektif masyarakat dalam menjaga stabilitas dan keselamatan hidup dari ancaman bencana.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Di Tengah Demam AI, Guru Sumbar Butuh Perlindungan

5 September 2026 - 14:24 WIB

Bangkit dari Bawah: Pemulihan Gempa Ngada Berbasis Desa

4 September 2026 - 21:07 WIB

Kelurahan Cipayung dan Paramadina Buka Ruang Kolaborasi Global

1 September 2026 - 14:21 WIB

Renovasi Kelas, Siswa SMA Cendana Boas Malaka Belajar di Luar

31 Agustus 2026 - 19:32 WIB

Kisah Nurul Fadiah, Melawan ‘Brain Drain’ dari Pesisir Selayar

16 Agustus 2026 - 10:45 WIB

Menantang Ombak Demi Dasa Darma: Kisah 369 Tunas Muda di Beranda Selatan Selayar

15 Agustus 2026 - 14:43 WIB

Trending di PENDIDIKAN