Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Jika dahulu Benteng Fort Willem I dibangun kolonial Belanda untuk menahan gempuran peluru musuh, kini benteng legendaris di Ambarawa, Kabupaten Semarang ini punya misi baru yang jauh lebih krusial: menahan gempuran bencana alam. Melalui program Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN), Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) menyulap situs sejarah yang akrab disapa Benteng Pendem ini menjadi laboratorium hidup untuk memperkuat literasi kebencanaan masyarakat akar rumput.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Ambarawa memegang posisi geografis yang sangat vital sebagai jalur penghubung utama di Jawa Tengah. Sayangnya, wilayah ini juga menyimpan risiko tinggi terhadap bencana geologi dan hidrometeorologi. Di sinilah Unhan RI masuk dengan sudut pandang berbeda: melihat ketahanan nasional bukan lagi soal angkat senjata, melainkan sejauh mana komunitas lokal siap dan tanggap menghadapi kedaruratan alam.
Strategi yang diterapkan di lapangan memutus ego sektoral dengan memadukan tiga pendekatan utama secara praktis:
- Audit Struktur Sejarah: Menguji ketahanan fisik bangunan benteng tua terhadap getaran gempa, guna memastikan titik mana saja yang aman dijadikan ruang perlindungan sementara bagi warga.
- Akses Logistik Terbuka: Memetakan lahan luas di sekitar benteng sebagai pusat distribusi bantuan dan dapur umum darurat yang mudah diakses dari berbagai arah.
- Mitigasi Berbasis Budaya: Menggandeng komunitas sejarah dan warga desa sekitar untuk mengemas materi penyelamatan diri lewat narasi kearifan lokal yang santun dan mudah dipahami.

Kolaborasi ini menyatukan frekuensi kerja antara Pemda, BPBD, pengelola cagar budaya, TNI, dan masyarakat dalam satu gerakan serentak.
Salah satu terobosan konkret yang dihadirkan adalah digitalisasi pemetaan risiko. Mengingat usia benteng yang sudah ratusan tahun, beberapa sudut bangunan rawan runtuh. Tim KKDN Unhan RI menyiasatinya dengan membuat zonasi risiko berbasis digital. Lewat sistem ini, pelancong dan masyarakat lokal bisa langsung memindai informasi jalur evakuasi serta titik aman melalui gawai mereka.
Melalui digitalisasi dan edukasi berbasis komunitas ini, Benteng Willem I kini resmi memikul fungsi baru. Ia tidak lagi sekadar menawarkan pesona arsitektur kuno, melainkan bertransformasi menjadi pusat kekuatan kolektif masyarakat dalam menjaga stabilitas dan keselamatan hidup dari ancaman bencana.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.