Merangin, Jambi [DESA MERDEKA] – Jalannya roda literasi di tingkat desa tidak bisa lagi hanya bermodal semangat dan kerja ikhlas. Menyadari hal itu, Balai Bahasa Provinsi Jambi mengambil langkah taktis dengan menggembleng 13 Taman Bacaan Masyarakat (TBM) asal Kabupaten Merangin dalam Pelatihan Pengelolaan Manajemen Komunitas Literasi yang digelar di Hotel Family Inn Bangko, 14—16 Mei 2026.
Fokus utama pelatihan tiga hari ini bukan lagi sekadar mengajak anak desa membaca buku, melainkan merombak total dapur organisasi. Sebanyak 26 penggerak literasi desa dilatih menguasai kemampuan birokrasi modern, mulai dari penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), pembuatan proposal kemitraan, tata kelola manajemen, hingga akuntabilitas pelaporan kegiatan.

Mengubah Penggiat Buku Menjadi Manajer Handal
Kepala Bidang Penerjemahan Balai Bahasa Provinsi Jambi, Yarmalus, saat membuka acara menegaskan bahwa ilmu manajemen ini adalah modal wajib. Komunitas literasi di desa harus bertransformasi menjadi lembaga yang akuntabel agar mampu membangun posisi tawar yang kuat di hadapan calon mitra donor.
“Ilmu tentang pengelolaan manajemen komunitas yang diperoleh dari narasumber harus benar-benar diterapkan di komunitas literasi masing-masing,” ujar Yarmalus. Langkah ini menjadi agenda strategis pemerintah dalam menghidupkan kembali simpul-simpul baca pedesaan yang selama ini sering terkendala masalah pendanaan dan organisasi.
Sinergi 13 Jaringan Literasi Akar Rumput
Dua fasilitator literasi, Halimah Sa’diah dan Masyithah Rasyid, membedah strategi keluar dari jebakan “komunitas lokal yang terisolasi”. Mereka membekali TBM desa—di antaranya TBM Pamenang Mandiri, TBM Bukit Raya, hingga TBM Al-Falah—dengan materi penyusunan program inovasi dan perluasan jejaring kemitraan.
Dengan menguasai teknik pembuatan proposal dan RAB yang profesional, TBM desa kini memiliki peluang besar untuk mengakses pendanaan dari sektor swasta maupun alokasi Dana Desa. Balai Bahasa Provinsi Jambi berharap, pascapelatihan ini, ke-13 komunitas tersebut mampu bersinergi membangun ekosistem literasi yang mandiri, sehat secara finansial, dan berdampak jangka panjang bagi peningkatan kualitas SDM pedesaan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.