Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

EKONOMI BISNIS · 13 Mei 2026 01:12 WIB ·

Kemiskinan di Jombang: Angka Melandai, Daya Beli Terhimpit Ekonomi Digital


					Kemiskinan di Jombang: Angka Melandai, Daya Beli Terhimpit Ekonomi Digital Perbesar

Temukan data terbaru angka kemiskinan Jombang 2026 menurut BPS. Simak analisis mendalam Mouna Sri Wahyuni mengenai ekonomi digital. 


Jombang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jombang mencatat tren penurunan angka kemiskinan yang konsisten dalam satu dekade terakhir. Namun, otoritas statistik mengakui adanya pergeseran struktur ekonomi yang memicu kegelisahan sosial, terutama terkait serapan tenaga kerja dan tekanan daya beli di tengah gempuran ekosistem digital.

​Kepala BPS Kabupaten Jombang, Mouna Sri Wahyuni, mengungkapkan bahwa angka kemiskinan di wilayahnya menyusut dari 10 persen pada 2016 menjadi 8,6 persen pada 2024. Meski sempat terkoreksi naik akibat pandemi Covid-19 pada 2021, arah tren diklaim tetap positif.

​”Secara tren menunjukkan penurunan, ini menandakan perbaikan indikator kesejahteraan berbasis data,” ujar Mouna, Selasa, 12 Mei 2026.

​Mouna menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Jombang saat ini tidak lagi bertumpu pada sektor agraria. Terjadi migrasi struktural di mana sektor perdagangan kini mendominasi kontribusi ekonomi sebesar 23 persen, disusul industri pengolahan sebesar 22 persen. Sektor pertanian yang sebelumnya menjadi tulang punggung kini mulai tergeser ke posisi berikutnya.

​Namun, penurunan angka kemiskinan ini menyisakan catatan kritis. BPS mengonfirmasi bahwa bantuan sosial (bansos) pemerintah memegang peran krusial dalam menjaga konsumsi rumah tangga agar tetap berada di atas garis kemiskinan. Tanpa intervensi subsidi, kedalaman kemiskinan diprediksi bakal lebih mengkhawatirkan.

​Fenomena tutupnya sejumlah toko fisik di pusat kota Jombang juga menjadi sorotan. BPS menegaskan bahwa hal tersebut merupakan dampak migrasi lokasi transaksi ke platform daring, bukan indikasi lesunya ekonomi secara makro.

“Dalam statistik, yang dihitung adalah besaran pengeluaran, bukan lokasi transaksi. Belanja melalui marketplace tetap terhitung sebagai konsumsi masyarakat,” kata Mouna.

​Di sisi lapangan kerja, industrialisasi di wilayah Ploso, Peterongan, hingga Gudo mulai mengubah pola migrasi tenaga kerja lokal. Anak muda Jombang yang sebelumnya merantau ke Surabaya kini cenderung bertahan untuk bekerja di pabrik manufaktur elektronik, mainan, industri sepatu, hingga industri konsumsi seperti milik PT. Orang Tua.

​Meski demikian, Mouna mengakui adanya gap antara data statistik dan persepsi publik. Rasa aman ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat persaingan kerja yang ketat dan standar keterampilan digital yang belum merata.

​”Kami memahami masyarakat masih merasakan tekanan ekonomi. Oleh sebab itu, diperlukan intervensi pemerintah yang masif dan merata di seluruh kecamatan agar angka pengangguran terkendali secara inklusif,” pungkasnya. (*)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 48 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Suara Pelaku UMKM Sumbar: Butuh Legalitas Dan Keuangan

29 Juli 2026 - 14:45 WIB

Ekonomi Halal Global Harus Dimulai dari Desa dan UMKM

23 Juli 2026 - 14:58 WIB

Kisah Sukses Marno Kembangkan Bakso Lewat Bimtek

25 Juni 2026 - 15:53 WIB

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

31 Mei 2026 - 01:38 WIB

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman
Trending di EKONOMI BISNIS