Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

PENDIDIKAN · 19 Apr 2026 08:01 WIB ·

Empat Pendekar Dusun Toyogiri: Kuliah Bukan Lagi Momok


					Empat Pendekar Dusun Toyogiri: Kuliah Bukan Lagi Momok Perbesar

Tuntang, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Di Dusun Toyogiri, Desa Delik, sebuah perubahan besar sedang terjadi. Bukan soal infrastruktur jalan, melainkan pergeseran mentalitas pemudanya. Empat anak muda dari satu keluarga besar—Annisa, Luthfiana, Raihan, dan Lucky—berhasil mematahkan stigma lama yang menganggap kuliah adalah “penjara” bagi mereka yang sudah nyaman mencari uang.

Mereka membuktikan bahwa ijazah bukan sekadar kertas bertitel, melainkan pengungkit karier. Hebatnya, perjuangan ini dilakukan tanpa meninggalkan tanggung jawab di rumah, mulai dari menyokong keluarga hingga mengelola cicilan motor sebagai sarana kerja.

Pionir dari Lini Produksi
Annisa Ummi Azzahra menjadi pembuka jalan. Sebagai operator QC di sebuah pabrik garmen, ia nekat mendaftar kuliah S1 Sastra Inggris. Hasilnya? Di semester empat, kariernya melesat menjadi Admin QA&QC. Langkah berani ini menular pada Luthfiana Nur Hanifah. Meski memegang beban sebagai anak sulung dengan orang tua di luar pulau, Luthfiana mampu mengatur “lalu lintas” keuangan keluarga hingga lulus cumlaude dari posisi operator menjadi staf PPIC.

Perjuangan Drafter dan Penjual Es
Raihan Muhammad Iqbal dan Syahid Putra Lucky Sadewa melengkapi kisah inspiratif ini. Raihan, anak muda yang sempat “gagap” jauh dari ibu saat pertama merantau, kini menjadi drafter senior yang cermat mengelola keuangan. Sementara Lucky, membuktikan bahwa gelar S1 Bisnis Digital tidak membuatnya gengsi. Sepulang kerja dari perusahaan jamu ternama, ia tetap gigih berjualan es di pinggir jalan demi rumah tangga kecilnya.

Ulet, supel, dan tetap aktif dalam komunitas dusun menjadi ciri khas mereka. Gelar sarjana yang mereka raih tidak membuat mereka menjadi “wah” atau asing di tanah kelahiran sendiri.

Pelajaran dari Pelosok Tuntang
Kisah keempat bersaudara ini menjadi cermin bagi Gen-Z di perdesaan: kuliah itu mudah asal ada kemauan. Pendidikan tinggi di Universitas Ngudi Waluyo bukan sekadar tren, melainkan strategi jitu agar tidak pusing tujuh keliling mencari kerja pasca-kelulusan, karena mereka sudah memiliki pijakan karier yang kuat sejak di bangku kuliah.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 178 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Investasi Gizi Anak Jaar Demi Masa Depan Barito Timur

18 Mei 2026 - 19:38 WIB

Siasat Asrama Mahyeldi: Solusi Adil Pendidikan Anak Desa

17 Mei 2026 - 01:33 WIB

Manajemen Proposal dan RAB Jadi Amunisi Baru TBM Desa di Merangin

16 Mei 2026 - 09:10 WIB

Mencetak Generasi Kritis: Investasi Karakter dari Akar Rumput

10 Mei 2026 - 21:25 WIB

Hardiknas di Wonosalam: Saat Aparat Patungan Demi Sepatu Siswa

7 Mei 2026 - 21:24 WIB

Rumus Kepercayaan Anies Baswedan: Senjata Pemuda Membangun Desa

7 Mei 2026 - 13:03 WIB

Trending di PENDIDIKAN