Maluku [DESA MERDEKA] – Pembangunan sebuah desa tidak melulu soal infrastruktur fisik, melainkan tentang seberapa kokoh fondasi sosial warganya. Di Maluku, ketahanan komunitas akar rumput tersebut dirawat secara turun-temurun melalui tradisi Makan Patita, sebuah ritual makan bersama yang menjadi simbol persaudaraan dan gotong royong di tengah kehidupan masyarakat desa, khususnya saat merayakan Hari Kenaikan Yesus Kristus.
Tradisi luhur ini mengumpulkan warga untuk duduk berdampingan secara lesehan atau di meja panjang adat. Melalui kebiasaan sederhana namun sarat makna ini, masyarakat desa membuktikan bahwa keberagaman dan kerukunan dapat dirawat secara mandiri tanpa sekat-sekat perbedaan.
Kedaulatan Pangan di Atas Meja Adat
Sajian yang dihidangkan dalam Makan Patita mencerminkan potensi riil sektor pertanian dan perikanan desa. Makanan khas seperti papeda, ikan kuah kuning, hingga kasbi yang dinikmati bersama merupakan hasil bumi dan kebun milik warga setempat.
Secara tidak langsung, tradisi ini memamerkan ketahanan pangan tingkat lokal. Kebiasaan mengonsumsi hasil tanah sendiri memperkuat kemandirian ekonomi desa, sekaligus menegaskan bahwa pemenuhan gizi masyarakat pedesaan Maluku dapat dipenuhi dari lingkungan sekitar mereka sendiri.
Pela Gandong sebagai Benteng Desa
Nilai budaya Pela Gandong yang melekat dalam Makan Patita memperkuat solidaritas antarwarga. Di era modern, tradisi ini berfungsi sebagai ruang ruang sosial terbuka untuk meredam potensi konflik horizontal dan mempererat hubungan kekeluargaan antar-tetangga.
Bagi pembangunan desa, keharmonisan ini adalah modal paling mahal. Ketika persaudaraan terjaga, program musyawarah desa dan gotong royong pembangunan fasilitas publik dapat berjalan lebih efektif. Tradisi Makan Patita menjadi bukti nyata bahwa desa di Maluku tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga aktif merawat nilai sosial yang menjadi fondasi utama kehidupan bernegara.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.