Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 24 Mei 2026 16:47 WIB ·

Strategi BUMDes dan Pemda Jaga Pangan Lokal dari Impor


					Strategi BUMDes dan Pemda Jaga Pangan Lokal dari Impor Perbesar

Opini [DESA MERDEKA] Ancaman nyata liberalisasi perdagangan dalam skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) RI-AS kini berada di depan mata, siap menghapus tarif komoditas pangan dan membanjiri pasar dengan produk impor. Menghadapi situasi ini, pemerintah daerah (Pemda) dan komunitas desa tidak boleh tinggal diam ataupun pasrah pada kebijakan makro Jakarta. Wilayah tapak harus segera bergerak mandiri membangun benteng pertahanan guna melindungi produk pangan lokal agar tidak tergilas oleh penetrasi pasar bebas.

Pemerintah daerah memegang kendali penting melalui wewenang regulasi dan anggaran lokal tanpa harus melanggar perjanjian internasional pusat. Pemda dapat menerbitkan peraturan daerah yang mewajibkan aparatur sipil negara (ASN), rumah sakit daerah, hingga jaringan perhotelan untuk menyerap hasil pertanian lokal seperti beras, daging sapi, dan buah-buahan. Selain itu, pengalihan APBD untuk pelatihan massal dan pembangunan infrastruktur pupuk organik di desa-desa menjadi solusi instan saat subsidi pupuk kimia dikurangi. Langkah ini efektif memangkas biaya produksi sehingga harga pangan di tingkat tapak tetap kompetitif. Kerja sama ekonomi business-to-business (B2B) antar-daerah juga perlu difasilitasi untuk memotong jalur distribusi pangan yang panjang.

Di level akar rumput, komunitas desa wajib mengubah pola tani konvensional agar lebih lincah melalui konsolidasi lahan dan pemasaran terpadu lewat BUMDes. Badan Usaha Milik Desa ini harus mengambil peran sebagai agregator tunggal yang mengonsolidasikan hasil panen kolektif petani gurem demi meningkatkan posisi tawar di pasar retail urban. Alih-alih terjebak dalam perang harga dengan produk pangan impor yang murah, desa harus menggalakkan kampanye keunggulan mutu dengan membranding produk mereka sebagai pangan segar non-pengawet yang didistribusikan langsung melalui platform digital. Terakhir, gerakan kedaulatan benih mandiri dan diversifikasi lahan marginal dengan pangan lokal alternatif, seperti sorgum atau umbi-umbian, wajib diperkuat sebagai jaring pengaman konsumsi warga. Proteksi terbaik hari ini bukan lagi memohon penutupan keran impor, melainkan menciptakan ekosistem konsumsi lokal yang loyal serta memangkas rantai tengkulak.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 17 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

LPM dan Ikhtiar Menumbuhkan Partisipasi dari Akar Rumput

18 Juli 2026 - 22:42 WIB

Jelang Musim Tanam, Warga Kedungwaringin Gelar Hajat Bumi

16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 36: Kolaborasi Seni dan Teknologi

8 Juli 2026 - 13:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

4 Juli 2026 - 13:34 WIB

Ruas Jalan Desa Rusak Parah, Warga Loleo Berharap Perhatian Bupati Halmahera Selatan

3 Juli 2026 - 10:37 WIB

Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat

30 Juni 2026 - 12:30 WIB

Trending di RAGAM