Loleo, Halmahera Selatan [DESA MERDEKA] — Kondisi infrastruktur di wilayah pelosok Kabupaten Halmahera Selatan kembali menuai sorotan tajam. Kali ini, jeritan memilukan datang dari warga Desa Loleo, Kecamatan Obi Selatan. Akses jalan utama desa sepanjang kurang lebih 250 meter yang menjadi urat nadi perekonomian, transportasi, dan mobilitas warga kini berada dalam kondisi rusak sangat parah.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, kerusakan struktural tersebut telah mencapai lebih dari 200 meter, menyisakan jalur memprihatinkan yang nyaris tidak lagi menyerupai fasilitas jalan yang layak dan aman bagi manusia.
Kondisi riil di lapangan menunjukkan bahwa jalan beton yang dibangun pada masa sebelum tahun 2010 dan sempat mendapatkan rehabilitasi pada tahun 2017 oleh Kepala Desa Edi Amus tersebut, kini telah hancur total. Di beberapa titik krusial—terutama ruas jalan penghubung menuju kawasan perkebunan warga serta akses vital antardesa menuju Desa Mano—permukaan betonnya telah pecah berantakan hingga menyisakan tumpukan batu karang tajam, tanah, dan sampah yang berserakan.
Berdasarkan dokumentasi visual di lapangan, kerusakan ini begitu ekstrem sehingga kendaraan roda dua sekalipun sama sekali tidak dapat melintas. Lebih memprihatinkan lagi, jalur ini berbatasan langsung dengan bibir pantai, di mana sebagian besar struktur pondasi penguat atau tanggul jalan tampak telah ambrol dihantam abrasi. Keretakan besar membelah sisa-sisa aspal beton yang menggantung rapuh di atas air laut yang jernih.
Ironisnya, di tengah keterbatasan ini, anak-anak kecil dan warga setempat terpaksa tetap nekat menerobos jalur berbahaya tersebut setiap hari demi melakukan aktivitas harian. Tampak anak-anak pesisir harus berjalan telanjang kaki melompati batu-batu tajam pascatangkapan ikan, sementara warga dewasa harus memikul wadah ikan di atas pundak dengan ekstra hati-hati agar tidak tergelincir jatuh ke arah laut atau reruntuhan beton. Fakta-fakta mengejutkan ini terungkap secara benderang saat Tim Irban Investigasi Inspektorat Kabupaten Halmahera Selatan melakukan kunjungan kerja langsung ke Desa Loleo. Tim investigasi menemukan kenyataan pahit bahwa meskipun akses jalan ini telah hancur dan membahayakan jiwa masyarakat, sama sekali tidak ditemukan tanda-tanda atau iktikad baik dari pemerintah desa setempat untuk melakukan upaya perbaikan ataupun pemeliharaan berkala.
Menanggapi pembiaran yang berlarut-larut ini, perwakilan tokoh masyarakat Desa Loleo, Ridwan Murud, menyampaikan kekecewaan dan kecaman keras terhadap sikap Kepala Desa Loleo, Edi Amus. Ridwan menilai pucuk pimpinan desa tersebut sangat tidak peduli dan menutup mata dari penderitaan warganya sendiri. Menurutnya, meskipun Edi Amus telah diberikan amanah yang luar biasa oleh masyarakat untuk menjabat selama tiga periode berturut-turut sejak tahun 2010 silam, nyatanya tidak ada rekam jejak pembangunan infrastruktur yang signifikan, khususnya terkait pemeliharaan fasilitas jalan di Desa Loleo.
Ridwan Murud pun secara terbuka mempertanyakan fungsi, peran, dan tanggung jawab moral dari jajaran pemerintahan desa yang seolah-olah “gaib” dan tidak pernah hadir di kala masyarakat membutuhkan solusi atas fasilitas publik mereka. Oleh karena itu, demi menyelamatkan masa depan desa dan menghentikan ketertinggalan yang semakin dalam, warga Loleo meminta dengan sangat kepada Pemerintah Daerah, khususnya Bupati Halmahera Selatan, untuk segera mengambil langkah tegas dan taktis. Warga mendesak Bupati agar segera menunjuk seorang Karteker (Penjabat) Kepala Desa Loleo yang lebih kompeten, amanah, dan responsif untuk menjalankan roda pemerintahan serta membangun desa dari keterpurukan.
Desakan warga ini bukan tanpa alasan kuat. Mandeknya kepemimpinan di Desa Loleo dilaporkan telah melumpuhkan hampir seluruh lini kehidupan vital masyarakat. Tidak hanya sektor infrastruktur jalan yang telantar, tetapi bidang pelayanan dasar kelangsungan hidup seperti kesehatan masyarakat, pemenuhan fasilitas pendidikan dasar, hingga pembinaan pendidikan keagamaan juga dilaporkan sama sekali tidak tersentuh oleh kebijakan anggaran maupun program kerja pemerintahan desa. Selama bertahun-tahun, warga Desa Loleo dipaksa untuk bertahan hidup dan menjalankan seluruh aspek pemenuhan kebutuhan sosial-keagamaan secara mandiri, bergotong-royong tanpa sedikit pun merasakan kehadiran, campur tangan, maupun dukungan dana dari pemerintah desa mereka sendiri.

Activity:
•Reporter •Advocate (Kandidat Notaris PPAT) •Konsultan Pendidikan Nawala Education (Overseas Study Advisor – Nawala Education) •Lecturer
Experience:
•Reporter & News Anchor TVRI •Medical Reps. Eisai Indonesia •HRD Metro Selular Nusantara
***
“Penghargaan paling tinggi bagi seorang pekerja keras bukanlah apa yang dia peroleh dari pekerjaan itu, tapi seberapa berkembang ia dengan kerja kerasnya itu.” – John Ruskin


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.