Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 8 Jun 2026 19:05 WIB ·

Sinyal Mati Hidup di Desa Tambang, Ekonomi Terancam


					Sinyal Mati Hidup di Desa Tambang, Ekonomi Terancam Perbesar

Laiwui [DESA MERDEKA] Di Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, ada pemandangan absurd: wilayah yang dikelilingi aktivitas tambang besar justru diganggu oleh musuh paling tak terlihat—sinyal internet yang mati-hidup tanpa aba-aba. Bukan sehari dua hari. Ini berulang terus. Dan dampaknya bukan sekadar status WhatsApp gagal terkirim. Roda ekonomi desa berhenti berputar.

Azwar Abubakar, Ketua Asosiasi Dump Truck Kecamatan Obi, tidak bisa tinggal diam. Para sopir truk bawahannya mulai kelimpungan setiap kali jaringan memutus tiba-tiba. Koordinasi logistik macet. Transaksi pembayaran gagal. Administrasi bisnis yang seharusnya instan berubah jadi tebak-tebakan saraf.

“Kami minta Pemkab Halmahera Selatan dan Pemprov Maluku Utara segera panggil manajemen Telkomsel,” ujar Azwar.

Ketika truk berhenti gara-gara sinyal
Kecamatan Obi bukan desa terpencil yang tak tersentuh listrik. Wilayah ini adalah lingkar tambang—aktivitas ekonomi besar berdenyut setiap hari. Ratusan dump truck keluar-masuk mengangkut material. Para sopirnya, sebagian besar warga desa setempat, sudah terbiasa bertransaksi secara digital. Pembayaran bensin, order suku cadang, koordinasi jadwal angkut—semua lewat jaringan.

Masalahnya, jaringan di Obi sering padam secara mendadak. Tanpa peringatan. Tanpa alasan jelas.

“Pemutusan terjadi berulang. Kami tidak diberi tahu apakah ini karena pemeliharaan, gangguan listrik, atau masalah teknis lain,” keluh Azwar.

Dalam kondisi mati sinyal, para sopir terpaksa menunda keberangkatan. Truk-truk berat yang seharusnya bergerak mengangkut hasil tambang mangkrak di parkiran. Rantai pasok dari desa ke pabrik pengolahan tersendat. Kerugian mengalir dari kantong warga desa, bukan dari kantor pusat Telkomsel di kota.

Bukan sekadar sinyal, ini nadi ekonomi desa
Azwar menegaskan: gangguan ini bukan lagi masalah teknis sepele. Ini hantaman langsung pada nadi perekonomian masyarakat desa. Sebab di era digital seperti sekarang, koordinasi logistik, transaksi pembayaran, hingga administrasi bisnis sudah sepenuhnya daring. Ketika koneksi internet terputus mendadak, aktivitas bisnis lokal otomatis lumpuh total.

“Pemerintah harus bertindak taktis. Fasilitasi audiensi dengan Telkomsel,” desaknya.

Asosiasi Dump Truck Obi juga menuntut transparansi. Masyarakat desa berhak tahu akar masalah sebenarnya. Apakah ini kelalaian teknis? Atau ada persoalan kapasitas jaringan yang tidak diimbangi pertumbuhan aktivitas tambang?

Langkah konkret yang diminta: evaluasi menyeluruh terhadap izin operasional dan Service Level Agreement (SLA) Telkomsel di wilayah Obi. Selama ini, hak konsumen desa atas layanan digital yang layak terabaikan.

Yang harus dilakukan sekarang
Pemerintah kabupaten dan provinsi tidak bisa lagi berdalih. Wilayah lingkar tambang seharusnya menjadi prioritas infrastruktur digital, justru karena kontribusinya terhadap pendapatan daerah. Namun masyarakat desa di Obi membuktikan sebaliknya: mereka yang menjadi tulang punggung aktivitas ekonomi justru paling sering menelan pil pahit jaringan putus-nyambung.

Azwar berharap ada kejelasan. Bukan sekadar janji. “Kami ingin tahu kapan masalah ini selesai. Karena setiap hari sinyal mati, ada sopir yang kehilangan penghasilan. Ada keluarga desa yang menahan nafas.”

Untuk warga desa di Obi dan sekitarnya: Jangan diam. Suara kolektif asosiasi, BUMDes, dan perangkat desa sangat diperlukan. Dorong pemerintah desa untuk melayangkan surat resmi ke dinas komunikasi dan informatika kabupaten. Desakan audiensi publik dengan Telkomsel. Karena di era transformasi digital, internet bukan lagi kemewahan—ia adalah jalan raya ekonomi desa. Dan jalan itu tidak boleh terus-menerus rusak.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 85 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

LPM dan Ikhtiar Menumbuhkan Partisipasi dari Akar Rumput

18 Juli 2026 - 22:42 WIB

Jelang Musim Tanam, Warga Kedungwaringin Gelar Hajat Bumi

16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 36: Kolaborasi Seni dan Teknologi

8 Juli 2026 - 13:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

4 Juli 2026 - 13:34 WIB

Ruas Jalan Desa Rusak Parah, Warga Loleo Berharap Perhatian Bupati Halmahera Selatan

3 Juli 2026 - 10:37 WIB

Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat

30 Juni 2026 - 12:30 WIB

Trending di RAGAM