Oleh Deddi Ajir
Keberhasilan pembangunan sering kali dikerdilkan sekadar pada angka serapan anggaran atau kemegahan infrastruktur fisik. Padahal, indikator yang jauh lebih fundamental adalah rasa kepemilikan (sense of belonging) masyarakat terhadap proses tersebut. Membangun jalan atau gedung mungkin hanya butuh hitungan tahun, tetapi menumbuhkan kesadaran warga untuk terlibat memerlukan konsistensi yang panjang.
Di sinilah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) menemukan urgensi eksistensinya. LPM dirancang sebagai jembatan institusional yang mempertemukan aspirasi warga dengan kebijakan birokrasi, memastikan gerak pembangunan bottom-up benar-benar lahir dari kebutuhan riil di tingkat tapak. momentum pelantikan kepengurusan baru DPD LPM Sumatera Barat periode 2025–2030 harus dijadikan titik balik untuk menghidupkan kembali roh kolaborasi ini.
Karakteristik nagari di Sumatera Barat memiliki keunikan tersendiri. Ia bukan sekadar unit tata usaha pemerintahan, melainkan ruang komunal yang diikat oleh nilai musyawarah dan gotong royong. Modal sosial khas Minangkabau inilah yang harus dioptimalkan. Pembangunan tidak akan menyentuh akar masalah jika menempatkan masyarakat adat hanya sebagai objek atau penerima manfaat pasif. Mereka wajib dilekatkan sebagai pelaku utama.
Apalagi, tantangan modernisasi kian kompleks. Urusan desa hari ini telah bergeser dari sekadar perbaikan parit menjadi penguatan ekonomi keluarga, digitalisasi, hingga ketahanan sosial. LPM memiliki ruang lebar untuk memformulasikan potensi lokal—baik pertanian, pariwisata, maupun ekonomi kreatif—melalui wadah inovatif seperti Nagari Creative Hub.
Namun, partisipasi tidak bisa dipaksakan lewat instruksi formal atau seremoni belaka; ia hanya tumbuh subur di atas tanah kepercayaan publik. Ketika warga merasa suaranya diakomodasi dan melihat dampak nyata dari usulannya, swadaya masyarakat akan mengalir secara organik. Pengurus LPM yang baru mengemban tanggung jawab moral ini. Keberagaman latar belakang pengurus—mulai dari akademisi, birokrat, hingga pengusaha—harus dikonversi menjadi energi kolektif untuk menerjemahkan aspirasi menjadi aksi nyata demi kesejahteraan bersama.(DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.