MALANG | DESA MERDEKA – Desa Digital Dengkol menjadi arah baru pembangunan Desa Dengkol, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, di tengah efisiensi anggaran. Melalui Musyawarah Desa (Musdes) Perencanaan Pembangunan Tahunan, pemerintah desa tidak hanya menyusun prioritas pembangunan, tetapi juga merancang transformasi desa yang menghubungkan Sistem Informasi Desa (SID), BUM Desa, ekonomi kreatif, dan pemberdayaan Generasi Z.
Musdes yang berlangsung pada Jumat malam (10/7/2026) di Balai Desa Dengkol menghadirkan Kepala Desa Agus Afandi, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), perangkat desa, RT/RW, PKK, LPMD, Karang Taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, kelompok tani, serta perwakilan pemuda. Kehadiran berbagai unsur tersebut memperkuat prinsip partisipasi dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa) Tahun 2027.

Prioritas Pembangunan Menjawab Kebutuhan Warga
Kepala Desa Dengkol Agus Afandi menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah desa memilih memusatkan anggaran pada program yang langsung menyentuh kebutuhan warga.
“Kami memprioritaskan kesehatan, pendidikan, pencegahan stunting, serta Bantuan Langsung Tunai Dana Desa sebagai bentuk perlindungan sosial bagi masyarakat.”
Selain itu, Agus mengajak masyarakat menjaga semangat gotong royong, keamanan, dan persatuan agar pembangunan tetap berjalan meski menghadapi keterbatasan fiskal.
Camat Singosari yang diwakili Kasi Ekonomi dan Pembangunan, Agus Widodo, juga mendorong Pemerintah Desa Dengkol terus berinovasi.
“Dengan keterbatasan Dana Desa saat ini, desa harus semakin kreatif menggali potensi lokal.”
Pesan tersebut menjadi semangat bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi oleh kemampuan pemerintah desa mengelola potensi dan membangun kolaborasi.
Penanganan Banjir Menjadi Prioritas
Musdes kemudian mengevaluasi RPJM Desa sebagai dasar penyusunan RKP Desa Tahun 2027. Dari berbagai usulan masyarakat, peserta menyepakati penanganan banjir di kawasan permukiman sebagai prioritas pembangunan fisik.
Pemerintah desa akan memfokuskan perbaikan sistem drainase dan infrastruktur pengendali air agar aktivitas masyarakat tidak lagi terganggu saat musim hujan.
Pada saat yang sama, pemerintah desa tetap menjaga komitmen terhadap pelayanan dasar melalui program kesehatan, pendidikan, pencegahan stunting, dan perlindungan sosial.
Desa Digital Dengkol Menghubungkan Data dan Pembangunan
Musdes tidak hanya menghasilkan daftar program tahunan. Forum tersebut juga menetapkan arah pembangunan berbasis Sistem Informasi Desa (SID) sesuai semangat Permendesa PDT Nomor 13 Tahun 2025.
Bagi Pemerintah Desa Dengkol, SID bukan sekadar aplikasi administrasi pemerintahan. Pemerintah desa memanfaatkannya sebagai fondasi Desa Digital Dengkol untuk memperkuat pelayanan publik, meningkatkan transparansi, menyusun kebijakan berbasis data, serta mempercepat pembangunan yang sesuai kebutuhan masyarakat.
Pendekatan tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi antara pemerintah desa, BUM Desa, UMKM, komunitas kreatif, dan generasi muda.

BUM Desa dan Cafe Pelangi Menjadi Ruang Kreatif Generasi Z
Pemerintah Desa Dengkol memperkuat implementasi desa digital melalui sinergi dengan BUM Desa. Salah satu langkah strategisnya ialah mengembangkan Cafe Pelangi sebagai unit usaha yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi kreatif bagi anak muda.
Melalui Cafe Pelangi, pemerintah desa bersama BUM Desa akan menyelenggarakan berbagai kegiatan seperti Fun Run 5K, pelatihan desain grafis, lomba konten kreator, fotografi, videografi, pemasaran digital, hingga kelas kewirausahaan berbasis media sosial.
Program tersebut bertujuan melahirkan Generasi Z yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja dari desa.
Desa Digital Dengkol Menjadi Investasi Masa Depan
Transformasi yang dirancang Pemerintah Desa Dengkol menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak lagi hanya berfokus pada infrastruktur. Pemerintah desa juga membangun sumber daya manusia agar mampu menghadapi perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi.
Sinergi antara Desa Digital Dengkol, Sistem Informasi Desa, BUM Desa, Cafe Pelangi, dan Generasi Z menjadi fondasi lahirnya ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Di tengah efisiensi anggaran, Desa Dengkol membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Justru dari tantangan tersebut lahir strategi pembangunan yang menghubungkan teknologi, partisipasi masyarakat, dan kreativitas generasi muda sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan desa.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.