Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

RAGAM · 30 Jun 2026 12:30 WIB ·

Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat


					Bertaruh Nyawa di Tengah Laut: Potret Darurat Kesehatan Warga Desa Loleo dan Polindes yang Sekarat Perbesar

Loleo, Halmahera Selatan [DESA MERDEKA] — Penderitaan tanpa akhir harus ditelan mentah-mentah oleh warga Desa Loleo, Kecamatan Obi Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan. Di tengah gembar-gembor pemerataan pembangunan ekonomi dan kesehatan, potret pemenuhan hak dasar manusia di desa ini justru berada dalam kondisi darurat yang sangat memprihatinkan. Fasilitas kesehatan satu-satunya, yakni Pondok Bersalin Desa (Polindes) Loleo, kini kondisinya bagaikan bangunan tua yang sekarat dan tidak layak disebut sebagai tempat pelayanan medis.

Kondisi Polindes Desa Loleo saat ini, Selasa (30/06/2026) (dok. Ridwan Murud) 

​Sejak tahun 2022, bangunan Polindes ini mulai mengalami kerusakan struktural yang masif. Atap seng yang bocor membuat ruangan kerap kebanjiran saat hujan turun, berpadu dengan plafon yang telah terlepas di berbagai sudut, sehingga mengancam keselamatan siapa saja di dalamnya. Ironisnya lagi, sejak pertama kali didirikan, fasilitas ini tidak pernah tersentuh oleh jaringan listrik. Kendati usulan pemasangan listrik telah diajukan secara resmi sejak tahun 2025, hingga pertengahan tahun 2026 ini, janji manis realisasi tersebut tidak pernah kunjung terwujud. Akibatnya, demi menjaga asa pelayanan tetap berjalan, bidan piket terpaksa menyambung kabel dari rumah tetangga sekitar hanya untuk memperoleh lampu penerangan alakadarnya.

​Kondisi darurat ini diperparah dengan nihilnya ketersediaan obat-obatan, alat kesehatan (alkes), maupun fasilitas penunjang medis lainnya. Pelayanan kesehatan oleh bidan piket yang bertahan di sana kini hanya sebatas pemeriksaan fisik dasar tanpa tindakan kuratif lanjutan. Ketika warga membutuhkan obat penurun demam sekalipun, mereka harus membelinya ke luar pulau, yakni ke Ibu Kota Kecamatan di Wayaloar atau ke Ibu Kota Kabupaten di Labuha, Pulau Bacan.

Kondisi Polindes Desa Loleo saat ini, Selasa (30/06/2026) (dok. Ridwan Murud) 

Bagi ibu hamil yang hendak melahirkan atau warga yang mengalami kondisi gawat darurat, pilihannya hanya satu: dirujuk melintasi lautan bebas. Akibat lumpuhnya fasilitas penunjang tersebut, kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang menjadi garda utama pemantauan tumbuh kembang anak pun dilaporkan telah mati total alias tidak aktif lagi sejak tahun 2024.

​Upaya untuk mendapatkan kesembuhan pun menjelma menjadi perjalanan taruhan nyawa. Untuk mencapai Ibu Kota Kabupaten, warga harus menumpangi perahu motor atau speedboat dengan waktu tempuh sekitar dua jam dalam kondisi laut tenang. Perjalanan berlanjut dengan transit di Desa Kawasi, sebelum akhirnya menyambung kembali menggunakan speedboat menuju Pelabuhan Kupal di Bacan yang memakan waktu tiga hingga empat jam. Ketika musim ombak tinggi tiba, mengarungi lautan dengan perahu berukuran kecil demi mendapatkan pertolongan medis adalah tindakan yang sangat berisiko dan mengancam keselamatan jiwa.

​”Kami sangat menyesalkan sikap Kepala Desa Loleo yang menutup mata dan sama sekali tidak peduli terhadap kesehatan warganya sendiri. Padahal, dalam dokumen realisasi anggaran desa, jelas-jelas tercantum item anggaran untuk sektor kesehatan. Ke mana uang itu mengalir?” ungkap Ridwan Murud, perwakilan masyarakat Desa Loleo dengan nada penuh kekecewaan.

​Krisis kemanusiaan ini memicu perhatian dari penegak hukum dan pengawas daerah. Pada tanggal 19 dan 20 Juni 2026, Tim Irban Investigasi Inspektorat Halmahera Selatan melakukan audit investigasi khusus dan meninjau langsung kondisi Polindes Desa Loleo yang mengenaskan tersebut. Di hadapan Ketua Tim Irban Investigasi, Yusup Mustakim, Ridwan Murud menegaskan harapannya agar temuan fisik ini dijadikan dasar kuat bagi Pemerintah Daerah untuk segera mengambil tindakan diskresi secara cepat.

Warga mendesak Bupati Halmahera Selatan untuk segera memberikan perhatian ekstra dan menunjuk Karteker (Penjabat) Kepala Desa Loleo. Langkah ini dinilai sangat mendesak demi memulihkan roda pemerintahan desa yang saat ini dilaporkan mati total akibat menghilangnya Kepala Desa Loleo, Edi Amus, yang kabur keluar desa. Edi Amus bahkan secara terang-terangan mangkir dari panggilan Tim Irban Investigasi khusus untuk mengonfirmasi dugaan kuat penyalahgunaan Dana Desa, yang dilaporkan oleh warganya sendiri.

Sembari menunggu proses hukum yang kini tengah bergulir dari tingkat Kejaksaan hingga meja Pengadilan, warga sangat berharap obat-obatan, perbaikan bangunan, serta jaringan listrik dapat segera dihadirkan di Polindes mereka demi menghentikan tragedi kemanusiaan di Obi Selatan ini.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 80 kali

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Melki Laka Lena Dorong Wisata Sejarah Bung Karno di Malaka, Siapkan KUR Rp10 Miliar untuk Pemberdayaan UMKM

22 Juli 2026 - 17:51 WIB

LPM dan Ikhtiar Menumbuhkan Partisipasi dari Akar Rumput

18 Juli 2026 - 22:42 WIB

Jelang Musim Tanam, Warga Kedungwaringin Gelar Hajat Bumi

16 Juli 2026 - 15:18 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 36: Kolaborasi Seni dan Teknologi

8 Juli 2026 - 13:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako

4 Juli 2026 - 13:34 WIB

Ruas Jalan Desa Rusak Parah, Warga Loleo Berharap Perhatian Bupati Halmahera Selatan

3 Juli 2026 - 10:37 WIB

Trending di RAGAM