Episode 28: Musyawarah Desa Terbuka
Sore itu, langit Lembah Pusako berwarna jingga lembut. Bayangan bukit memanjang di atas sawah, seolah alam sedang menunduk dalam doa. Di halaman balai adat, tikar pandan sudah digelar rapi. Di atasnya, duduk berderet para niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang, dan anak nagari. Sebuah papan bertuliskan “Musyawarah Desa Terbuka: Rencana dan Evaluasi Pembangunan Nagari” terpancang di sisi panggung bambu yang sederhana.
Sari memandang suasana itu dengan dada bergetar. Ia tahu, hari ini adalah hari penting. Untuk pertama kalinya, Lembah Pusako menggelar musyawarah terbuka — bukan di ruang tertutup dengan segelintir pejabat, tapi di tengah masyarakat, di bawah langit yang menjadi atap bersama. Semua orang diundang untuk berbicara, bahkan anak muda dan petani kecil.
“Biar suara kecil pun punya ruang,” kata Sari kepada Raka saat mereka mempersiapkan acara pagi tadi. “Karena dari suara kecil itu, kadang muncul kebenaran besar.”
Ketika matahari mulai turun, bunyi gong dipukul tiga kali. Tanda musyawarah dimulai. Suasana hening, hanya suara jangkrik yang terdengar samar. Ketua Kerapatan Adat, Datuk Majo Nan Hitam, berdiri dan membuka pertemuan dengan salam hormat.
“Assalamu’alaikum, anak kemenakan, urang sumando, dan dunsanak semua,” suaranya berat namun berwibawa. “Hari ini kita berkumpul bukan untuk mendengar siapa yang paling pandai, tapi siapa yang paling peduli.”
Kalimat itu disambut anggukan kepala. Di barisan belakang, anak-anak muda duduk bersila sambil memegang buku catatan. Beberapa ibu membawa makanan ringan: lamang tapai, kue lapek bugih, dan air jahe hangat. Musyawarah di Lembah Pusako memang tak pernah kering dari aroma persaudaraan.
Sari berdiri di tengah lingkaran, membawa papan besar yang berisi laporan program nagari setahun terakhir. Di sana tertulis berbagai kegiatan: pelatihan kerajinan, koperasi Rangkiang Lembah, pengembangan wisata ramah lingkungan, dan bantuan modal usaha. Ia menjelaskan satu per satu dengan suara tenang.
“Alhamdulillah, semua berjalan baik,” ujarnya. “Namun tentu belum sempurna. Masih ada jalan berlubang di bagian utara, beberapa anak muda mengeluh sulit mendapatkan akses internet, dan kita perlu memperkuat kembali kesadaran kebersihan.”
Raka menambahkan data dan grafik sederhana, menjelaskan bagaimana pemasukan koperasi meningkat, sementara jumlah pengangguran berkurang. Di layar kain putih yang digantung di depan, mereka memproyeksikan foto-foto kegiatan: ibu-ibu menenun, anak muda menanam pohon, dan wisatawan yang tersenyum di tepi sungai bersih.
Setelah laporan selesai, Sari menutup dengan kalimat yang menggugah:
“Nagari ini milik kita bersama. Kalau satu pohon tumbang, kita semua kehilangan naungan. Kalau satu orang jatuh, nagari ikut pincang. Maka marilah kita bahas masa depan ini tanpa rasa curiga, tanpa rasa lebih, tapi dengan rasa satu.”
Seorang pemuda berdiri dari barisan belakang. Namanya Arif, pengajar muda yang baru kembali dari rantau. Ia mengangkat tangan dan berkata lantang, “Uni Sari, kalau boleh, saya ingin sampaikan sesuatu. Program wisata bagus, tapi anak muda belum banyak dilibatkan dalam pengelolaannya. Banyak di antara kami hanya jadi penonton.”
Sari menatapnya dengan hormat. “Terima kasih, Arif. Ini justru suara yang kita tunggu. Apa usulmu?”
“Saya ingin kita bentuk tim muda nagari. Kami bisa bantu promosi lewat media sosial, membuat konten budaya, dan mengelola pelatihan digital. Dengan begitu, kami ikut merasa memiliki.”
Sorak setuju terdengar dari kelompok pemuda lain. Datuk Majo mengangguk pelan. “Elok benar ide itu. Alam yang indah tak akan dikenal dunia kalau tak ada yang pandai bercerita. Silakan, anak muda. Tunjukkan cara kalian menjaga nagari lewat tangan zaman.”
Sari mencatat saran itu dengan hati hangat. Ia tahu, ini bukan sekadar ide baru — ini tanda kehidupan generasi baru yang mulai berakar di tanah sendiri.
Giliran berikutnya datang dari kelompok petani. Seorang bapak tua bernama Pak Roni, dengan tangan kasar penuh lumpur, mengangkat bicara.
“Nak Sari, awak ndak pandai bicara panjang. Tapi awak minta satu: jangan lupakan sawah. Orang sibuk dengan wisata dan kerajinan, tapi siapa yang jaga padi kalau anak muda semua ke kota?”
Sari menunduk hormat. Ia tahu, kalimat sederhana itu menyentuh jantung persoalan nagari. Ia lalu menjawab, “Benar kata Pak Roni. Tak ada wisata yang indah tanpa sawah yang hijau. Tahun depan kita akan buat program pertanian terpadu, menggabungkan wisata dan pertanian. Pengunjung bisa ikut menanam, belajar menghargai tanah. Anak muda juga bisa belajar dari petani seperti bapak.”
Suara tepuk tangan bergema. Petani tersenyum malu, sementara Raka mencatat rencana itu dalam daftar prioritas pembangunan.
Musyawarah berlanjut hingga malam. Di bawah cahaya lampu minyak, satu per satu warga menyampaikan pendapat. Ada yang membahas air bersih, ada yang bicara soal keamanan malam, ada pula ibu-ibu yang meminta tempat penitipan anak. Tak ada suara yang dianggap remeh. Semua ditanggapi dengan sabar.
Di tengah diskusi itu, seorang bundo kanduang berdiri dengan selendang merah di bahunya. “Anak kemenakan,” katanya lembut, “jangan lupa, di balik semua pembangunan, ada satu hal yang sering terlewat: sopan santun. Banyak tamu datang, tapi kadang anak kita tak lagi menunduk bila lewat di depan orang tua. Kita perlu pendidikan adat kembali.”
Sari mengangguk penuh rasa. “Betul, Uni. Kita buat kelas adat di surau tiap minggu. Biar anak-anak belajar pantun, pepatah, dan cara hormat pada yang tua. Biar pembangunan ini tidak kehilangan akarnya.”
Ketika jam menunjukkan pukul sembilan malam, musyawarah belum juga usai. Tapi tak ada yang ingin pulang. Udara malam yang dingin justru menambah khidmat suasana. Di sela istirahat, beberapa pemuda memainkan talempong, mencairkan ketegangan. Sari duduk di tepi tikar, memandangi wajah-wajah warga yang menyala oleh semangat.
Raka menghampiri. “Lihatlah, Sar. Ini baru namanya pembangunan. Bukan proyek, tapi pertemuan jiwa.”
Sari tersenyum. “Aku hanya takut, semangat ini pudar kalau nanti ada kepentingan lain yang masuk.”
Raka menatapnya dalam. “Kalau nilai sudah ditanam, tak ada kepentingan yang bisa mencabutnya.”
Kalimat itu membuat hati Sari tenang. Ia sadar, musyawarah ini bukan hanya forum administratif, tapi upacara batin di mana nagari belajar mendengarkan dirinya sendiri.
Menjelang akhir acara, Datuk Majo berdiri dan berkata, “Dari dulu orang Minang hidup karena mufakat. Tak ada yang boleh berjalan sendiri. Di nagari ini, suara satu orang sama pentingnya dengan suara seribu orang. Kalau ada perbedaan, itu bukan jurang, tapi jalan menuju pemahaman.”
Lalu ia mengangkat tangan, menutup musyawarah dengan doa. Semua berdiri, tangan bersedekap, wajah menunduk. Angin malam berhembus lembut, membawa doa itu ke langit Lembah Pusako.
“Ya Allah, Engkau yang menumbuhkan padi dari tanah, tumbuhkanlah pula kearifan di hati kami. Jadikan musyawarah ini benih kedamaian yang akan tumbuh sampai ke anak cucu kami.”
Suara aamiin menggema serempak. Setelah itu, warga saling berjabat tangan, tertawa, dan menepuk bahu satu sama lain. Tak ada yang merasa kalah atau menang, karena semua pulang dengan rasa lega.
Di jalan pulang, Sari berjalan bersama Raka melewati sawah yang diterangi bulan. Di kejauhan terdengar suara katak bersahut-sahutan, seperti lagu penutup malam yang panjang. Raka berkata, “Sar, musyawarah ini mengingatkanku pada pepatah lama: bulat air karena pembuluh, bulat kata karena mufakat.”
Sari menatap langit. “Ya, dan mungkin karena itu, nagari kita masih hidup. Karena di sini, setiap kata adalah bagian dari doa.”
Mereka berhenti sejenak di tepi surau. Lampu di dalamnya masih menyala, beberapa pemuda masih berdiskusi. Sari menatap mereka dengan harapan besar.
“Raka,” katanya lirih, “aku merasa malam ini nagari kita seperti pohon yang baru ditanam kembali. Akarnya mulai menyentuh tanah, daunnya mulai mengenal cahaya.”
Raka tersenyum. “Dan kita semua, Sar, hanyalah tukang siramnya.”
Beberapa hari setelah musyawarah, keputusan-keputusan hasil mufakat dipajang di papan pengumuman balai adat. Semua warga bisa membaca: siapa yang bertanggung jawab untuk jalan, siapa yang mengurus koperasi, siapa yang memimpin tim muda digital, dan siapa yang menyiapkan kelas adat di surau. Tidak ada rahasia, tidak ada sekat. Transparansi menjadi budaya baru.
Anak-anak berlarian di sekitar balai, membaca papan pengumuman dengan penasaran. “Uni Sari,” kata seorang bocah kecil, “nama Uni ada di daftar yang jaga kebersihan sungai!”
Sari tertawa. “Itu artinya Uni harus rajin, ya.”
Bocah itu mengangguk serius. “Kalau sungai kotor, ikan marah, kan?”
Sari memeluknya sambil tersenyum. Ia tahu, perubahan sudah mulai menyentuh generasi paling muda. (DA)
Saya seorang pensiuan berpengalaman di bidang pemerintahan dengan kemampuan analisis dan komunikasi yang baik. Terbiasa bekerja secara tim maupun mandiri, saya selalu berkomitmen memberikan hasil terbaik dan terus belajar untuk berkembang.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.