Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 3 Mei 2026 09:57 WIB ·

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 27: Pariwisata Ramah Lingkungan


					Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 27: Pariwisata Ramah Lingkungan Perbesar

Pagi merekah di Lembah Pusako. Kabut menggantung di pucuk pinang, seperti saputangan putih yang dilambaikan alam. Di kejauhan, Gunung Marapi tampak teduh, sementara burung-burung menari di atas sawah yang baru disiram embun. Di tepian jalan, papan kayu bertuliskan “Selamat Datang di Nagari Ekowisata Lembah Pusako” berdiri sederhana. Catnya belum terlalu rapi, tapi semangat yang tertulis di dalamnya sudah jauh melampaui wujudnya.

Sari berdiri di depan gerbang itu, memandang ke arah lembah. Di sebelahnya, Raka memegang peta besar yang digambar tangan, berisi titik-titik potensi wisata yang akan dikembangkan: air terjun Lubuak Siriah, kebun kopi rakyat, hutan bambu, hingga jalur trekking ke puncak bukit tempat surau tua berdiri. Semua itu bukan sekadar tempat indah, tapi bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.

“Raka,” kata Sari pelan, “aku ingin wisata ini tumbuh tanpa melukai alam. Kalau kita cuma kejar jumlah pengunjung, nanti sawah jadi parkiran, hutan jadi tempat sampah.”

Raka mengangguk. Ia tahu kekhawatiran itu beralasan. Banyak desa wisata di tempat lain yang berubah menjadi pasar kebisingan: suara pengeras, plastik berserakan, nilai-nilai hilang ditelan selfie. Mereka tak ingin itu terjadi di sini. Lembah Pusako harus menjadi contoh bagaimana manusia dan alam saling menghormati, bukan saling memanfaatkan.

Maka dimulailah pertemuan panjang di balai nagari. Di sana, para niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, dan pemuda duduk melingkar. Sari memimpin musyawarah dengan sabar, memaparkan rencana pengembangan wisata ramah lingkungan yang berpijak pada falsafah Minang: alam takambang jadi guru — alam terbentang adalah guru kehidupan.

“Kalau kita mau jadikan alam sebagai sumber rezeki,” katanya, “kita juga harus jadi murid yang baik. Murid yang tidak merusak bukunya sendiri.”

Seorang tetua, Datuk Majo Nan Hitam, mengelus janggutnya. “Betul tu, Nak Sari. Tapi kalau tamu datang, mereka kadang tak tahu adat. Mereka bawa kebiasaan sendiri, merokok sembarangan, mandi di sungai tanpa sopan santun. Bagaimana cara awak atur tu?”

Pertanyaan itu mengalir seperti ujian kecil. Sari menatap sekeliling, lalu menjawab, “Kita buat aturan nagari. Bukan larangan yang keras, tapi pedoman yang lembut. Misalnya, sebelum masuk kawasan wisata, pengunjung diberi penjelasan tentang adat setempat. Kita buat pos informasi, dan di sana ada anak nagari yang jadi pemandu.”

Raka menambahkan, “Pemandunya bukan sekadar menunjukkan jalan, tapi juga bercerita tentang nilai-nilai lokal, tentang bagaimana air sungai dipandang suci, bagaimana hutan dianggap rumah bagi roh alam.”

Semua mengangguk setuju. Maka lahirlah kesepakatan: setiap wisatawan yang datang akan disambut dengan siriah dalam carano — tanda penghormatan. Di dalamnya terkandung pesan: datanglah dengan hati yang bersih, tinggalkan tempat ini seperti semula.

 

Hari-hari berikutnya penuh kerja. Pemuda nagari menebas ilalang di jalur trekking, tapi tanpa menebang pohon besar. Para ibu menyiapkan tempat menginap sederhana, bukan hotel beton, melainkan homestay beratap rumbia yang sejuk dan alami. Di tepi sungai, dibangun jembatan kecil dari bambu. Anak-anak tertawa membantu, membawa tali, memegang paku, sementara dari kejauhan terdengar lantunan saluang yang ditiup oleh Pak Ujang, penjaga hutan yang sudah sepuh.

Sari berjalan melewati semua itu, hatinya campur aduk antara bangga dan cemas. Ia tahu, langkah ini berisiko: jika wisata gagal, bisa menimbulkan kekecewaan; tapi jika berhasil, bisa membawa perubahan besar.

Suatu sore, ia duduk di tepi Lubuak Siriah, air terjun kecil yang menjadi kebanggaan nagari. Cahaya matahari jatuh menembus dedaunan, membentuk pelangi kecil di atas air. Seorang gadis kecil datang menghampiri, membawa bunga liar di tangannya.

“Uni Sari,” katanya polos, “apakah nanti banyak orang datang ke sini?”

“Mungkin, Nak,” jawab Sari lembut, “tapi kita harus pastikan mereka datang untuk belajar, bukan merusak.”

Gadis itu mengangguk, lalu menabur bunga ke sungai. “Untuk alam,” katanya pelan.

Sari tersenyum. Ia merasa, generasi baru telah mengerti sesuatu yang dulu harus dijelaskan panjang lebar.

Beberapa bulan kemudian, program wisata mulai berjalan. Setiap minggu, rombongan kecil datang: mahasiswa, pecinta alam, fotografer, hingga keluarga dari luar daerah. Mereka diajak berjalan kaki melintasi sawah, mendengarkan cerita petani tentang filosofi menanam padi, lalu beristirahat di rumah gadang untuk mencicipi nasi singgang dan kopi luwak lokal. Semua dilakukan tanpa plastik, tanpa polusi, dengan kesadaran menjaga kebersihan.

Raka memantau jalannya program dengan cermat. Ia menulis laporan dan mengunggah foto-foto ke laman media sosial nagari. Tak lama, Lembah Pusako mulai dikenal sebagai “Desa Hijau yang Bertutur” — tempat di mana wisata bukan hanya soal pemandangan, tapi juga tentang belajar menghargai kehidupan.

Namun, di balik keberhasilan itu, muncul pula godaan. Sebuah perusahaan besar datang menawarkan investasi. Mereka ingin membangun resort modern di tepi lembah, dengan janji akan membuka lapangan kerja besar-besaran. Proposalnya tampak menggiurkan. Beberapa warga mulai goyah, tergoda oleh bayangan gaji tetap dan fasilitas mewah.

Dalam rapat nagari, suasana menjadi panas. Ada yang mendukung, ada yang menolak. Sari berusaha menenangkan suasana.

“Kalau kita biarkan orang luar membangun resort,” katanya, “apa yang tersisa dari nagari kita? Nanti mereka yang untung, kita yang kehilangan jati diri. Pariwisata ramah lingkungan bukan berarti membangun beton di atas tanah hijau, tapi membangun kesadaran dalam hati manusia.”

Datuk Majo menepuk bahunya. “Anak gadih ini benar,” katanya tegas. “Kalau alam rusak, hilanglah berkahnya. Lebih baik sedikit tapi berkah, daripada banyak tapi menanggung dosa.”

Keputusan pun diambil: menolak tawaran investor luar. Nagari memilih berdiri di atas kaki sendiri, meski perlahan.

Di tengah perjalanan itu, Raka mengembangkan ide baru: bank sampah wisata. Setiap pengunjung diwajibkan membawa pulang kembali sampahnya, dan jika ada yang membantu membersihkan kawasan wisata, mereka diberi cendera mata dari pengrajin lokal. Program itu berjalan sukses. Sungai tetap jernih, jalan setapak bersih, dan masyarakat bangga menjaga lingkungan.

Koran daerah menulis, “Lembah Pusako: Wisata Alam dengan Nilai Adat.” Para akademisi mulai datang untuk meneliti model pengelolaan wisata berbasis masyarakat. Bahkan ada dosen dari Jepang yang datang, tertarik dengan konsep “adat sebagai etika ekologis”.

“Ini bukan sekadar ekowisata,” kata Raka dalam satu wawancara, “ini adalah bentuk spiritualitas baru: menyapa alam dengan hati, bukan dengan kamera.”

Suatu malam, Sari berjalan di tengah kebun kopi bersama beberapa ibu. Bulan purnama menerangi barisan pohon yang wangi. Di kejauhan, lampu-lampu homestay berkelip seperti kunang-kunang. Seorang ibu berbisik, “Dulu kami takut tak ada lagi anak muda yang mau bertani. Kini, setelah wisata datang, mereka malah bangga menunjukkan ladangnya.”

Sari tertawa kecil. “Itu artinya nagari sudah mulai sembuh.”

Namun ia tahu, perjalanan belum selesai. Ia menulis catatan malam itu dalam buku kecilnya:

“Menjaga alam adalah ibadah. Tapi lebih dari itu, ia adalah cara menjaga martabat manusia. Karena ketika pohon tumbang, doa pun kehilangan tempat berteduh.”

Setahun kemudian, Lembah Pusako dinobatkan sebagai Desa Wisata Ramah Lingkungan Terbaik di Sumatera Barat. Penghargaan itu diterima dengan sederhana: tanpa pesta besar, hanya doa bersama di halaman surau. Sari dan Raka duduk berdampingan, memandang bintang yang bertebaran di langit nagari.

“Raka,” kata Sari pelan, “kadang aku heran, kenapa orang dari luar jauh-jauh datang ke sini?”

Raka tersenyum. “Karena mereka mencari sesuatu yang hilang di kotanya: keseimbangan.”

Sari terdiam. Angin malam menyentuh wajahnya lembut. Ia merasa, di sinilah arti sebenarnya dari pariwisata — bukan sekadar mengunjungi tempat baru, tapi menemukan kembali bagian diri yang lama hilang.

Kini, Lembah Pusako bukan lagi sekadar desa di lembah gunung. Ia telah menjadi cermin kecil tentang bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa saling melukai. Wisatawan datang, belajar, lalu pulang dengan membawa pelajaran: bahwa kebahagiaan tidak harus dibeli, cukup dirasakan bersama dalam keheningan alam.

Di sebuah papan kecil di pintu keluar kawasan, tertulis pesan yang dibuat anak-anak nagari:

“Terima kasih sudah datang. Jangan tinggalkan jejak, tinggalkan doa.”

Dan di bawahnya, ditulis dengan huruf kecil:

“Alam takambang jadi guru — selama kita mau jadi muridnya.”

(DA)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Etika Jurnalisme: Pilar Penjaga Marwah Pembangunan dari Desa

3 Mei 2026 - 12:13 WIB

Kepala Desa Jarang Ngantor Jadi Ancaman Serius Pembangunan

24 April 2026 - 22:13 WIB

Ekonomi Digital Desa: Koperasi Merah Putih Tembus Pasar Dunia

23 April 2026 - 09:32 WIB

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Optimisme Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Bukan Beban Anggaran, Pers Adalah Perisai Antikorupsi Desa

21 April 2026 - 12:33 WIB

Trending di RAGAM