Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Belajar sejarah kini tak lagi membosankan di balik meja kayu. Sebanyak 20 guru muda dan siswa yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran IPS Kelompok 05 dari Kecamatan Tuntang dan Beringin, melakukan aksi nyata dengan “menyulap” Benteng Willem I Ambarawa menjadi ruang kelas terbuka pada Kamis (30/4/2026). Langkah ini menjadi jawaban atas jenuhnya metode hafalan teori di sekolah pedesaan.
Dipandu oleh Ketua MGMP IPS, Catur, rombongan pendidik ini menelusuri setiap sudut benteng yang dibangun sejak 1834. Inisiasi ini bertujuan memberikan pengalaman visual nyata bagi guru yang latar belakang studinya tidak linier dengan pelajaran sejarah, agar mereka tetap mampu mengajar secara mendalam melalui observasi langsung.

Menelusuri Jejak Kelam di Balik Gedung Simetris
Benteng yang dibangun mulai tahun 1834 atas inisiasi Jenderal Van Den Bosch ini menyimpan arsitektur simetris yang mengagumkan. Terdapat empat gedung trapesium di empat penjuru mata angin utama (utara, timur, selatan, barat) yang dahulu berfungsi sebagai gudang logistik pangan dan perang.
Sejarah mencatat, benteng yang diresmikan tahun 1835 ini awalnya adalah barak militer dengan kapasitas 2.000 prajurit kolonial. Namun, memasuki era 1900-an, fungsinya bergeser menjadi penjara bagi tahanan politik pergerakan nasional. Kelamnya masa pendudukan Jepang di tahun 1942 juga membekas di sini, di mana benteng sempat menjadi kamp tawanan perang bagi tentara Belanda serta para Jugun Ianfu.

Media Sosial: Senjata Baru Promosi Wisata Daerah
Selain misi edukasi, para guru dan siswa didorong menjadi “agen marketing” bagi aset wisata Kabupaten Semarang. Dengan membagikan dokumentasi kunjungan ke media sosial, mereka berharap pesona Fort Willem I bisa menjangkau dunia internasional. Strategi ini dianggap efektif untuk mempromosikan wisata daerah tanpa biaya mahal.
Kunjungan ini diharapkan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di wilayah penyangga untuk menggalakkan metode outing class. Dengan merasakan langsung hawa di dalam bastion pengintai musuh, siswa diharapkan tidak hanya menghafal angka tahun, tetapi juga memiliki kebanggaan atas identitas sejarah di tanah kelahirannya sendiri.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.