Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

JALAN JAJAN · 22 Okt 2025 13:37 WIB ·

Benteng Ambarawa: Jejak Militer Kolonial dan Sekutu


					Benteng Ambarawa: Jejak Militer Kolonial dan Sekutu Perbesar

Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Fort Willem I, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa, bukan sekadar struktur tua. Situs bersejarah yang luasnya mencapai 25 hektar ini adalah saksi bisu perjalanan politik dan militer empat era: kolonial Belanda, pendudukan Jepang, masa Sekutu, hingga menjadi penjara pascakemerdekaan.

Dibangun pada tahun 1834–1835, benteng ini awalnya berfungsi sebagai kamp militer (kem) utama Belanda, khususnya untuk menampung tentara Tamtama dan Bintara. Bangunan-bangunan di benteng ini memiliki arsitektur khas Eropa dan didirikan tanpa menggunakan semen. Sebagai gantinya, pelekat yang digunakan adalah campuran bata merah, kapur, dan tetes tebu, sebuah resep kuno yang mampu membuat tembok luar memiliki ketebalan hingga minimal satu meter, bahkan mencapai 2,25 meter di beberapa bangunan induk.

Saksi Bisu Tiga Era Penjajahan
Fort Willem I memiliki sejarah panjang dalam konflik geopolitik regional. Pada era Belanda (1834–1942), benteng ini adalah markas militer utama di Jawa Tengah. Namun, fungsi benteng ini berubah drastis pada masa pendudukan Jepang (1943–1944).

Salah satu bangunan di kompleks ini, yang kini difungsikan sebagai toilet, menyimpan kisah kelam. Bangunan berkapasitas 35 kamar ini dulunya adalah tempat penyekapan perempuan-perempuan Asia Tenggara dan Belanda yang dipaksa menjadi budak seks (Jugun Ianfu) tentara Jepang. Selain itu, kompleks benteng juga sempat difungsikan sebagai penjara interniran bagi keluarga tentara Belanda.

Setelah Jepang pergi, tentara Sekutu sempat menduduki benteng ini. Pada masa kemerdekaan, kompleks ini sempat digunakan sebagai penjara militer dan umum. Di dalam kompleks ini juga terdapat makam ulama besar sekaligus pejuang, Mbah Mahfud Salam, ayah dari Kiai Sahl Mahfud dari Pati.

Transformasi Menuju Destinasi Internasional
Saat ini, Benteng Fort Willem I sedang menjalani revitalisasi. Meskipun beberapa bagian seperti tangga dan besi pagar sudah diganti karena pelapukan, banyak elemen seperti lantai batu orisinal dan kusen kayu jati masih dipertahankan keasliannya. Kawasan yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi ini dilarang dirusak.

Salah satu bangunan yang dulunya merupakan barak Tamtama, kini direnovasi untuk keperluan wisata. Bangunan lain diubah menjadi musala.

Kompleks seluas 25 hektar ini kini dipersiapkan menjadi destinasi wisata internasional. Revitalisasi ini mencakup peningkatan fasilitas seperti toilet dengan standar global, dan kesiapan venue untuk acara besar. Rencananya, kawasan benteng akan digunakan untuk pertunjukan musik atau konser, dengan penambahan panggung dan tenant kuliner.

Upaya ini menegaskan komitmen pemerintah daerah dan pusat untuk memanfaatkan warisan sejarah sebagai aset strategis untuk memajukan pariwisata dan ekonomi kreatif, sekaligus menjamin kisah sejarah Benteng Ambarawa yang kompleks tidak hilang ditelan waktu. Pengawasan dan pengelolaan benteng kini ditangani oleh petugas khusus untuk menjamin pelestarian situs bersejarah ini.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 249 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Satu Abad Jam Gadang, Momen Kebangkitan Wisata Minang

30 Mei 2026 - 05:43 WIB

Paket Wisata Hotel Mewah Wajib Gandeng Desa Wisata

17 Mei 2026 - 21:31 WIB

Mentawai: Menata Surga Dunia Agar Desa Tak Terpinggirkan

13 Mei 2026 - 09:40 WIB

Terobosan Guru MGMP IPS: Ubah Benteng Tua Jadi Ruang Kelas

2 Mei 2026 - 08:19 WIB

Bandara Mentawai Diperpanjang Akses Wisata Desa Kian Terbuka

29 April 2026 - 20:40 WIB

Vila Bodong Menjamur, Desa Hanya Jadi Penonton?

26 April 2026 - 13:07 WIB

Trending di JALAN JAJAN