Menu

Mode Gelap
Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa Sultan HB X: Desa Adalah Fondasi Budaya dan Ekonomi

RAGAM · 20 Apr 2026 22:34 WIB ·

Hentakan Kuntau Bonerate: Memuliakan Pemimpin dengan Ketulusan Adat


					Oplus_16908288 Perbesar

Oplus_16908288

Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESAMERDEKA] – Tradisi Penyambutan Kuntau Bonerate kembali berdenyut di halaman Kantor Camat Pasimarannu, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Minggu (19/4/2026). Di bawah langit pulau yang tenang, ruang terbuka itu bertransformasi menjadi panggung budaya yang sakral bagi masyarakat untuk memuliakan pemimpin melalui ketulusan adat. Bukan protokol kaku atau panggung mewah yang menyambut kedatangan Bupati Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali, melainkan ketulusan yang terukir dalam gerak.

Plt Camat Pasimarannu mengalungkan sarung adat kepada Bupati Kepulauan Selayar dalam Tradisi Penyambutan Kuntau Bonerate.
Penghormatan Adat: Plt Camat Pasimarannu saat mengalungkan sarung adat sebagai simbol penyambutan hangat masyarakat kepada Bupati Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali, di halaman Kantor Camat, Minggu (19/4).

Kehadiran bupati seketika memecah kesunyian menjadi simfoni gendang yang saling menyahut. Dua penabuh gendang berhadapan, tangan mereka menari cepat menciptakan dialog ritmis yang menggetarkan udara. Ini bukan sekadar musik penyambutan, melainkan simbol harmoni desa: tentang bagaimana hubungan pemimpin dan rakyat dibangun dengan cara saling mengisi, bukan mendominasi.

Filosofi Pelindung dalam Tradisi Penyambutan Kuntau Bonerate

Aksi pesilat Kuntau di atas karpet merah dalam Tradisi Penyambutan Kuntau Bonerate untuk Bupati Kepulauan Selayar
Jurus Penghormatan: Seorang pesilat Kuntau memperagakan gerakan sakral di atas karpet merah sebagai simbol perlindungan dan penyambutan hangat masyarakat Bonerate kepada rombongan Bupati, Minggu (19/4).

Di tengah lingkaran warga, dua pesilat Kuntau tampil dalam kesahajaan. Tanpa atribut berlebihan, gerakan mereka yang luwes namun bertenaga menyatu dengan tanah Bonerate. Setiap gerak Kuntau mengandung filosofi mendalam bahwa kekuatan sejati hadir untuk menjaga dan melindungi. “Kalau gendang sudah saling jawab begini, itu tanda kita sambut dengan adat—bukan sekadar menerima, tapi memuliakan,” tutur Hamsin (42), Ketua BPD Desa Lamantu, penuh khidmat.

Penghormatan ini berlangsung dua arah. Bupati Natsir Ali memilih berhenti sejenak, memberikan ruang bagi para pesilat menyelesaikan “pesan” mereka sebelum melangkah lebih jauh. Sikap diam yang tertahan ini menunjukkan bahwa pemimpin pun menaruh hormat yang sama besarnya kepada adat dan rakyatnya.

Pertemuan Batin Rakyat dan Pemimpin

Bupati Kepulauan Selayar Muhammad Natsir Ali menyaksikan dari dekat peragaan pesilat dalam Tradisi Penyambutan Kuntau Bonerate.
Kedekatan Tanpa Sekat: Bupati Muhammad Natsir Ali tampak menyimak dengan khidmat atraksi silat Kuntau, mencerminkan harmoni dan hubungan batin yang erat antara pemimpin dan masyarakat di Pulau Bonerate.

Di pelataran beton yang menjelma menjadi panggung budaya tersebut, jarak antara penguasa dan rakyat meluruh. Masyarakat menyerahkan cinderamata secara langsung—sebuah bentuk kepercayaan yang dititipkan tanpa perantara birokrasi yang rumit. Di Bonerate, penghormatan tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari keyakinan sederhana: siapa pun yang datang dengan niat baik akan dimuliakan oleh adat.

Hentakan kaki pesilat mungkin telah berakhir dan suara gendang telah mereda, namun getaran ketulusan pagi itu masih tertinggal. Pulau Bonerate telah membuktikan bahwa kemandirian desa juga berarti kemandirian dalam menjaga marwah dan jati diri di tengah arus zaman yang kian modern.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 607 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Asa dari Kalaotoa: Saat Bupati Peluk Keluhan Warga

22 April 2026 - 10:54 WIB

Asa Petani Selayar: Jagung Bersemi, Kelapa Menanti Data

21 April 2026 - 18:24 WIB

Bukan Beban Anggaran, Pers Adalah Perisai Antikorupsi Desa

21 April 2026 - 12:33 WIB

Luka di Bacan Barat: Saat Dana Kesehatan Desa Dikorupsi

20 April 2026 - 22:18 WIB

Bukan Sekadar Plakat: Vasko Ruseimy dan Solidaritas Kebencanaan Sumbar

17 April 2026 - 14:54 WIB

Jejak Sunyi di Lembah Pusako Episode 26: Menggali Potensi Kerajinan

16 April 2026 - 02:09 WIB

Trending di RAGAM