Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan [DESAMERDEKA] – Tradisi Penyambutan Kuntau Bonerate kembali berdenyut di halaman Kantor Camat Pasimarannu, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Minggu (19/4/2026). Di bawah langit pulau yang tenang, ruang terbuka itu bertransformasi menjadi panggung budaya yang sakral bagi masyarakat untuk memuliakan pemimpin melalui ketulusan adat. Bukan protokol kaku atau panggung mewah yang menyambut kedatangan Bupati Kepulauan Selayar, Muhammad Natsir Ali, melainkan ketulusan yang terukir dalam gerak.

Kehadiran bupati seketika memecah kesunyian menjadi simfoni gendang yang saling menyahut. Dua penabuh gendang berhadapan, tangan mereka menari cepat menciptakan dialog ritmis yang menggetarkan udara. Ini bukan sekadar musik penyambutan, melainkan simbol harmoni desa: tentang bagaimana hubungan pemimpin dan rakyat dibangun dengan cara saling mengisi, bukan mendominasi.
Filosofi Pelindung dalam Tradisi Penyambutan Kuntau Bonerate

Di tengah lingkaran warga, dua pesilat Kuntau tampil dalam kesahajaan. Tanpa atribut berlebihan, gerakan mereka yang luwes namun bertenaga menyatu dengan tanah Bonerate. Setiap gerak Kuntau mengandung filosofi mendalam bahwa kekuatan sejati hadir untuk menjaga dan melindungi. “Kalau gendang sudah saling jawab begini, itu tanda kita sambut dengan adat—bukan sekadar menerima, tapi memuliakan,” tutur Hamsin (42), Ketua BPD Desa Lamantu, penuh khidmat.
Penghormatan ini berlangsung dua arah. Bupati Natsir Ali memilih berhenti sejenak, memberikan ruang bagi para pesilat menyelesaikan “pesan” mereka sebelum melangkah lebih jauh. Sikap diam yang tertahan ini menunjukkan bahwa pemimpin pun menaruh hormat yang sama besarnya kepada adat dan rakyatnya.
Pertemuan Batin Rakyat dan Pemimpin

Di pelataran beton yang menjelma menjadi panggung budaya tersebut, jarak antara penguasa dan rakyat meluruh. Masyarakat menyerahkan cinderamata secara langsung—sebuah bentuk kepercayaan yang dititipkan tanpa perantara birokrasi yang rumit. Di Bonerate, penghormatan tidak lahir dari pidato panjang, melainkan dari keyakinan sederhana: siapa pun yang datang dengan niat baik akan dimuliakan oleh adat.
Hentakan kaki pesilat mungkin telah berakhir dan suara gendang telah mereda, namun getaran ketulusan pagi itu masih tertinggal. Pulau Bonerate telah membuktikan bahwa kemandirian desa juga berarti kemandirian dalam menjaga marwah dan jati diri di tengah arus zaman yang kian modern.

kontributor Desamerdeka.id wilayah Sulawesi Selatan. Aktif meliput isu-isu sosial, pemerintahan desa, dan dinamika pembangunan masyarakat pesisir.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.