Lampung Timur, Lampung [DESA MERDEKA] – Di tengah hiruk-pikuk politik nasional, sebuah gerakan fundamental sedang tumbuh dari Lampung Timur. Putri Proklamator RI, Ayu Gembirowati Fransisca, secara strategis memilih desa sebagai titik berangkat untuk membangkitkan kembali kejayaan Indonesia. Melalui Pelatihan Calon Wali Desa Program Portal XIII Bung Karno, ia sedang mencetak arsitek pembangunan masa depan yang akan menjadi ujung tombak Indonesia Emas 2045.
Pelatihan yang digelar di Gedung Garuda Galeri Bung Karno (GBK) ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai penjuru daerah. Menariknya, fokus pelatihan ini bukan sekadar administrasi birokrasi, melainkan penguasaan tata kelola sumber daya alam dan manusia yang berdaulat, serta implementasi program padat karya untuk desa-desa tertinggal.
Desa Sebagai Pondasi “Indonesia Mercusuar Dunia”
Sudut pandang yang diusung Ayu Gembirowati melampaui pakem pembangunan konvensional. Baginya, desa adalah fondasi utama untuk mewujudkan visi “Indonesia Mercusuar Dunia”. Program ini merupakan kelanjutan dari Dialog Kebangsaan yang menegaskan bahwa era tinggal landas Indonesia harus dimulai dengan kepemimpinan desa yang bersih dan berintegritas.
“Dialog Kebangsaan ini kami gagas untuk memperkuat rasa nasionalisme dan integritas bangsa dalam membangun Indonesia yang bersih dan berdaulat,” ujar Ayu dalam keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).
Ayu menekankan bahwa calon wali desa harus memiliki kemampuan mengelola potensi desa secara berkelanjutan. Kepemimpinan tingkat desa dianggap sangat krusial karena di sanalah nilai-nilai Pancasila dan semangat gotong royong diuji secara nyata dalam menghadapi krisis pangan maupun tantangan ekonomi global.

Sinkronisasi Asta Cita dan Ajaran Bung Karno
Gerakan ini juga menjadi jembatan antara visi historis Bung Karno dan arah strategis pemerintahan saat ini. Pelatihan ini secara eksplisit mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto, terutama dalam misi pencegahan korupsi di tingkat akar rumput dan pelestarian sumber daya alam nasional.
Menurut Ayu, nilai-nilai ajaran Bung Karno tidak boleh hanya berhenti sebagai artefak sejarah atau slogan di buku-buku lama. “Kami ingin membangkitkan kembali semangat cinta tanah air sebagai bekal membangun masa depan,” tegasnya. Implementasi nyata dari semangat ini adalah dengan memastikan dana desa dan aset desa dikelola tanpa celah korupsi oleh pemimpin yang memiliki karakter kuat.
Rangkaian gerakan literasi dan kepemimpinan ini tidak berhenti di Lampung. Sebagai langkah berkelanjutan, Ayu Gembirowati dijadwalkan hadir kembali dalam Dialog Kebangsaan dan Bedah Buku di Blitar pada Juni 2026 mendatang. Gerakan ini seolah memberi pesan kuat kepada publik: jika ingin melihat Indonesia yang adidaya, mulailah dengan membenahi kepemimpinan di tingkat desa.
Redaksi Desa Merdeka


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.