Malaka, Nusa Tenggara Timur [DESA MERDEKA] – Impian warga Desa Wesey dan Desa Umanen Lawalu untuk melihat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mereka mandiri melalui peternakan ayam kini kandas. Ratusan ekor ayam petelur dan pedaging yang didanai uang rakyat dilaporkan mati massal. Ironisnya, di tengah bangkai ternak yang bergelimpangan, terjadi aksi saling bantah antara para kepala desa dan Dinas Peternakan Kabupaten Malaka terkait siapa yang paling bertanggung jawab atas tragedi ini.
Kasus ini mencuat setelah sekitar 200 hingga 300 ekor ayam di dua desa tersebut mati sia-sia. Pihak desa berdalih masih menunggu rekomendasi petugas, namun Dinas Peternakan justru membongkar fakta sebaliknya: tidak ada koordinasi sama sekali sejak awal proyek dimulai.
Lempar Tanggung Jawab di Atas Bangkai Ternak
Kepala Desa Wesey mengakui kematian ayam petelur siap produksi di wilayahnya mencapai 300 ekor. Ia mengklaim rencana pengadaan ulang tahun ini terhambat karena menunggu rekomendasi dari penyuluh peternakan. Namun, klaim ini dibantah keras oleh Kepala Dinas Peternakan Malaka, Matilde Seran.
Matilde menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menerima surat permintaan pendampingan maupun konsultasi teknis dari pemerintah desa terkait program BUMDes tersebut. “Mereka membawa-bawa nama kami, padahal surat saja tidak pernah masuk. Bagaimana mungkin bilang menunggu rekomendasi?” tegas Matilde dengan nada kecewa.
Manajemen BUMDes yang “Gelap”
Dugaan adanya salah urus semakin kuat setelah mantan Ketua BUMDes setempat buka suara. Ia mengaku tidak dilibatkan dalam proses pengadaan ayam pedaging di desanya. Akibatnya, ia tidak mengetahui standar kualitas kandang maupun pakan yang diberikan, hingga akhirnya seluruh ternak habis tak tersisa.
Petugas dinas memang rutin melakukan vaksinasi ke desa-desa, namun program tersebut ditujukan untuk ternak milik masyarakat umum, bukan pendampingan khusus BUMDes yang bersifat komersial. Ketidakhadiran pendampingan ahli pada proyek desa berskala besar ini menjadi lubang maut bagi keberlangsungan ekonomi masyarakat.
Dampak Nyata Bagi Ekonomi Warga
Kegagalan ini bukan sekadar urusan ayam yang mati, melainkan hilangnya peluang pendapatan bagi desa. Tanpa adanya transparansi dan koordinasi teknis dengan dokter hewan resmi, program BUMDes hanya akan menjadi lubang hitam yang menelan dana desa tanpa hasil.
Kejadian di Malaka ini menjadi pelajaran pahit bagi desa lain: bahwa membangun usaha bukan hanya soal membeli bibit, tapi soal membangun integritas dan kerja sama antar-lembaga demi menyelamatkan masa depan ekonomi warga desa.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.