Semarang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Gerakan literasi di Kabupaten Semarang mengambil langkah strategis dengan menginisiasi pelatihan mendongeng bagi ibu-ibu, sebuah upaya untuk mengembalikan fungsi tradisional orang tua sebagai pendidik utama di tengah gempuran teknologi. Kelompok Duta Literasi Kabupaten Semarang, yang diinisiasi oleh generasi muda, menggelar sesi kedua pelatihan di Desa Tuntang, menyasar ibu-ibu PKK setelah sebelumnya berfokus pada guru SMP di Ambarawa.
Tri Astuti Ariwati, S.Pd., M.Pd., seorang Pengawas SMP Kabupaten Semarang yang juga menjadi Divisi Penerbitan Duta Literasi, menegaskan pentingnya program ini. Ia menyoroti bagaimana kebiasaan mendongeng sebelum tidur kini telah tergeser oleh gadget dan YouTube, yang berpotensi menjauhkan ikatan psikologis antara ibu dan anak.
“Mendongeng secara tradisional, harapannya kita secara psikologis lebih dekat dengan anak kita. Dikatakan bahwa ibu adalah madrasah yang pertama dan utama,” ujar Tri Astuti, yang akrab disapa Bu Wiwin. Ia menambahkan bahwa upaya ini adalah bagian dari penguatan pendidikan karakter, yang seharusnya dimulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Ketika ibu mampu menyisipkan nilai-nilai baik melalui dongeng, karakter anak diharapkan menjadi kuat.
Program Duta Literasi ini tidak hanya berfokus pada membaca dan mendengarkan, tetapi juga pada aspek literasi digital dan penulisan. Bu Wiwin dan rekannya di Divisi Penerbitan, Elia Lingling Melati (Guru SMP N 2 Tengaran), mendorong anak muda dan masyarakat agar tidak hanya menjadi konsumen pasif media sosial (sekadar scroll TikTok), melainkan juga menjadi produsen konten yang bermanfaat (content creator).
Elia Lingling Melati, yang telah sukses menulis buku antologi dan buku solo tentang praktik baik pembelajaran, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi paket lengkap: pelatihan menulis dongeng diikuti dengan praktik mendongeng. Duta Literasi sendiri telah rutin menyusun buku antologi penulis lokal, yang diberi nama Antologi Duta Literasi (ADL), dan kini sudah mencapai proyek yang keempat.
Meskipun memiliki potensi dan aktivitas yang tinggi, para penggiat literasi ini menyuarakan sebuah keluhan politik yang signifikan: kurangnya publikasi dan dukungan pendanaan. Mereka berharap pemerintah daerah, terutama dinas terkait dan pemerintah desa, dapat memberikan dukungan moril maupun materiil agar program ini bisa disebarluaskan.
“Ini loh Kabupaten Semarang itu enggak hanya industri saja yang terkenal, enggak hanya pariwisata, tapi pendidikan kami juga oke,” tegas Bu Wiwin, seraya menekankan perlunya eksposur terhadap prestasi-prestasi positif.
Duta Literasi juga mengimbau agar pemerintah desa memanfaatkan anggaran Dana Desa untuk mengundang dan mendukung kegiatan literasi. Mereka percaya bahwa pendidikan sejati, yang mencakup lebih dari 75 persen perkembangan anak, berada di tangan keluarga, dan peran ibu sebagai pendidik fundamental harus diperkuat. Tanpa dukungan yang memadai, langkah kaki gerakan literasi di daerah akan terhambat oleh keterbatasan logistik dan dana.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.