Opini [DESA MERDEKA] – Jika Anda berkunjung ke Kampung Selang, Desa Bantarsari, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, aroma pedesaan yang bersinggungan dengan geliat sub-urban akan langsung terasa. Di wilayah yang didominasi oleh hamparan sawah dan kepakan sayap dari peternakan ayam besar di jalur masuk kampung ini, sebuah aktivitas ekonomi unik terhampar saban hari.
Bukan pabrik manufaktur megah dengan mesin otomatis, melainkan sebuah lapak pemilahan limbah padat sisa produksi milik pengusaha lokal, H. Awan—atau yang akrab disapa warga dengan sebutan Bos Awan. Di sini, sampah kering non-domestik seperti sisa kain perca industri garmen, plastik kemasan rijek, hingga kardus-kardus tebal disulap menjadi tumpukan rupiah.
Jaring Pengaman Ekonomi Lintas Desa
Bagi emak-emak dan para lansia di Kampung Selang, lapak Bos Awan adalah katup penyelamat ekonomi keluarga. Keterbatasan fisik dan faktor usia membuat mereka mustahil menembus ketatnya syarat masuk kawasan industri canggih di Cikarang. Namun di lapak ini, pintu terbuka lebar.
Setiap pagi, suasana riuh langsung terasa. Tangan-tangan cekatan memilah mana plastik bersih yang bisa disetor ke pabrik daur ulang, dan mana material sisa yang tak lagi punya nilai jual.
Aktivitas sortir ini diakui Hamdani, warga setempat, sangat membantu menambah penghasilan harian warga dari berbagai kampung. Bagi ibu-ibu, upah sortir cukup untuk mengamankan harga cabai, sementara bagi bapak-bapak membantu menyambung kebutuhan rokok.
Menghitung Tumpukan Rupiah di Balik Sampah
Kalkulasi potensi ekonomi dari aktivitas ini rupanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Jika merujuk pada data publik Bank Sampah Induk Patriot (BSIP) di wilayah Bekasi, pengelolaan limbah padat kering kering terbukti memiliki nilai valuasi makro yang tinggi. Data menunjukkan bahwa setiap 130 ton limbah padat yang dipilah mampu menghidupkan sirkulasi uang hingga Rp300 juta per bulan di tingkat akar rumput.
Secara matematis, setiap 1 ton sampah kering industri bernilai ekonomis sekitar Rp2,3 juta. Jika lapak berskala lokal seperti milik H. Awan ini mampu menyerap rata-rata 5 hingga 10 ton limbah sisa produksi per bulan, maka ada potensi perputaran uang tunai mandiri sebesar Rp11,5 juta hingga Rp23 juta per bulan. Angka yang sangat realistis untuk menjaga dapur puluhan kepala keluarga di Kampung Selang tetap mengepul tanpa bergantung pada bantuan sosial pemerintah.
Meluruskan Teka-Teki “Dinasti” Kang Abuy
Bos Awan menyerahkan operasional lapak kepada pria kepercayaan bernama Bang Abuy. Nama “Abuy” ini sempat memicu kasak-kusuk jenaka di warung kopi. Pasalnya, warga sering tertukar dan mengira sang pengelola lapak adalah penguasa politik setempat.
Perlu diluruskan agar tidak menjadi gosip politik desa: Pj Kepala Desa Bantarsari yang sah dan bertugas memimpin wilayah tersebut secara birokrasi adalah Iman Sahroni, S.Tr.E.
Sementara itu, sosok “Kang Abuy” yang populer sebagai kepala desa sebenarnya bertugas di Desa Bantarjaya—desa tetangga yang letaknya memang saling beririsan. Jadi, Bang Abuy pengelola lapak murni hanya memiliki kesamaan nama lokal yang kebetulan berkarisma setingkat pejabat.
Berkah Siang Hari, Dilema di Malam Hari
Di balik limpahan berkah finansialnya, lapak ini menghadapi tantangan besar terkait infrastruktur lokal dan kelestarian lingkungan. Akses jalan desa yang terbatas serta minimnya armada pengangkutan resmi menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sering kali membuat pengelola mengambil jalan pintas.
Residu atau sisa material kain dan plastik yang benar-benar tidak laku dijual terpaksa menumpuk. Akibatnya, beberapa kali muncul laporan dari investigasi media lokal mengenai aktivitas pembakaran sisa limbah padat pada malam hari. Kepulan asap hitam pekat dari tumpukan terbakar ini sempat memicu batuk-batuk dan protes dari sebagian warga sekitar yang rumahnya berdekatan.
Lapak Kampung Selang telah membuktikan perannya sebagai pahlawan ekonomi informal di siang hari. Tantangan berikutnya kini berada di pundak manajemen Bos Awan dan Bang Abuy: bagaimana meningkatkan tata kelola limbah pasca-sortir agar lingkungan tetap sehat, sehingga berkah ekonomi yang dihasilkan tidak perlu dibayar mahal oleh kesehatan pernapasan warga di malam hari.
misru Ariyanto jurnalis desamerdeka, saat ini menjabat sekretaris parade Nusantara DPD kabupaten Bekasi

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.