Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 30 Jul 2026 15:16 WIB ·

Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air


					Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air Perbesar

Bekasi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] Ironi tak berkesudahan kembali menggelayuti Desa Karangsegar, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi. Ketika musim penghujan tiba, warga desa ini harus bersiap menghadapi luapan air yang menenggelamkan pemukiman. Sebaliknya, begitu matahari kemarau menyengat, wilayah ini seketika berubah menjadi gurun kritis yang gersang.

Data terbaru mencatat sedikitnya 995 Kepala Keluarga (3.305 jiwa) yang tersebar di 7 RT di Desa Karangsegar terisolasi dari akses air bersih. Sumur-sumur bor mandiri warga ambles, menyisakan tanah yang retak-retak. Saban hari, pemandangan jeriken yang berbaris rapi menunggu datangnya bantuan tangki air darurat dari BPBD dan pihak swasta—seperti Jababeka—menjadi tontonan rutin yang menyedihkan.

Mengapa wilayah di lumbung industri terbesar se-Asia Tenggara ini justru menjadi daerah langganan kekeringan Bekasi dari tahun ke tahun? Apakah ini murni kutukan alam, ataukah ada kelalaian struktural yang dipelihara?

Sengkarut Ekologi di Balik Proyek “Pemadam Kebakaran”
Jika kita membedah masalah ini dengan kacamata lintas tahun (multiyears news), Karangsegar terjebak dalam disfungsi tata air (ecological misalignment). Wilayah Pebayuran secara geografis adalah dataran rendah fluvial di sepanjang aliran Sungai Citarum. Karakteristik tanahnya sangat jenuh air saat hujan, namun cepat kehilangan cadangan air tanah dalam saat kemarau panjang.

Celakanya, siklus hidrologi alami ini dirusak oleh masifnya konversi lahan rawa menjadi kawasan industri dan perumahan komersial di seantero Bekasi. Wilayah resapan hilang. Air hujan langsung dibuang ke sungai tanpa sempat meresap ke dalam akuifer tanah. Begitu kemarau datang, tabungan air di bawah tanah habis seketika.

Masalah kian pelik akibat lumpuhnya urat nadi irigasi pertanian. Saluran Sekunder Bendung Kedunggede (BKG) titik 15-25 mengalami sedimentasi (pendangkalan) parah setinggi 0,5 hingga 1 meter sepanjang 10 kilometer. Ditambah hambatan eceng gondok dan jembatan runtuh di hulu, pasokan air makro tersumbat. Airnya melimpah di pusat, tetapi tidak pernah sampai ke hilir Desa Karangsegar.

Kritik Anggaran: Solusi atau Pemeliharaan Masalah?
Publik sering kali bertanya-tanya dengan nada sinis: Di mana para orang pintar, pakar perencanaan kota, dan rekayasawan lingkungan kita? Mengapa masalah tahunan ini seolah dipelihara demi menghabiskan anggaran darurat?
Menengok realita birokrasi, penanganan kekeringan di Bekasi kerap terjebak pada aksi reaktif. Miliaran rupiah digelontor melalui dana Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk menyuplai tangki air darurat dan sewa pompa. Anggaran ini habis untuk kebutuhan sesaat, bukan untuk membangun solusi permanen.

Di sisi lain, ego sektoral kerap menjadi tameng. Saluran irigasi makro seperti BKG berada di bawah wewenang Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum (Pusat). Pemkab Bekasi kerap berdalih tidak bisa menggunakan APBD daerah secara sembarangan untuk mengeruk irigasi karena terbentur aturan batas kewenangan. Akibatnya, pembangunan Pamsimas lokal mandek dan gagal menjangkau 7 RT yang kini menderita.

Menagih Solusi Bermartabat Lewat Dana CSR
Menyelesaikan krisis Karangsegar secara bermartabat sebenarnya bukan perkara mustahil, dan tidak perlu terus-menerus membebani APBD yang sering kali dipangkas. Kuncinya ada pada kolaborasi struktural bersama ratusan korporasi besar di kawasan industri Cikarang.

Selama ini, keterlibatan swasta lewat Corporate Social Responsibility (CSR) masih bersifat karitatif—sekadar mengirim ribuan liter air bersih untuk difoto dalam laporan tahunan. Pola pikir ini harus diubah.

Pemkab Bekasi harus menginisiasi “Forum CSR Terintegrasi” yang mengikat, untuk mengarahkan dana investasi sosial perusahaan ke infrastruktur permanen:

1. Pendanaan Normalisasi Mandiri: Membiayai pengerukan sedimentasi dan pembersihan total jalur irigasi BKG secara berkala.
2. Replikasi Sumur Satelit Komunal: Membangun teknologi sumur resapan dalam di titik-titik pemukiman kritis.
3. Penyambungan Pipa Pamsimas: Menuntaskan pipa distribusi air bersih ke rumah-rumah warga di 7 RT yang selama ini terabaikan.

Warga Karangsegar tidak butuh kompromi politik tata ruang yang merusak alam. Mereka juga lelah menjadi objek tontonan tanggap darurat tahunan. Sudah saatnya rekayasa lingkungan yang ilmiah dan pemanfaatan dana CSR yang transparan dihadirkan, demi memutus rantai nestapa kekeringan di tanah Bekasi. (DM/Red)

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Kolaborasi Anambas Foundation Ubah Wajah Lingkungan Kuala Maras

8 Juni 2026 - 13:19 WIB

Ancaman Agraria dan Bencana Ekologis Desa di Banjarnegara

26 Mei 2026 - 13:07 WIB

Trending di LINGKUNGAN