Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 7 Mar 2025 14:36 WIB ·

Desa Adalah ‘Arab Saudi’ Baru bagi Energi Bersih Indonesia


					Desa Adalah ‘Arab Saudi’ Baru bagi Energi Bersih Indonesia Perbesar

Jakarta [DESA MERDEKA] Selama ini desa sering dianggap sebagai penonton dalam pembangunan nasional. Namun, paradigma tersebut kini berbalik total. Wakil Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Wamendes PDT), Ahmad Riza Patria, menegaskan bahwa desa-desa di Indonesia adalah kunci utama bagi Indonesia untuk “berdiri di atas kaki sendiri” dalam menghadapi krisis iklim global.

Menduduki 73% wilayah total Nusantara, desa menyimpan harta karun berupa potensi energi baru terbarukan (EBT) yang melimpah. Dalam Diskusi Publik di Gedung Makarti Muktitama, Jakarta, Kamis (6/3/2025), Wamendes yang akrab disapa Ariza ini menyebut desa sebagai garda terdepan untuk mencapai target Net Zero Emission 2060.

Pergeseran Geopolitik: Dari Fosil ke Pangan dan Energi Hijau
Ariza membawa sudut pandang menarik mengenai peta konflik dunia. Jika sejarah mencatat perang terjadi demi memperebutkan minyak bumi, masa depan akan bergeser pada perebutan pangan dan energi bersih. Dalam konteks ini, desa bukan lagi pinggiran, melainkan pusat kedaulatan.

“Indonesia punya lahan subur dan sumber energi melimpah. Jika tidak dikelola mandiri, kita hanya akan jadi sasaran eksploitasi asing. Desa harus menjadi pusat energi bersih agar kita tidak sekadar menjadi penonton di rumah sendiri,” tegas Ariza.

BUMDes sebagai Operator “Tambang Hijau”
Untuk mewujudkan visi tersebut, Ariza mendorong transformasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Alih-alih hanya mengelola unit usaha konvensional, BUMDes didorong menjadi pengelola infrastruktur energi, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mikrohidro, hingga instalasi biogas.

Langkah strategis yang diusulkan meliputi:

  • Optimalisasi Dana Desa: Mengarahkan anggaran untuk infrastruktur energi hijau yang berdampak jangka panjang.
  • Kemitraan Strategis: Membuka ruang kolaborasi antara desa, sektor swasta, dan akademisi untuk transfer teknologi.
  • Kemandirian Ekonomi: Menciptakan lapangan kerja baru melalui pengelolaan energi lokal yang terjangkau bagi warga.

Transisi ini bukan sekadar isu lingkungan, melainkan misi penyelamatan ekonomi desa. Dengan kemandirian energi, biaya hidup di desa akan lebih efisien, dan kesejahteraan masyarakat otomatis terkerek naik.

Keberhasilan desa dalam mengadopsi teknologi EBT ini diyakini akan menjadi penentu posisi Indonesia dalam geopolitik global abad ke-21. Semangat gotong royong yang menjadi akar masyarakat desa kini bertransformasi menjadi motor penggerak energi hijau menuju Indonesia yang lebih berdaulat.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 2,975 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menagih Janji Dam di Rumah Warga Sungai Duo

6 Agustus 2026 - 15:27 WIB

Nestapa Karangsegar: Siklus Abadi Banjir dan Krisis Air

30 Juli 2026 - 15:16 WIB

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari

24 Juli 2026 - 07:32 WIB

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Trending di LINGKUNGAN