Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

LINGKUNGAN · 8 Mei 2026 04:40 WIB ·

Menagih Janji Bupati Saat Desa Sukses Mandiri Sampah


					TPS3R Desa Kalipucang Wetan Perbesar

TPS3R Desa Kalipucang Wetan

Batang, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Di saat banyak wilayah pusing dengan gunungan limbah, sejumlah desa di Kabupaten Batang justru mulai “menunjukkan taring” melalui pengelolaan sampah mandiri. Namun, keberhasilan Desa Kalipucang Wetan dan kawan-kawan dalam menjaga kebersihan lingkungan kini menyisakan satu ganjalan: realisasi janji manis berupa reward finansial dari Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan.

Hingga kini, para pengelola sampah di garis depan ini mengaku belum mencicipi bonus tersebut. Padahal, insentif dari pemerintah daerah sangat dinantikan sebagai “bahan bakar” tambahan untuk menjaga konsistensi pergerakan di tingkat desa.

Oase Kemandirian di Tengah Krisis Kesadaran
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batang, Rusmanto, mengakui bahwa memilah sampah sejak dari dapur warga masih menjadi tantangan terberat. Berdasarkan data DLH, sekitar 60 persen sampah di TPA sebenarnya adalah limbah organik yang seharusnya tuntas diolah di level desa jika kesadaran masyarakat tinggi.

“Kelemahan kita di Batang ini, kesadaran masyarakat untuk melakukan pilah sampah masih rendah,” ungkap Rusmanto saat ditemui di kantornya, Kamis (7/5/2026).

Meski diterjang kendala pola pikir, beberapa wilayah telah menjadi pionir keberhasilan melalui operasional Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Desa Kalipucang Wetan (Kecamatan Batang), serta beberapa titik di Kecamatan Reban, Limpung, dan Banyuputih tercatat konsisten mengolah limbah secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada TPA kabupaten.

Reward sebagai Pemicu Gerakan Masif
Kejujuran pihak DLH bahwa saat ini belum ada reward finansial yang turun diharapkan menjadi sinyal bagi Pemerintah Kabupaten untuk segera bertindak. Kehadiran apresiasi berupa bantuan dana atau insentif dianggap krusial untuk memicu desa-desa lain agar tidak lagi menjadi penonton.

“Mudah-mudahan nanti dengan adanya reward dari Pak Bupati ini bisa memicu teman-teman dari desa untuk bisa melakukan pengelolaan sampah secara mandiri,” pungkas Rusmanto.

Jika janji ini segera ditepati, Batang berpeluang besar menciptakan sistem pengelolaan limbah berbasis desa yang solid. Masa depan di mana sampah tak lagi berakhir sebagai masalah, melainkan berkah ekonomi bagi warga desa, kini sepenuhnya bergantung pada ketegasan kebijakan dan dukungan finansial pemerintah daerah.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Kolaborasi Anambas Foundation Ubah Wajah Lingkungan Kuala Maras

8 Juni 2026 - 13:19 WIB

Ancaman Agraria dan Bencana Ekologis Desa di Banjarnegara

26 Mei 2026 - 13:07 WIB

Bantuan Mobil Sampah Pangkas Transit Limbah Tarempa Barat

22 Mei 2026 - 16:34 WIB

Menguji ‘Nawaitu’ Warga Gununggempol Jadi Kiblat Sampah Nasional

18 Mei 2026 - 15:43 WIB

Benteng Akar Bambu: Cara Warga Naiola Menjinakkan Erosi Sungai

18 Mei 2026 - 14:59 WIB

Trending di LINGKUNGAN