Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Perubahan sejati tidak pernah lahir dari ruang rapat yang dingin atau proyek pemerintah bernilai miliaran rupiah. Di Kecamatan Singosari, denyut nadi inovasi itu justru tumbuh dari tangan-tangan terampil warga yang telaten memilah sampah di dapur mereka sendiri.
Melalui motor penggerak bernama Sanggar Lingkungan Singosari, warga setempat berhasil mendobrak mitos lama. Sampah yang biasanya menjadi sumber masalah dan bau busuk, kini menjelma menjadi berkah dan penggerak roda ekonomi sirkular. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi kuat mengapa gerakan ini terus hidup dan menghidupi.
Bukan Sekadar Membuang Sampah
Di bawah pembinaan Kecamatan Singosari, Sanggar Lingkungan berkembang melampaui fungsi konvensional sebuah tempat pembuangan. Ekosistem ini berhasil mempertemukan pemerintah desa, akademisi, komunitas peduli lingkungan, pelaku usaha, hingga ibu-ibu rumah tangga dalam satu barisan yang sama.
“Alhamdulillah, apresiasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memfasilitator masyarakat. Fokus utama kami adalah pelestarian lingkungan yang berdampak langsung pada warga,” ujar Camat Singosari, Wellem, S.Sos., M.Ling.
Wellem menegaskan bahwa posisi pemerintah kecamatan di sini bukanlah penguasa proyek, melainkan fasilitator. Ruang kolaborasi dibuka selebar-lebarnya agar masyarakat menjadi aktor utama perubahan.
Dari pola pikir gotong royong ini, lahir berbagai program turunan yang mandiri. Mulai dari edukasi pilah sampah dari rumah, penguatan manajemen bank sampah, hingga pelatihan pembuatan produk bernilai guna dari material limbah. Sampah tidak lagi dipandang sebagai residu tak berguna, melainkan aset ekonomi yang bisa dikelola.
Menular Hingga ke Tingkat Desa
Virus inovasi dari akar rumput ini terbukti menular cepat. Semangat kemandirian ini juga menjalar kuat hingga ke tingkat desa. Salah satu bukti nyatanya ada di Desa Tunjungtirto. Melalui inovasi pengelolaan sampah yang diberi nama unik “SAMBER PETIR”, desa ini membuktikan bahwa tata kelola lingkungan yang baik bisa lahir dari keputusan-keputusan lokal di tingkat rukun tetangga.
Kemandirian di tingkat tapak ini memberikan pelajaran penting bagi publik. Ukuran keberhasilan sebuah terobosan daerah tidak lagi dinilai dari seberapa besar serapan anggaran kas daerah. Sebaliknya, indikator utamanya adalah seberapa kuat masyarakat merasa memiliki dan merawat gerakan tersebut secara swadaya.

Apresiasi Atas Proses Panjang
Gerakan swadaya berbasis masyarakat yang mengakar kuat inilah yang pada akhirnya membawa Kecamatan Singosari didapuk sebagai peraih nilai tertinggi kategori Kecamatan Inovatif pada ajang Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026.
Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si., dalam agenda Penguatan Budaya Inovasi dan Sosialisasi Indeks Inovasi Daerah di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Kepanjen, Kamis (23/7/2026).
Dalam kesempatan itu, Sekda Kabupaten Malang menegaskan dukungannya terhadap model inovasi dari bawah seperti ini. Menurut Budiar, inovasi terbaik pemerintah daerah justru lahir ketika birokrasi mampu hadir memberikan solusi nyata dan menyentuh kebutuhan dasar warga, sesuai dengan semangat Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah.
Bagi warga Singosari, panggung seremonial dan trofi di Pendopo Agung hanyalah bonus kecil dari sebuah proses panjang. Hadiah yang sesungguhnya telah mereka menangkan di kampung-kampung mereka: lingkungan yang bersih, sirkulasi ekonomi yang berputar, dan lahirnya budaya baru bernama gotong royong sirkular.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.