Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

LINGKUNGAN · 24 Jul 2026 07:32 WIB ·

Dari Sampah Menjadi Berkah di Akar Rumput Singosari


					Camat singosari bersama kepala desa tunjung tirto menerima penghargaan bergengsi ajang IGA 2026 di pendopo agung kabupaten malang Perbesar

Camat singosari bersama kepala desa tunjung tirto menerima penghargaan bergengsi ajang IGA 2026 di pendopo agung kabupaten malang

Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Perubahan sejati tidak pernah lahir dari ruang rapat yang dingin atau proyek pemerintah bernilai miliaran rupiah. Di Kecamatan Singosari, denyut nadi inovasi itu justru tumbuh dari tangan-tangan terampil warga yang telaten memilah sampah di dapur mereka sendiri.

Melalui motor penggerak bernama Sanggar Lingkungan Singosari, warga setempat berhasil mendobrak mitos lama. Sampah yang biasanya menjadi sumber masalah dan bau busuk, kini menjelma menjadi berkah dan penggerak roda ekonomi sirkular. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi kuat mengapa gerakan ini terus hidup dan menghidupi.

Bukan Sekadar Membuang Sampah
Di bawah pembinaan Kecamatan Singosari, Sanggar Lingkungan berkembang melampaui fungsi konvensional sebuah tempat pembuangan. Ekosistem ini berhasil mempertemukan pemerintah desa, akademisi, komunitas peduli lingkungan, pelaku usaha, hingga ibu-ibu rumah tangga dalam satu barisan yang sama.

“Alhamdulillah, apresiasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus memfasilitator masyarakat. Fokus utama kami adalah pelestarian lingkungan yang berdampak langsung pada warga,” ujar Camat Singosari, Wellem, S.Sos., M.Ling.

Wellem menegaskan bahwa posisi pemerintah kecamatan di sini bukanlah penguasa proyek, melainkan fasilitator. Ruang kolaborasi dibuka selebar-lebarnya agar masyarakat menjadi aktor utama perubahan.

Dari pola pikir gotong royong ini, lahir berbagai program turunan yang mandiri. Mulai dari edukasi pilah sampah dari rumah, penguatan manajemen bank sampah, hingga pelatihan pembuatan produk bernilai guna dari material limbah. Sampah tidak lagi dipandang sebagai residu tak berguna, melainkan aset ekonomi yang bisa dikelola.

Menular Hingga ke Tingkat Desa
Virus inovasi dari akar rumput ini terbukti menular cepat. Semangat kemandirian ini juga menjalar kuat hingga ke tingkat desa. Salah satu bukti nyatanya ada di Desa Tunjungtirto. Melalui inovasi pengelolaan sampah yang diberi nama unik “SAMBER PETIR”, desa ini membuktikan bahwa tata kelola lingkungan yang baik bisa lahir dari keputusan-keputusan lokal di tingkat rukun tetangga.

Kemandirian di tingkat tapak ini memberikan pelajaran penting bagi publik. Ukuran keberhasilan sebuah terobosan daerah tidak lagi dinilai dari seberapa besar serapan anggaran kas daerah. Sebaliknya, indikator utamanya adalah seberapa kuat masyarakat merasa memiliki dan merawat gerakan tersebut secara swadaya.

Camat Singosari menerima penghargaan Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.
Sekretaris Daerah Kabupaten Malang menyerahkan penghargaan kepada Kecamatan Singosari sebagai peraih nilai tertinggi kategori Kecamatan Inovatif pada Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026 melalui inovasi Sanggar Lingkungan Singosari.

Apresiasi Atas Proses Panjang
Gerakan swadaya berbasis masyarakat yang mengakar kuat inilah yang pada akhirnya membawa Kecamatan Singosari didapuk sebagai peraih nilai tertinggi kategori Kecamatan Inovatif pada ajang Innovative Government Award (IGA) Kabupaten Malang 2026.

Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Malang, Dr. Ir. Budiar, M.Si., dalam agenda Penguatan Budaya Inovasi dan Sosialisasi Indeks Inovasi Daerah di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Kepanjen, Kamis (23/7/2026).

Dalam kesempatan itu, Sekda Kabupaten Malang menegaskan dukungannya terhadap model inovasi dari bawah seperti ini. Menurut Budiar, inovasi terbaik pemerintah daerah justru lahir ketika birokrasi mampu hadir memberikan solusi nyata dan menyentuh kebutuhan dasar warga, sesuai dengan semangat Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2017 tentang Inovasi Daerah.

Bagi warga Singosari, panggung seremonial dan trofi di Pendopo Agung hanyalah bonus kecil dari sebuah proses panjang. Hadiah yang sesungguhnya telah mereka menangkan di kampung-kampung mereka: lingkungan yang bersih, sirkulasi ekonomi yang berputar, dan lahirnya budaya baru bernama gotong royong sirkular.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Puting Beliung Terjang Talun Rejo, Warga Menanti Bantuan Pemerintah

5 Juli 2026 - 20:33 WIB

Bumi Butuh Healing: Warga Batu Busuak Belajar Rawat Tanah

25 Juni 2026 - 05:31 WIB

Darurat Sampah: Desa di Pati Wajib Miliki Perdes Kebersihan

18 Juni 2026 - 06:08 WIB

Kolaborasi Anambas Foundation Ubah Wajah Lingkungan Kuala Maras

8 Juni 2026 - 13:19 WIB

Ancaman Agraria dan Bencana Ekologis Desa di Banjarnegara

26 Mei 2026 - 13:07 WIB

Bantuan Mobil Sampah Pangkas Transit Limbah Tarempa Barat

22 Mei 2026 - 16:34 WIB

Trending di LINGKUNGAN