Bojonegoro, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Topografi pedesaan dataran rendah di Kecamatan Gayam kerap kali menjadi kendala fisik bagi masyarakat agraris dalam mengelola limbah domestik. Menjawab tantangan geografis tersebut, Desa Sudu yang dihuni oleh 2.592 jiwa (819 KK) bergerak progresif memecah hambatan jarak dengan membentangkan jaringan pengelolaan sampah langsung ke wilayah permukiman warga di tingkat dusun.
Langkah ini diambil guna mengantisipasi ledakan timbulan sisa domestik desa yang potensinya diperkirakan mampu menembus angka ±700 kilogram per hari atau berkisar 21 ton setiap bulannya. Melalui penguatan kelembagaan tersebut, warga kini tidak perlu lagi menempuh jarak jauh ke pusat desa sekadar untuk membuang limbah rumah tangga.

Inisiatif taktis ini dimatangkan melalui Pelatihan Manajemen Bank Sampah dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) yang digelar di Balai Desa Sudu. Dalam kegiatan tersebut, dibentuk pengurus Satgas TPS3R tingkat desa serta jaringan kepengurusan bank sampah di tiga wilayah administrasi, yakni Dusun Tenggor, Kembangan, dan Alas Mati.
Menariknya, perluasan wilayah layanan ini bukan sekadar urusan kebersihan ekologi biasa, melainkan strategi sirkular ekonomi yang berdampak finansial nyata bagi warga lingkar hulu migas. Melalui inovasi terintegrasi bersama Bank Sampah Berkah, saldo dari hasil penimbangan sampah terpilah milik nasabah kini dikonversi secara otomatis untuk memenuhi kewajiban membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).
Kepala Desa Sudu, Abdul Manan, menegaskan bahwa menjaga konsistensi pengelolaan lingkungan pada wilayah agraris membutuhkan pembagian peran yang terstruktur. “Pengelolaan sampah ini tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah desa, pengurus, dan masyarakat harus bersama-sama mengambil peran,”ujarnya di hadapan para peserta pelatihan.
Edukasi manajemen dan habituasi pemilahan dari dapur ini merupakan bagian dari Program Kampanye Praktik Baik Pengelolaan Sampah di Sekolah dan Komunitas Aliran Sungai. Program berkelanjutan ini diinisiasi oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama Yayasan Daya Tumbuh Indonesia (YDTI).
Salsa Revianur Pradina dari Tim YDTI menjabarkan bahwa keberadaan pengurus tetap di tiga dusun krusial untuk menjaga sustainability sistem agar tidak berhenti sebagai gerakan musiman.
“Pengelolaan sampah bukan hanya soal sampahnya, tetapi bagaimana sistemnya dibangun. Siapa yang mengelola, bagaimana pembagian tugasnya, dan bagaimana kegiatan bisa terus berjalan rutin bersama masyarakat, bukan hanya saat ada program,” jelas Salsa.
Efektivitas skema jemput bola berbasis komunitas ini pun telah teruji di lapangan. Sebagai awalan, sebanyak 125 nasabah aktif dari unit gerakan ini telah berhasil mengamankan dan mereduksi hingga 609,4 kilogram sampah terpilah dalam sekali penimbangan. Angka penyerapan ini ditargetkan terus melesat seiring aktifnya pos dusun baru.

Apresiasi tinggi datang dari Pimpinan Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat EMCL, Almaliki Ukay Sukaya Subqy. Pria yang akrab disapa Malik ini menilai, perubahan pola pikir masyarakat agraris di dekat bantaran sungai memerlukan wadah kelembagaan yang sehat dan dekat secara jangkauan fisik.
“Perubahan pola pikir dan kebiasaan masyarakat butuh wadah yang terorganisasi dengan baik. EMCL berkomitmen untuk terus mendampingi peningkatan kapasitas warga agar fasilitas pengolahan ini tidak hanya mengurangi beban limbah lingkungan, tetapi memberi nilai ekonomi yang berkelanjutan bagi warga Desa Sudu,” pungkas Malik.
Ke depan, selain diintegrasikan dengan pembayaran pajak daerah, Bank Sampah Berkah Desa Sudu juga disiapkan untuk mengembangkan subunit daur ulang kreatif, guna menyulap limbah plastik menjadi produk kerajinan tangan bernilai jual tinggi.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.