Kediri, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Napas pertanian di Dusun Baran, Desa Ponggok, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, mendadak mandek. Di atas tanah yang meranggas, harapan para petani rontok bersama bunga-bunga cabai yang mati muda dan batang-batang tebu yang terpaksa ditebang dini sebelum waktunya. Dampak kekeringan Desa Ponggok Kediri bagi petani bukan lagi sekadar ancaman musiman, melainkan hantaman telak pada isi dompet dan dapur mereka.
Jumirah, salah satu petani setempat, hanya bisa menatap nanar ladangnya. Tanaman cabai yang sedianya siap mendatangkan untung, justru layu karena dehidrasi ekstrem. Kasus serupa menimpa Parlan, petani tebu yang terpaksa melakukan tebang penyelamatan demi memutus kerugian yang lebih dalam. Baginya, modal pupuk yang mahal kini menguap bersama hilangnya air irigasi.
Ironinya, petaka ini berakar dari hulu. Debit mata air di Desa Petungroto menyusut drastis, yang otomatis memutus urat nadi saluran irigasi ke tiga wilayah sekaligus: Dusun Baran, Karangwaru, dan Ponggok. Efek domino pun bergulir; air untuk sejengkal tanah sawah hilang, air untuk kebutuhan dasar manusia pun langka.
Sebanyak 114 kepala keluarga atau sekitar 345 jiwa di kawasan tersebut kini menggantungkan hidup pada tangki-tangki bantuan air bersih dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kediri, Stefanus Djoko Sukrisno, menyatakan bahwa pihaknya tengah mengupayakan pasokan darurat ini tetap terjaga.
Namun, respons birokrasi kerap kali harus melewati jalur yang berliku. Untuk solusi jangka panjang seperti pemasangan pipa baru, BPBD masih harus berkoordinasi dengan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). Sementara untuk urusan modal petani yang hangus akibat gagal panen, penanganannya digeser ke ranah Dinas Pertanian dan Perkebunan.
Di tengah sekat-sekat regulasi dinas tersebut, warga Dusun Baran memilih bergerak mandiri tanpa menunggu ketukan palu anggaran. Dipelopori oleh Suparlan dan warga lainnya, mereka secara swadaya patungan tenaga dan materi untuk membedah serta memperbaiki jaringan pipa yang tersumbat. Hasilnya instan, aliran air mulai merayap keluar. Gerakan akar rumput ini membuktikan bahwa di tengah lambatnya pipa birokrasi, kekompakan warga adalah pancuran air yang sesungguhnya.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.