Tanah Datar, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Masa depan ketahanan pangan dan kualitas SDM di ranah minang kini bertumpu pada akselerasi infrastruktur di tingkat nagari. Dua agenda besar—penyelamatan sawah petani dari dampak banjir bandang serta peletakan batu pertama pusat pendidikan megah—menjadi simbol kolaborasi nyata pemerintah pusat dan daerah di Kabupaten Tanah Datar.
Menteri PU Dody Hanggodo bersama Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, turun langsung ke lapangan pada Kamis (21/5/2026). Mereka meninjau proses normalisasi Batang Tompo Sitangkai di Jorong Taruko sekaligus mematangkan cetak biru pembangunan Sekolah Rakyat di Nagari Tanjung Alam. Langkah taktis ini diambil demi memastikan urat nadi ekonomi dan sosial pedesaan tidak lumpuh pascabencana 12 Mei lalu.
Menyelamatkan Sawah di Musim Tanam
Bencana banjir bandang pertengahan Mei kemarin sempat melumpuhkan jaringan irigasi dan menyisakan tumpukan material di aliran sungai. Respons cepat kini difokuskan pada pemulihan fungsi air. Mengingat saat ini petani sudah memasuki musim tanam, perbaikan irigasi menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar.
Pemerintah pusat menegaskan bahwa birokrasi sekat kewenangan antara pusat, provinsi, dan kabupaten harus runtuh demi menyukseskan swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Jika irigasi Batang Tompo Sitangkai pulih total, ribuan hektare sawah rakyat kembali produktif.
Lompatan Sektor Pendidikan dari Pinggiran Desa
Sudut pandang pembangunan kini tidak lagi sentralistik di perkotaan. Nagari Tanjung Alam bersiap mencatatkan sejarah dengan kehadiran rencana kompleks Sekolah Rakyat di Nagari Tanjung Alam. Berdiri di atas lahan hibah seluas 16 hektare dari keluarga besar Doni Oskaria (COO Danantara), sekolah ini diproyeksikan menjadi yang terbesar di Sumatera Barat.
Infrastruktur penunjang dirancang modern dengan bangunan tiga lantai dan akses jalan selebar 5,5 meter. Saat ini, alat berat sudah bekerja di tahap pematangan lahan. Sekolah berkapasitas 3.000 siswa ini disiapkan menjadi motor penggerak baru untuk memutus rantai kemiskinan dan menyongsong Indonesia Emas 2045.
Gubernur Mahyeldi Ansharullah mengingatkan, proyek strategis ini butuh respons cepat dari jajaran pemprov dan pemkab agar manfaatnya instan. Gayung bersambut, Bupati Tanah Datar Eka Putra memastikan bahwa proyek fisik ini tidak hanya berorientasi jangka panjang, melainkan langsung menyerap pemuda lokal sebagai prioritas tenaga kerja konstruksi. Melalui dwi-tunggal proyek ini, Tanah Datar sedang membuktikan bahwa kebangkitan ekonomi kawasan justru dimulai dari ketangguhan sebuah nagari.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.