Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR PEMDA · 24 Mar 2026 06:52 WIB ·

Pasar Ateh Bukittinggi: Mukena Bordir Go Digital atau Tertinggal?


					Pasar Ateh Bukittinggi: Mukena Bordir Go Digital atau Tertinggal? Perbesar

Bukittinggi, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Keriuhan hari ketiga Lebaran 1447 H di Pasar Ateh Bukittinggi menyimpan sebuah ironi digital. Meski menjadi magnet wisatawan, mayoritas pedagang ikonik di sana—termasuk pengrajin mukena bordir—masih terjebak dalam pola dagang konvensional “tunggu bola”. Padahal, pasar fisik memiliki batas waktu dan ruang, sementara pasar digital tidak mengenal kata tutup.

Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat meninjau aktivitas pasar pada Senin (23/3/2026), menemukan fakta bahwa transaksi masih didominasi tatap muka. “UMKM perlu segera migrasi ke platform digital. Jangan hanya bergantung pada pengunjung yang datang langsung ke toko,” tegas Mahyeldi di sela dialognya dengan para pedagang.

WhatsApp Saja Tidak Cukup
Reni, salah satu pemilik toko bordir di Pasar Ateh, mengakui bahwa pelanggan setianya mayoritas berasal dari luar daerah. Namun, selama ini ia hanya mengandalkan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan pelanggan lama. Untuk menjangkau pembeli baru, ia masih sepenuhnya bergantung pada langkah kaki wisatawan yang masuk ke tokonya.

“Kami belum masuk ke marketplace. Mayoritas pelanggan masih yang datang langsung ke toko,” ungkap Reni. Kondisi ini menunjukkan adanya celah besar antara kualitas produk yang mumpuni dengan strategi pemasaran yang masih purba. Tanpa ekosistem digital, produk unggulan Sumbar seperti mukena bordir akan sulit bersaing di kancah nasional yang kian kompetitif.

Digitalisasi: Bukan Tren, Tapi Napas Ekonomi
Pemerintah Provinsi Sumbar kini meletakkan digitalisasi sebagai prioritas untuk memperkuat ekonomi daerah secara berkelanjutan. Langkah ini diambil agar UMKM lokal tidak hanya menjadi penonton di era ekonomi digital. Program pembinaan dan pendampingan disiapkan untuk membantu pedagang tradisional “naik kelas” menjadi pengusaha berbasis teknologi.

Kondisi Saat Ini Target Transformasi Manfaat Utama
Penjualan Tatap Muka Ekspansi ke Marketplace Pasar Luas Tanpa Batas Ruang
Promosi Lewat WhatsApp Digital Branding & Medsos Jangkauan Pelanggan Baru
Bergantung Libur Lebaran Penjualan Rutin Daring Pendapatan Stabil Sepanjang Tahun

Masa Depan Tradisi di Ujung Jari
Transformasi ini tidak bertujuan menghilangkan identitas pasar tradisional, melainkan memperkuatnya. Dengan Go Digital, keunikan produk seperti bordir Bukittinggi bisa dipasarkan ke seluruh penjuru dunia tanpa harus menunggu musim mudik tiba. Digitalisasi adalah cara terbaik untuk menjaga tradisi tetap hidup dan menguntungkan di masa depan.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Gubernur Mahyeldi: UMKM Sumbar Harus Naik Kelas dan Tembus Pasar Global

31 Agustus 2026 - 10:30 WIB

Terima Komisi VIII DPR, Mahyeldi: Rehab-Rekon Pascabencana Harus Dipercepat

31 Agustus 2026 - 10:16 WIB

APBD Sumbar 2027 Kritis, Anggaran Nagari Terancam Dipangkas

28 Agustus 2026 - 09:24 WIB

Dapur Umum Lumpuh, Rendang Minang Jadi Penyelamat NTT

25 Agustus 2026 - 20:03 WIB

Kisah Sukses Dr. Endrizal Hidupkan Ekonomi Pelosok Sumbar

24 Agustus 2026 - 09:47 WIB

Lima Kelompok Tani Kuranji Terima Bantuan Becak Motor

22 Agustus 2026 - 14:30 WIB

Trending di KABAR PEMDA