Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Keamanan dan kedamaian sebuah wilayah tidak bisa hanya digantungkan pada pundak aparat penegak hukum. Benteng pertahanan terkuat justru berada di tangan warga yang hidup berdampingan setiap hari di tingkat kelurahan, desa, atau nagari.
Ketika masyarakat memilih acuh tak acuh, di sanalah celah bagi berkembangnya berbagai penyakit masyarakat mulai dari kriminalitas, penyalahgunaan narkoba, hingga konflik sosial. Perubahan paradigma inilah yang kini ditekankan agar menjadi budaya baru di tengah masyarakat Kota Padang.
Memutus Rantai Apatisme di Akar Rumput
Ancaman nyata yang dihadapi masyarakat urban dan pelosok hari ini tidak lagi melulu soal bencana alam seperti banjir atau gempa bumi. Hoaks yang memecah belah, peredaran gelap narkotika, hingga pengabaian kebersihan lingkungan adalah musuh senyap yang merusak sendi-sendi kehidupan warga dari dalam.
Merespons fenomena ini, Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, mengingatkan dampak buruk jika kelompok masyarakat yang peduli justru memilih menutup mata terhadap lingkungan sekitar. Sikap diam dan masa bodoh (apatis) dinilai memberi ruang nyaman bagi tumbuhnya kemaksiatan.
“Jangan biarkan orang-orang baik hanya menjadi penonton. Kemaksiatan, kriminalitas, dan berbagai ancaman akan berkembang ketika masyarakat memilih diam,” tegas Muhidi.
Solusinya, warga didorong untuk kembali menghidupkan siskamling, mengaktifkan ronda malam, dan berani melapor jika menemui indikasi mencurigakan di lingkungan mereka.
SDM Unggul: Kunci Utama Redam Kriminalitas
Menariknya, kesadaran menjaga lingkungan ini tidak bisa dipisahkan dari urusan isi dompet dan kapasitas intelektual warganya. Ada korelasi kuat antara kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan tingginya angka kriminalitas atau gangguan keamanan di sebuah daerah.
Menyikapi hal tersebut, Ketua LPM Kelurahan Limau Manis, Febrianti, melayangkan usulan konkret agar pemerintah daerah memperbanyak program pelatihan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) langsung di tingkat kelurahan. Menurutnya, memperkuat kemampuan ekonomi warga adalah cara paling efektif untuk menekan angka kejahatan.
“Kalau SDM maju, ekonomi masyarakat ikut tumbuh. Saat ekonomi membaik, berbagai persoalan sosial dan gangguan keamanan juga akan semakin berkurang,” urai Febrianti penuh optimisme.
Sinergi Digital untuk Cegah Hoaks
Di era modern, ruang ronda malam kini juga harus bertransformasi ke ranah digital. Media sosial yang selama ini sering menjadi hulu lahirnya konflik akibat penyebaran hoaks harus dibalik fungsinya.
Tokoh masyarakat, tokoh adat, dan pemuda di tingkat kelurahan didorong untuk memanfaatkan gawai mereka sebagai sarana penyebaran informasi positif. Dengan bersatunya seluruh elemen masyarakat secara fisik maupun digital, deteksi dini terhadap potensi gesekan sosial dapat dilakukan sebelum telanjur membesar menjadi konflik terbuka.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.