Bukittinggi, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Keriuhan hari ketiga Lebaran 1447 H di Pasar Ateh Bukittinggi menyimpan sebuah ironi digital. Meski menjadi magnet wisatawan, mayoritas pedagang ikonik di sana—termasuk pengrajin mukena bordir—masih terjebak dalam pola dagang konvensional “tunggu bola”. Padahal, pasar fisik memiliki batas waktu dan ruang, sementara pasar digital tidak mengenal kata tutup.
Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat meninjau aktivitas pasar pada Senin (23/3/2026), menemukan fakta bahwa transaksi masih didominasi tatap muka. “UMKM perlu segera migrasi ke platform digital. Jangan hanya bergantung pada pengunjung yang datang langsung ke toko,” tegas Mahyeldi di sela dialognya dengan para pedagang.
WhatsApp Saja Tidak Cukup
Reni, salah satu pemilik toko bordir di Pasar Ateh, mengakui bahwa pelanggan setianya mayoritas berasal dari luar daerah. Namun, selama ini ia hanya mengandalkan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan pelanggan lama. Untuk menjangkau pembeli baru, ia masih sepenuhnya bergantung pada langkah kaki wisatawan yang masuk ke tokonya.
“Kami belum masuk ke marketplace. Mayoritas pelanggan masih yang datang langsung ke toko,” ungkap Reni. Kondisi ini menunjukkan adanya celah besar antara kualitas produk yang mumpuni dengan strategi pemasaran yang masih purba. Tanpa ekosistem digital, produk unggulan Sumbar seperti mukena bordir akan sulit bersaing di kancah nasional yang kian kompetitif.
Digitalisasi: Bukan Tren, Tapi Napas Ekonomi
Pemerintah Provinsi Sumbar kini meletakkan digitalisasi sebagai prioritas untuk memperkuat ekonomi daerah secara berkelanjutan. Langkah ini diambil agar UMKM lokal tidak hanya menjadi penonton di era ekonomi digital. Program pembinaan dan pendampingan disiapkan untuk membantu pedagang tradisional “naik kelas” menjadi pengusaha berbasis teknologi.
| Kondisi Saat Ini | Target Transformasi | Manfaat Utama |
| Penjualan Tatap Muka | Ekspansi ke Marketplace | Pasar Luas Tanpa Batas Ruang |
| Promosi Lewat WhatsApp | Digital Branding & Medsos | Jangkauan Pelanggan Baru |
| Bergantung Libur Lebaran | Penjualan Rutin Daring | Pendapatan Stabil Sepanjang Tahun |
Masa Depan Tradisi di Ujung Jari
Transformasi ini tidak bertujuan menghilangkan identitas pasar tradisional, melainkan memperkuatnya. Dengan Go Digital, keunikan produk seperti bordir Bukittinggi bisa dipasarkan ke seluruh penjuru dunia tanpa harus menunggu musim mudik tiba. Digitalisasi adalah cara terbaik untuk menjaga tradisi tetap hidup dan menguntungkan di masa depan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.