Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

EKONOMI BISNIS · 28 Jan 2026 08:30 WIB ·

Ultimatum Sepekan: PT Tidar Kerinci Agung Wajib Kebun Plasma


					Ultimatum Sepekan: PT Tidar Kerinci Agung Wajib Kebun Plasma Perbesar

Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) resmi “menjatuhkan” ultimatum kepada PT Tidar Kerinci Agung (TKA). Perusahaan perkebunan tersebut hanya diberi waktu hingga 3 Februari 2026 untuk menuntaskan kewajiban kebun plasma sebesar 20 persen bagi masyarakat Nagari Alahan Nan Tigo dan Lubuk Besar, Kabupaten Dharmasraya.

Keputusan tegas ini diambil dalam rapat fasilitasi konflik agraria di Kantor Gubernur Sumbar, Selasa (27/1/2026). Jika dalam sepekan ke depan kewajiban tersebut tidak kunjung diimplementasikan, Pemprov Sumbar akan menyerahkan nasib izin perusahaan ini kepada Kementerian Pertanian serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi.

Kepastian Hukum di Atas Urusan Administratif
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdaprov Sumbar, Adib Alfikri, menekankan bahwa pemerintah tidak ingin penyelesaian konflik ini hanya manis di atas kertas atau terjebak dalam pusaran administrasi yang tak berujung.

“Negara tidak boleh absen. Kami hadir untuk melindungi hak masyarakat yang telah lama tertunda, sekaligus memastikan investasi tetap berjalan di koridor hukum yang adil,” ujar Adib.

Kewajiban plasma 20 persen bukan sekadar imbauan, melainkan amanat regulasi yang melekat pada Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Hak Guna Usaha (HGU). Konflik menahun ini dinilai berisiko mengganggu stabilitas sosial jika terus dibiarkan tanpa adanya tenggat waktu yang mengikat.

Investasi Sehat Tanpa Dampak Sosial
Pemprov Sumbar memandang bahwa iklim investasi yang sehat hanya bisa tercipta jika perusahaan mampu berdampingan secara harmonis dengan masyarakat sekitar. Melalui dialog konstruktif yang difasilitasi lintas sektor, pemerintah berupaya menciptakan solusi permanen yang menguntungkan kedua belah pihak.

Rapat strategis ini juga dikawal langsung oleh perwakilan pemerintah pusat guna memastikan transparansi. Langkah “jemput bola” ini diharapkan menjadi preseden bagi perusahaan lain di Sumatera Barat agar tidak abai terhadap tanggung jawab sosial dan kewajiban hukum mereka. Kini, bola panas berada di tangan PT Tidar Kerinci Agung untuk membuktikan komitmen mereka sebelum batas waktu berakhir.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 49 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Suara Pelaku UMKM Sumbar: Butuh Legalitas Dan Keuangan

29 Juli 2026 - 14:45 WIB

Ekonomi Halal Global Harus Dimulai dari Desa dan UMKM

23 Juli 2026 - 14:58 WIB

Kisah Sukses Marno Kembangkan Bakso Lewat Bimtek

25 Juni 2026 - 15:53 WIB

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

31 Mei 2026 - 01:38 WIB

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman
Trending di EKONOMI BISNIS