Jakarta [DESA MERDEKA] – Dunia pariwisata kita lagi nggak baik-baik aja kalau cuma dihitung dari angka.
Selama ini, kita sering banget bangga kalau jumlah kunjungan turis melonjak tajam. Tapi, apakah kerumunan itu beneran bikin dompet daerah dan warganya ikutan tebal? Nah, pola pikir “yang penting ramai” ini justru dinilai sudah kuno dan harus segera digeser ke arah yang lebih bermakna.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Pakar Pariwisata sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof. Azril Azahari, dalam wawancaranya bersama RRI Pro 3 FM, Jum’at (29/5). Menurut Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Trisakti ini, sudah saatnya kebijakan pariwisata dirancang secara terintegrasi—nggak jalan sendiri-sendiri antara pusat dan daerah—serta menyentuh akar filosofis dari ekosistem pariwisata itu sendiri.
“Artinya bukan semata untuk sesaat (quick yield). Demikian pula bahwa telah terjadi pergeseran paradigma pariwisata yang menyebabkan terjadi pergeseran perilaku pengunjung (shifting visitors behavior),” jelas Prof. Azril.
Quality Tourism Over Quantity
Gen Z pasti paham banget istilah healing yang berkualitas. Nah, paradigma baru pariwisata pun mirip seperti itu. Target utama industri ini bukan lagi sekadar kejar setoran jumlah turis yang datang foto-foto lalu pulang. Fokusnya harus bergeser ke hal yang lebih substansial: seberapa besar kontribusi sektor ini terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) dan PAD (Pendapatan Asli Daerah).
Selain itu, yang nggak kalah penting adalah multiplier effect alias efek domino ekonomi yang dihasilkan, serta seberapa banyak lapangan kerja riil yang bisa diserap. Jadi, pariwisata yang sukses itu adalah pariwisata yang bisa bikin warga lokalnya ikutan sejahtera, bukan cuma jadi penonton di daerah sendiri.
Link and Match vs Link by Matching: Apa Bedanya?
Perubahan perilaku turis dan arah industri ini otomatis menuntut kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bakal terjun ke lapangan. Prof. Azril menegaskan bahwa program studi pariwisata di kampus-kampus harus segera dievaluasi total secara menyeluruh. Tujuannya? Biar bisa selaras dengan Dunia Usaha, Industri, dan Kerja (Dudika) masa depan.
Menariknya, beliau meluruskan sebuah salah kaprah yang sering terjadi terkait istilah serapan di dunia pendidikan dan industri:
* Link and Match: Istilah lama yang lebih mengedepankan bagaimana mencetak SDM yang terampil agar bisa langsung diterima oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Fokusnya lebih ke supply (menyediakan tenaga kerja terampil).
* Link by Matching: Konsep yang lebih adaptif dan visioner karena fokus utamanya adalah melihat dan membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Dudika saat ini dan masa depan. Jadi kurikulumnya dibuat fleksibel mengikuti demand (kebutuhan riil industri).
Tantangan Buat Kita
Pariwisata masa depan bukan lagi soal membangun spot foto instagramable yang viral sesaat lalu sepi. Ini adalah soal membangun ekosistem yang berkelanjutan, berdampak ekonomi nyata, dan didukung oleh talenta-talenta muda yang punya skill relevan.
Buat kita yang tertarik atau sedang berkecimpung di dunia pariwisata dan ekonomi kreatif, yuk mulai geser cara pandang kita. Industri sudah berubah, cara kita meresponsnya pun harus ikut naik kelas!

Penggiat Desa. Lakukan yang Perlu saja (Prioritas).
Kita Gak perlu memenangkan semua Pertempuran.
Tinggal di Padang Pariaman, Sumatera Barat.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.