Menu

Mode Gelap
APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa Bantah Isu Kontraktor LPJ, PMD Kolaka Utara Siapkan Klinik Desa

EKBIS · 31 Mei 2026 01:38 WIB ·

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!


					Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan! Perbesar

Bukan Cuma Berburu Turis, Ini Wajah Baru Pariwisata Masa Depan!

Jakarta [DESA MERDEKA] – Dunia pariwisata kita lagi nggak baik-baik aja kalau cuma dihitung dari angka.

Selama ini, kita sering banget bangga kalau jumlah kunjungan turis melonjak tajam. Tapi, apakah kerumunan itu beneran bikin dompet daerah dan warganya ikutan tebal? Nah, pola pikir “yang penting ramai” ini justru dinilai sudah kuno dan harus segera digeser ke arah yang lebih bermakna.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Pakar Pariwisata sekaligus Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof. Azril Azahari, dalam wawancaranya bersama RRI Pro 3 FM, Jum’at (29/5). Menurut Guru Besar Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Trisakti ini, sudah saatnya kebijakan pariwisata dirancang secara terintegrasi—nggak jalan sendiri-sendiri antara pusat dan daerah—serta menyentuh akar filosofis dari ekosistem pariwisata itu sendiri.

“Artinya bukan semata untuk sesaat (quick yield). Demikian pula bahwa telah terjadi pergeseran paradigma pariwisata yang menyebabkan terjadi pergeseran perilaku pengunjung (shifting visitors behavior),” jelas Prof. Azril.

Quality Tourism Over Quantity

Gen Z pasti paham banget istilah healing yang berkualitas. Nah, paradigma baru pariwisata pun mirip seperti itu. Target utama industri ini bukan lagi sekadar kejar setoran jumlah turis yang datang foto-foto lalu pulang. Fokusnya harus bergeser ke hal yang lebih substansial: seberapa besar kontribusi sektor ini terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) dan PAD (Pendapatan Asli Daerah).

Selain itu, yang nggak kalah penting adalah multiplier effect alias efek domino ekonomi yang dihasilkan, serta seberapa banyak lapangan kerja riil yang bisa diserap. Jadi, pariwisata yang sukses itu adalah pariwisata yang bisa bikin warga lokalnya ikutan sejahtera, bukan cuma jadi penonton di daerah sendiri.

Link and Match vs Link by Matching: Apa Bedanya?

Perubahan perilaku turis dan arah industri ini otomatis menuntut kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bakal terjun ke lapangan. Prof. Azril menegaskan bahwa program studi pariwisata di kampus-kampus harus segera dievaluasi total secara menyeluruh. Tujuannya? Biar bisa selaras dengan Dunia Usaha, Industri, dan Kerja (Dudika) masa depan.

Menariknya, beliau meluruskan sebuah salah kaprah yang sering terjadi terkait istilah serapan di dunia pendidikan dan industri:

* Link and Match: Istilah lama yang lebih mengedepankan bagaimana mencetak SDM yang terampil agar bisa langsung diterima oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Fokusnya lebih ke supply (menyediakan tenaga kerja terampil).

* Link by Matching: Konsep yang lebih adaptif dan visioner karena fokus utamanya adalah melihat dan membaca apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh Dudika saat ini dan masa depan. Jadi kurikulumnya dibuat fleksibel mengikuti demand (kebutuhan riil industri).

Tantangan Buat Kita

Pariwisata masa depan bukan lagi soal membangun spot foto instagramable yang viral sesaat lalu sepi. Ini adalah soal membangun ekosistem yang berkelanjutan, berdampak ekonomi nyata, dan didukung oleh talenta-talenta muda yang punya skill relevan.

Buat kita yang tertarik atau sedang berkecimpung di dunia pariwisata dan ekonomi kreatif, yuk mulai geser cara pandang kita. Industri sudah berubah, cara kita meresponsnya pun harus ikut naik kelas!

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Internet Rakyat: Senjata Baru BUMDesa Sragen Mandiri Digital

30 Mei 2026 - 18:42 WIB

Perangkat Internet Rakyat di Acara GAS 2026

Samsat Budiman: BUMDesa Gesit Amankan Pajak Desa

30 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pelayanan Pembayaran Pajak Kendaraan Samsat Budiman

Strategi GAS Sragen 2026 Dongkrak Pendapatan Daerah

29 Mei 2026 - 16:44 WIB

Government Auto Show 2026 di Gedung Sasana Manggala Sukowati Sragen

Hilirisasi Pinang Lima Puluh Kota Menembus Pasar Ekspor

29 Mei 2026 - 10:45 WIB

Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Desa: Benarkah Sawah Terancam?

24 Mei 2026 - 15:07 WIB

Ironi Lingkar Tambang: Solar Subsidi di Obi Raib, Pembangunan Desa Lumpuh

21 Mei 2026 - 05:58 WIB

Trending di EKBIS