Sragen, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS) kini menjadi magnet ekonomi baru di Sragen. Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Sragen ke-280, pemerintah setempat melalui Unit Pengelola Pendapatan Daerah (UPPD) menggelar Government Auto Show (GAS) Sragen 2026 sejak Kamis (28/5/2026) hingga Sabtu (30/5/2026). Pameran ini bukan sekadar ajang unjuk gigi industri otomotif, melainkan langkah taktis untuk mengamankan pendapatan asli daerah di tengah kebijakan fiskal baru.
UPPD Sragen menerapkan strategi “jemput bola” dengan mengumpulkan 14 dealer kendaraan ternama di satu atap. Kepala UPPD Sragen, Senen S.T, M. Si, menegaskan bahwa kehadiran GAS Sragen 2026 adalah kunci untuk mengoptimalkan potensi pajak daerah. “Ini upaya meningkatkan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama (BBNKB), termasuk penerapan Opsen PKB dan Opsen BBNKB,” ujarnya. Langkah ini krusial untuk memastikan perputaran transaksi kendaraan tetap berada di Sragen, sehingga potensi pajak tidak bocor ke wilayah tetangga.
Dampak dari penguatan fiskal ini nantinya akan kembali ke masyarakat melalui pembiayaan pembangunan yang lebih luas, termasuk bagi kawasan pedesaan. Namun, GAS Sragen 2026 tidak hanya bicara soal angka pajak. Ekosistem ekonomi yang dibangun mencakup 16 pengembang perumahan yang mempermudah warga mendapatkan hunian layak, serta sentuhan edukasi ekologis dari komunitas tanaman hias lokal.
Di sisi lain, jantung ekonomi kerakyatan berdenyut kencang di area festival kuliner. Sebanyak 23 stan UMKM lokal, termasuk tujuh kelompok pengolah makanan berbasis ikan, mendapatkan panggung untuk meningkatkan omzet. Keterlibatan sektor riil ini membuktikan bahwa pemerintah daerah mampu memadukan kepentingan fiskal makro dengan pemberdayaan ekonomi akar rumput secara simultan.
Kehadiran layanan kesehatan gratis dari Jasa Raharja melengkapi sinergi lintas sektor dalam acara ini. GAS Sragen 2026 menjadi bukti bahwa kreativitas pemerintah dalam mengelola pendapatan daerah dapat berdampak langsung pada gairah ekonomi warga, mulai dari pelaku usaha kecil hingga kebutuhan hunian masyarakat. Suksesnya event ini menjadi barometer baru bagaimana kebijakan fiskal daerah dapat berjalan beriringan dengan perputaran ekonomi sektor riil yang pro-rakyat.

Jurnalis
NIM : JT 2207-0007


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.