Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Trauma besar akibat banjir bandang dan longsor akhir November 2025 yang merenggut 264 nyawa warga Sumatera Barat menjadi pemantik utama perombakan sistem siaga bencana. Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, secara resmi membuka penyusunan Rencana Kontingensi (Renkon) 2026 sebagai komitmen nyata untuk melindungi puluhan ribu warga desa yang tinggal di zona merah bencana.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas birokrasi, melainkan upaya mengintervensi keselamatan warga sebelum, saat, dan pasca-bencana. Dokumen Renkon dirancang untuk menjadi “buku sakti” koordinasi lintas sektor agar penanganan darurat di pelosok nagari tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan terstruktur dan teruji.
Belajar dari Luka Satu Juta Pengungsi
Data November 2025 menjadi pengingat pahit bagi pemerintah. Fenomena siklon tropis yang memicu curah hujan ekstrem tidak hanya merusak rumah, tapi memaksa satu juta jiwa di Pulau Sumatera mengungsi. Mahyeldi menegaskan bahwa peristiwa tersebut memberikan pelajaran mahal: penanganan darurat tanpa perencanaan matang adalah kegagalan yang berulang.
“Kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Dokumen ini harus berkualitas dan dapat diimplementasikan, bukan sekadar kertas laporan,” tegas Mahyeldi di Aula BPSDM Sumbar, Senin (6/4/2026). Rencana kontingensi ini akan menjadi pedoman kebijakan untuk menghadapi ancaman gempa, tsunami, hingga kebakaran hutan yang mengintai wilayah Sumbar.
Kolaborasi Pentahelix: Lindungi Warga Akar Rumput
Kepala BPSDM Sumbar, Barlius, menambahkan bahwa dokumen Renkon ini akan mengikat seluruh komponen—termasuk TNI, Polri, dunia usaha, hingga akademisi—untuk mengerahkan logistik dan peralatan secara otomatis saat status darurat ditetapkan. Targetnya adalah pengorganisasian strategi yang efektif untuk memulihkan kondisi desa secepat mungkin.
Melalui pelatihan ini, kapasitas koordinasi lintas wilayah diperkuat agar masyarakat di tingkat desa memiliki sistem penanggulangan bencana yang tangguh. Dengan kolaborasi pentahelix, diharapkan Sumbar tidak lagi hanya sekadar “memadamkan api” saat bencana tiba, melainkan memiliki pertahanan berlapis yang mampu menyelamatkan lebih banyak nyawa.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.