Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Lima bulan sudah banjir bandang berlalu, namun sisa traumanya masih menghimpit nadi kehidupan warga di Nagari Anduriang dan Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman. Jembatan Anduriang, yang dulunya menjadi urat nadi utama ekonomi dan pendidikan, kini tinggal puing. Pemandangan miris terlihat setiap hari: para pelajar dan warga desa terpaksa bertaruh nyawa menyeberangi sungai menggunakan rakit demi memotong waktu tempuh.
Kondisi memprihatinkan ini memicu reaksi keras dari Anggota Komisi V DPRD Sumatera Barat, Hj. Endarmy. Ia menyoroti lambannya realisasi perbaikan infrastruktur yang menurutnya adalah akses vital. “Jembatan ini satu-satunya jalur utama warga dan pelajar di dua nagari. Tanpa ini, mobilitas masyarakat lumpuh,” tegas Endarmy, Senin (11/5).

Bahaya Mengintai di Arus Sungai
Meski ada jalur alternatif, jaraknya yang jauh memaksa warga kembali ke cara tradisional yang berbahaya. Menyeberangi sungai dengan rakit bukan tanpa risiko; saat debit air meningkat dan arus deras, nyawa taruhannya. Infrastruktur yang rusak sejak November 2025 ini seolah terlupakan, membiarkan aktivitas pendidikan dan ekonomi warga desa berjalan tertatih-tatih di bawah bayang-bayang ancaman banjir susulan.
Mendesak Solusi Darurat
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah didorong untuk segera membangun jembatan darurat. Infrastruktur sementara ini dianggap krusial agar anak sekolah tidak lagi terlambat dan hasil tani warga bisa terdistribusi tanpa biaya ekstra. Selain itu, normalisasi sungai di kawasan terdampak longsor November lalu menjadi kebutuhan mendesak untuk mempercepat pemulihan pascabencana.
Percepatan pembangunan infrastruktur di tingkat nagari bukan sekadar soal beton dan aspal, melainkan soal memulihkan martabat dan keselamatan warga yang telah bersabar menunggu janji pemerintah selama hampir setengah tahun.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.