Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Keamanan warga desa di sepanjang kawasan Bukit Barisan kini menjadi fokus utama dalam riset strategis Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI. Melalui audiensi dengan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, Senin (11/5/2026), TNI mengonfirmasi akan melakukan penelitian mendalam mengenai pola penanganan bencana hidrometeorologi yang sempat melumpuhkan pemukiman dan lahan tani di Sumbar.
Dandim 0312 Padang, Kolonel Inf Ferry Adianto, menegaskan penelitian ini bertujuan menguji efektivitas sinergi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Fokus utamanya adalah apakah pola koordinasi di lapangan selama ini sudah optimal atau membutuhkan penyempurnaan guna menghadapi potensi bencana serupa di masa depan.
Audit Pertahanan Semesta di Jalur Bukit Barisan
Penelitian ini tidak hanya sekadar evaluasi teknis, tetapi juga mengkaji Sistem Pertahanan Semesta yang ada di Sumatera Barat. Tim peneliti akan membedah kesiapan sumber daya hingga dukungan sarana prasarana daerah dalam menghadapi situasi darurat. Hal ini menjadi vital mengingat posisi desa-desa di Sumbar seringkali berada di titik rawan yang sulit dijangkau saat infrastruktur terputus.
Gubernur Mahyeldi memaparkan bahwa ancaman bencana di wilayahnya bersifat akumulatif. Banjir dan longsor pemicu kerusakan masif dipicu oleh kiriman air dari tiga gunung sekaligus—Marapi, Singgalang, dan Tandikat—yang membawa material batuan langsung ke kawasan produktif masyarakat.
Keselamatan Warga di Atas Formalitas Birokrasi
Merespons tingkat kerawanan yang tinggi, Pemprov Sumbar menekankan pentingnya kecepatan komando dalam penetapan status tanggap darurat. Menurut Mahyeldi, tidak boleh ada keterlambatan birokrasi jika menyangkut keselamatan nyawa masyarakat, terutama di titik-titik strategis yang meluas.
“Pertimbangan utamanya adalah keselamatan warga. Saat kejadian meluas, tidak boleh ada keterlambatan dalam komando,” tegas Mahyeldi. Langkah cepat ini menjadi fondasi bagi Sesko TNI untuk merumuskan standar operasional prosedur penanganan bencana yang lebih inklusif dan responsif bagi masyarakat di tingkat akar rumput.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.