Padang, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Sumatera Barat kini bukan sekadar provinsi dengan pemandangan elok, melainkan pusat inkubasi ekonomi berbasis syariah yang mulai merambah hingga ke pelosok nagari. Gubernur Mahyeldi Ansharullah dalam rapat bersama KNEKS di Padang (11/5/2026), membeberkan fakta mengejutkan: tingkat inklusi keuangan syariah di Ranah Minang telah menembus angka 92,14 persen. Angka ini menjadi bukti bahwa sistem keuangan syariah bukan lagi wacana elite, melainkan napas ekonomi harian masyarakat.
Strategi ini tidak main-main. Melalui Peraturan Gubernur Nomor 4 Tahun 2025, integrasi kebijakan syariah dikunci dalam program strategis daerah. Tujuannya jelas, yakni memperkuat identitas Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) melalui kemandirian ekonomi dari hulu ke hilir.
Desa Wisata Halal: Magnet Baru Wisatawan
Kekuatan ekonomi syariah Sumbar terlihat nyata di sektor pariwisata. Tercatat ada 566 desa wisata yang kini menjadi ujung tombak destinasi halal nasional. Keberhasilan Sumbar masuk dalam tiga besar destinasi wisata halal terbaik di Indonesia bukan tanpa alasan. Penguatan wisata budaya yang selaras dengan nilai keagamaan terbukti mampu mendongkrak angka kunjungan wisatawan secara signifikan.
Untuk mendukung ribuan pelaku usaha di desa-desa wisata tersebut, Pemprov menggulirkan program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI). Langkah ini memastikan produk UMKM lokal memiliki standar global yang dicari wisatawan halal, didukung oleh digitalisasi transaksi berbasis QRIS Syariah yang mulai menjamur di masjid-masjid dan gerai UMKM desa.
Inovasi Sukuk Daerah untuk Pembangunan Nagari
Di tengah keterbatasan fiskal daerah, Mahyeldi mengambil langkah berani dengan menyiapkan penerbitan sukuk daerah. Instrumen pembiayaan syariah ini diproyeksikan menjadi solusi alternatif untuk membiayai pembangunan infrastruktur daerah yang selama ini terkendala dana segar.
“Penerbitan sukuk ini menjadi langkah strategis untuk mendukung pembiayaan pembangunan daerah,” tegas Mahyeldi. Sukuk daerah ini diharapkan mampu menutup celah keterbatasan fiskal tanpa harus membebani neraca keuangan secara konvensional, sekaligus memberikan ruang bagi publik untuk berinvestasi dalam pembangunan tanah kelahirannya.
Pusat Pembelajaran dan Literasi Global
Penguatan ekosistem tidak hanya berhenti di sektor keuangan. Kawasan Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi kini ditetapkan sebagai pusat Halal Life Style. Kawasan ini menjadi episentrum pembelajaran ekonomi syariah sekaligus pembinaan karakter bagi generasi muda melalui berbagai program motivasi seperti KLIK MEMO.
Di level global, Sumbar rutin mengasah literasi ekonominya melalui forum internasional seperti World Islamic Entrepreneur Summit (WIES). Ambisinya besar: menjadikan Sumatera Barat sebagai pusat industri halal terkemuka di Indonesia bagian barat, di mana kemajuan ekonomi berjalan beriringan dengan nilai-nilai religiusitas yang mengakar di setiap nagari.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.