Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Sambil memegang lembar data balita di Pendopo Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Waseni mengingat kembali kondisi desanya beberapa tahun lalu. Sebagai kader kesehatan, ia tahu betul bagaimana rasanya berada di posisi buncit. Pada tahun 2022, Wonorejo memegang rekor kelam sebagai desa dengan kasus stunting tertinggi di Kecamatan Singosari, dengan angka mencapai 159 anak.
Namun, dalam Rembuk Stunting Desa yang digelar 31 Juli 2026 lalu, suasananya sudah jauh berubah. Dari total 350 balita yang tersebar di lima Posyandu, tim kesehatan desa kini hanya perlu mengawasi ketat lima balita dengan berat badan kurang dan dua ibu hamil dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK).
Bagaimana cara mereka memotong angka riwayat gizi buruk tersebut? Jawabannya justru berada di luar fasilitas kesehatan: di kawasan hutan desa.

Hubungan Antara Air Bersih dan Gizi Balita
Bagi pemerintah desa dan warga Wonorejo, stunting bukan sekadar urusan telat memberi makan atau vitamin. Masalah ini ditarik ke akarnya, yaitu krisis air bersih terparah yang melanda desa pada tahun 2017.
“Waktu kemarau, kami benar-benar bergantung pada bantuan truk tangki karena mata air menyusut drastis,” kenang Rusmin, salah satu warga.
Sanitasi yang buruk akibat minimnya air bersih otomatis membuat anak-anak rentan terkena infeksi pencernaan berulang—salah satu pemicu utama kegagalan penyerapan gizi (stunting). Sadar akan rantai masalah ini, Sekretaris Desa Wonorejo, Abdul Halim, menjelaskan bahwa desa mengambil langkah jangka panjang dengan memulihkan daerah tangkapan air melalui penanaman ribuan pohon di kawasan hutan.
Proses tersebut memakan waktu delapan tahun hingga vegetasi hutan rapat kembali, debit air tanah stabil, dan pipa-pipa air warga kembali mengalirkan air tanpa putus.
Pangan Lokal yang Naik Kelas
Begitu urusan air bersih dan sanitasi dasar beres, warga mulai memanfaatkan stabilitas air tersebut untuk membangun ketahanan pangan mandiri di pekarangan rumah masing-masing.
Alih-alih bergantung pada paket biskuit kemasan, kader kesehatan melatih para ibu mengolah potensi lokal yang murah namun padat gizi. Pohon kelor yang tumbuh subur di pekarangan diolah menjadi variasi menu harian. Sementara itu, pasokan susu segar dari peternak lokal dialihkan sebagian untuk diproduksi menjadi yogurt bagi balita dan ibu hamil.
Untuk memenuhi kebutuhan protein hewani secara cepat, desa menggalakkan sistem Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember). Setiap rumah tangga kini memiliki akses langsung ke sumber protein segar tanpa harus mengeluarkan biaya belanja tinggi.
Mengejar Angka Nol
Penurunan kasus dari ratusan menjadi hitungan jari dalam empat tahun terakhir merupakan pembuktian taktik hulu-hilir ini. Kepala Desa Wonorejo, Samsul Hadi, menegaskan anggaran dan kebijakan desa ke depan akan tetap mengawal program integrasi lingkungan dan kesehatan ini secara konsisten.
Wonorejo memberi contoh konkret bagi wilayah lain: bahwa menyelesaikan masalah kesehatan kronis seperti stunting sering kali tidak cukup hanya dengan intervensi medis di meja posyandu, melainkan harus dimulai dengan memperbaiki kualitas lingkungan tempat anak-anak tersebut tumbuh.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.