Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KESEHATAN · 17 Mei 2026 21:52 WIB ·

Birokrasi Rumit Lumpuhkan Harapan Petani Miskin Desa Jontor


					Ahmad Rambe (kanan) Ketua Ormas LAKI DPC Subulussalam menyerahkan kursi roda yang diberikan warga secara suka rela. (Foto: Ist) Perbesar

Ahmad Rambe (kanan) Ketua Ormas LAKI DPC Subulussalam menyerahkan kursi roda yang diberikan warga secara suka rela. (Foto: Ist)

Subulussalam, Nangroe Aceh darussalam [DESA MERDEKA] Nasib tragis menimpa Dedy Sahputra (37), seorang petani dari Desa Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam. Sudah empat bulan ia terbaring sakit di rumah sederhananya akibat tertimpa pohon saat bekerja pada Januari 2026 lalu. Ironisnya, di tengah kondisi tulang belakang patah dan dipasang 18 pen, ia justru harus berhadapan dengan tembok birokrasi pemerintah daerah yang kaku dan mempersulit ruang geraknya untuk pulih.

Dedy harus menjalani empat kali operasi di RSUD dr Zainoel Abidin Banda Aceh. Dokter menyatakan bagian perut ke bawahnya kini mati rasa dan butuh waktu lama untuk normal kembali. Jangankan untuk ke kamar mandi, untuk duduk saja Dedy tidak mampu karena punggungnya langsung terasa panas membara.

Administrasi Rumit dan Bansos yang Kandas
Himpitan ekonomi kian mencekik keluarga miskin dengan tiga anak ini. Sang istri, Rusdiana Bancin, kini terpaksa memikul beban ganda sebagai ibu rumah tangga sekaligus tulang punggung keluarga baru. Perjuangan mereka untuk mendapatkan hak sebagai warga miskin pun berujung kekecewaan mendalam akibat rumitnya urusan administrasi di pemerintahan.

Mereka sempat mengurus berkas bantuan sosial (bansos) pendamping pasien rujukan keluarga miskin ke luar daerah dari Pemerintah Kota Subulussalam. Namun, syarat yang terlalu banyak, rumit, dan memakan waktu lama membuat pasutri ini terpaksa menyerah di tengah jalan. Jaring pengaman sosial yang harusnya menjadi penolong justru berubah menjadi beban administrasi yang melelahkan.

Jawaban Miris Dinas Sosial Soal Kursi Roda
Kekecewaan Dedy tidak berhenti di situ. Demi bisa sedikit bergerak, ia mengajukan proposal bantuan kursi roda ke Dinas Sosial Kota Subulussalam. Jawaban yang ia terima justru sangat menyakitkan dan memutus harapan pemulihannya fisik di rumah.

“Nggak ada pengadaan kursi roda untuk tahun ini,” ujar Dedy menirukan jawaban dingin dari pihak Dinas Sosial. Kini, tanpa bantuan alat mobilitas dan jaminan pengobatan, harapan terakhir keluarga petani Desa Jontor ini tertuju pada Baitul Mal Kota Subulussalam agar sudi mengulurkan bantuan modal usaha rumahan demi menyambung hidup anak-anak mereka.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 118 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Menghitung Detak Jantung Generasi: Cara Singosari Melawan Stunting

21 Juli 2026 - 21:03 WIB

Rakor Kader Pembangunan Manusia Kecamatan Singosari membahas percepatan penurunan stunting melalui e-HDW di Hall Room Desa Ardimulyo

Layanan Jiwa PDSKJI Sumbar Sasar Pelosok Nagari

20 Juli 2026 - 20:19 WIB

Digitalisasi Hati dari Desa: Gerakan Akar Rumput Sigap Melati

1 Juli 2026 - 19:58 WIB

Penanganan Stunting Desa Langlang melalui Rembuk Stunting

Korupsi SKTM RSUD Tulungagung Cederai Hak Sehat Warga Desa

26 Juni 2026 - 18:05 WIB

Desa Dengkol Mengubah Rembug Stunting Menjadi Laboratorium Solusi

24 Juni 2026 - 13:34 WIB

Syarat MCU Bakal Calon Kades Bekasi Kini Lebih Mudah

18 Juni 2026 - 05:20 WIB

Trending di KESEHATAN