Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] – Di balik dinding kokoh dan atmosfer historis Benteng Fort Willem I—atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa—tersimpan kejutan yang memikat para pelancong. Bukan sekadar wisata sejarah, sudut benteng ini bertransformasi menjadi ruang edukasi satwa predator malam melalui kehadiran berbagai koleksi burung hantu eksotis yang bisa diajak berinteraksi langsung oleh pengunjung.
Berlokasi di antara dua gedung megah benteng tersebut, sejumlah jenis burung hantu tampak berjajar dengan gagah namun tenang. Koleksi ini mencakup berbagai spesies, mulai dari yang sering dijumpai hingga yang langka, seperti Tyto alba (Serak Jawa), Strix seloputo (Burung Hantu Pohon), Strix leptogrammica (Hantu Gunung), hingga si predator besar yang memukau, Bubo sumatranus (Hantu Beluk Jampuk).
Rosa dan William: Sang Senior di Benteng Tua
Di antara sekian banyak koleksi, ada sosok “Rosa”, seekor burung hantu betina yang telah menjadi senior selama delapan tahun. Selain Rosa, ada pula pendatang baru bernama “William”, burung hantu berwarna putih bersih yang namanya diambil dari lokasi benteng tersebut. William dengan cepat menjadi favorit pengunjung untuk sesi swafoto karena warnanya yang eksotis dan karakter yang tenang.
Pemilik koleksi ini menjelaskan bahwa keberadaan burung-burung ini di Benteng Pendem bukan sekadar untuk pajangan komersial. “Kami ingin memberikan edukasi agar burung hantu tidak terabaikan. Selama ini banyak orang hanya tahu satu-dua jenis saja, di sini kami mengenalkan ada banyak sekali jenisnya,” ungkapnya.
Fakta Menarik: Nafsu Makan Sang Predator
Banyak yang terkejut saat mengetahui pola makan satwa ini. Seekor burung hantu besar ternyata mampu menghabiskan 15 hingga 20 ekor anakan burung puyuh dalam sekali makan. Dalam tiga hari, pengelola harus menyediakan stok hingga 500 ekor puyuh jantan—yang biasanya merupakan residu dari peternakan petelur—sebagai pakan alami bagi para predator ini.
Meskipun burung hantu dikenal sebagai predator atau “elang malam”, burung-burung di sini telah dijinakkan sejak anakan agar bisa berinteraksi dengan manusia tanpa rasa takut atau agresif.
Wisata Edukasi Berbasis Sukarela
Berbeda dengan objek wisata satwa pada umumnya, sesi foto dan interaksi dengan burung hantu di Benteng Pendem ini tidak dipatok dengan tarif tertentu. Pengelola menerapkan sistem sukarela. Pengunjung bebas berfoto sepuasnya sambil mendapatkan informasi mengenai karakteristik masing-masing spesies.
Langkah ini diambil agar misi edukasi tersampaikan kepada khalayak luas, sekaligus menghapus stigma menyeramkan yang sering melekat pada burung malam ini. Ke depannya, koleksi jenis burung hantu di lokasi ini direncanakan akan terus bertambah untuk memperkaya pengetahuan masyarakat tentang kekayaan fauna Indonesia.



















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.