Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

JALAN JAJAN · 20 Jan 2026 18:33 WIB ·

Sisi Lain Benteng Fort Willem I: Edukasi Burung Hantu Eksotis


					Sisi Lain Benteng Fort Willem I: Edukasi Burung Hantu Eksotis Perbesar

Ambarawa, Jawa Tengah [DESA MERDEKA] Di balik dinding kokoh dan atmosfer historis Benteng Fort Willem I—atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem Ambarawa—tersimpan kejutan yang memikat para pelancong. Bukan sekadar wisata sejarah, sudut benteng ini bertransformasi menjadi ruang edukasi satwa predator malam melalui kehadiran berbagai koleksi burung hantu eksotis yang bisa diajak berinteraksi langsung oleh pengunjung.

Berlokasi di antara dua gedung megah benteng tersebut, sejumlah jenis burung hantu tampak berjajar dengan gagah namun tenang. Koleksi ini mencakup berbagai spesies, mulai dari yang sering dijumpai hingga yang langka, seperti Tyto alba (Serak Jawa), Strix seloputo (Burung Hantu Pohon), Strix leptogrammica (Hantu Gunung), hingga si predator besar yang memukau, Bubo sumatranus (Hantu Beluk Jampuk).

Rosa dan William: Sang Senior di Benteng Tua
Di antara sekian banyak koleksi, ada sosok “Rosa”, seekor burung hantu betina yang telah menjadi senior selama delapan tahun. Selain Rosa, ada pula pendatang baru bernama “William”, burung hantu berwarna putih bersih yang namanya diambil dari lokasi benteng tersebut. William dengan cepat menjadi favorit pengunjung untuk sesi swafoto karena warnanya yang eksotis dan karakter yang tenang.

Pemilik koleksi ini menjelaskan bahwa keberadaan burung-burung ini di Benteng Pendem bukan sekadar untuk pajangan komersial. “Kami ingin memberikan edukasi agar burung hantu tidak terabaikan. Selama ini banyak orang hanya tahu satu-dua jenis saja, di sini kami mengenalkan ada banyak sekali jenisnya,” ungkapnya.

Fakta Menarik: Nafsu Makan Sang Predator
Banyak yang terkejut saat mengetahui pola makan satwa ini. Seekor burung hantu besar ternyata mampu menghabiskan 15 hingga 20 ekor anakan burung puyuh dalam sekali makan. Dalam tiga hari, pengelola harus menyediakan stok hingga 500 ekor puyuh jantan—yang biasanya merupakan residu dari peternakan petelur—sebagai pakan alami bagi para predator ini.

Meskipun burung hantu dikenal sebagai predator atau “elang malam”, burung-burung di sini telah dijinakkan sejak anakan agar bisa berinteraksi dengan manusia tanpa rasa takut atau agresif.

Wisata Edukasi Berbasis Sukarela
Berbeda dengan objek wisata satwa pada umumnya, sesi foto dan interaksi dengan burung hantu di Benteng Pendem ini tidak dipatok dengan tarif tertentu. Pengelola menerapkan sistem sukarela. Pengunjung bebas berfoto sepuasnya sambil mendapatkan informasi mengenai karakteristik masing-masing spesies.

Langkah ini diambil agar misi edukasi tersampaikan kepada khalayak luas, sekaligus menghapus stigma menyeramkan yang sering melekat pada burung malam ini. Ke depannya, koleksi jenis burung hantu di lokasi ini direncanakan akan terus bertambah untuk memperkaya pengetahuan masyarakat tentang kekayaan fauna Indonesia.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 72 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Nagari Anduriang Siap Jadi Destinasi Wisata Halal Unggulan

15 Juni 2026 - 08:54 WIB

Pasar Kampung Samiler: Branding Unik Desa Wisata Wonosunyo

15 Juni 2026 - 07:42 WIB

Satu Abad Jam Gadang, Momen Kebangkitan Wisata Minang

30 Mei 2026 - 05:43 WIB

Paket Wisata Hotel Mewah Wajib Gandeng Desa Wisata

17 Mei 2026 - 21:31 WIB

Mentawai: Menata Surga Dunia Agar Desa Tak Terpinggirkan

13 Mei 2026 - 09:40 WIB

Terobosan Guru MGMP IPS: Ubah Benteng Tua Jadi Ruang Kelas

2 Mei 2026 - 08:19 WIB

Trending di JALAN JAJAN