Sijunjung, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Saat banyak daerah berjuang mengejar target anggaran, UPTD Samsat Sijunjung justru tampil sebagai “mesin uang” bagi Sumatera Barat. Setelah sukses mencatatkan surplus pendapatan sebesar Rp5,83 miliar pada 2025, kini perhatian dialihkan pada potensi pajak yang selama ini sering terabaikan: Pajak Air Permukaan (PAP) dan Pajak Alat Berat (PAB).
Ketua DPRD Sumatera Barat, Muhidi, dalam kunjungan kerjanya pada Kamis (29/1/2026), menegaskan bahwa kolaborasi antara Samsat dan Pemkab Sijunjung harus naik kelas. Fokus utamanya bukan lagi sekadar kendaraan pribadi, melainkan sektor industri dan investasi besar yang mulai menjamur di Bumi Lansek Manih.
“UPTD Samsat Sijunjung sudah membuktikan kinerjanya dengan surplus signifikan. Namun, data objek pajak seperti air permukaan dan alat berat harus divalidasi ulang agar tidak ada potensi yang bocor,” ujar Muhidi.
Dominasi “Wheel Loader” dan Investasi Baru
Optimisme Muhidi bukan tanpa alasan. Berdasarkan data teknis, Sijunjung mulai diramaikan oleh investasi alat berat keluaran terbaru (2024–2025). Saat ini, terdata tujuh unit wheel loader yang dioperasikan oleh perusahaan besar seperti PT Sawit Makmur Perkasa, PT Sumatera Karya Agro, dan PT Kemilau Permata Sawit. Pertumbuhan alat berat ini adalah sinyal positif bagi Pajak Alat Berat (PAB) di masa depan.
Di sektor Pajak Air Permukaan, PDAM Tirta Sanjung Buana masih menjadi kontributor utama. Namun, keterlibatan perusahaan pengolahan sawit dalam membayar pajak air menunjukkan bahwa sektor industri mulai sadar akan kewajiban legal mereka terhadap lingkungan.
Rapor Hijau di Sektor Kendaraan
Kasi Penagihan dan Penerimaan UPTD Samsat Sijunjung, Rio Satria, membeberkan bahwa pencapaian 123,2 persen pada tahun lalu menempatkan Sijunjung di posisi kedua terbaik se-Sumatera Barat. Lonjakan paling drastis terjadi pada sektor Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yang realisasinya menembus angka 168,29 persen dari target.
Strategi “Target Perubahan” yang mengedepankan transformasi layanan dan kemudahan akses menjadi kunci sukses tersebut. Dengan total Opsen PKB dan BBNKB yang mencapai Rp21,53 miliar, Sijunjung kini menjadi tulang punggung yang kokoh bagi pendapatan daerah. Tantangan tahun 2026 adalah mengubah data mentah menjadi rupiah nyata melalui pemungutan yang lebih agresif namun tetap ramah kepada wajib pajak.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.