Padang Pariaman, Sumatera Barat [DESA MERDEKA] – Kabar baik berembus dari lahan sawah Korong Tanah Taban, Nagari Pasie Laweh Lubuk Alung. Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, resmi menyatakan bahwa rehabilitasi lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi untuk kategori rusak ringan dan sedang telah rampung 100 persen. Dengan kucuran dana Rp32,9 miliar dari Kementerian Pertanian, para petani kini bisa kembali turun ke sawah untuk memulai musim tanam serentak.
Keberhasilan ini menempatkan Sumatera Barat sebagai “Juara Satu” dalam kecepatan pemulihan lahan di tingkat nasional, jauh melampaui rata-rata progres daerah lain yang baru menyentuh angka 14 persen. Namun, di balik keberhasilan ini, tantangan besar masih membentang di depan mata, terutama bagi petani yang kehilangan sawahnya secara permanen.
Misi Menyelamatkan Sawah yang “Hilang”
Meski kategori rusak ringan telah tuntas, pemerintah daerah kini dihadapkan pada kenyataan pahit: hilangnya sekitar 4.000 hektare sawah yang tersapu longsor atau berubah menjadi aliran sungai. Total terdapat 7.000 hektare lahan berkategori rusak berat yang memerlukan penanganan khusus. Penanganan ini tidak bisa hanya mengandalkan Kementerian Pertanian, melainkan butuh campur tangan Kementerian PU untuk merekayasa kembali aliran sungai yang kini mencaplok lahan tani warga.
Dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) telah diserahkan ke Pemerintah Pusat. Harapannya, kepastian anggaran rekonstruksi ini segera turun pada bulan Mei ini agar petani yang kehilangan lahan tidak berlama-lama dalam ketidakpastian.
Kejar Tayang Sebelum El Nino Melanda
Selain pemulihan lahan, pemerintah kini memacu petani untuk mempercepat proses tanam. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Ancaman musim kering dan dampak El Nino diprediksi akan mulai mengganas pada akhir Juni hingga Juli mendatang. Jika proses tanam tidak dipercepat sekarang, risiko gagal panen akibat kekeringan akan mengintai desa-desa lumbung pangan di Sumatera Barat.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Pertanian telah menyiapkan infrastruktur pendukung mulai dari irigasi perpompaan hingga pembangunan sumur dalam. Desa-desa terdampak diminta segera mengajukan usulan agar fasilitas ini bisa terpasang sebelum sumur-sumur warga mulai mengering.
Rincian Kerusakan di Padang Pariaman
Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, merinci betapa seriusnya dampak bencana bagi sektor pertanian di wilayahnya. Tercatat 1.263,4 hektare sawah terdampak, di mana 100,5 hektare di antaranya benar-benar hilang terbawa arus. Tak hanya sawah, lahan jagung seluas 570,35 hektare juga ikut terdampak. Pemerintah daerah terus mendesak agar alokasi bantuan untuk kategori rusak berat dan lahan hilang segera terealisasi demi menyambung napas ekonomi para petani lokal.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.