Bantaeng, Sulawesi Selatan [DESA MERDEKA] – Fenomena El Nino yang melanda Kabupaten Bantaeng telah mengubah ratusan hektar persawahan menjadi hamparan tanah retak. Alih-alih merayakan masa panen, para petani di wilayah seperti Tompobulu dan Bissappu kini terancam gagal panen total akibat kekeringan ekstrem yang diprediksi bertahan hingga akhir tahun. Ironisnya, di tengah kondisi darurat ini, program asuransi pertanian yang sempat digembar-gemborkan sebagai “perlindungan terbaik” bagi petani Bantaeng justru dinilai tidak terasa manfaatnya oleh para korban terdampak.
Rugi Jutaan Rupiah dalam Sekejap
Dg Karo, seorang petani di Kampung Ra’ra, Kelurahan Banyorang, hanya bisa pasrah melihat padi miliknya yang berumur 40 hari kini mati mengering. Bergantung sepenuhnya pada irigasi yang sudah surut, ia harus menanggung kerugian finansial yang tidak sedikit. “Sewa traktor 400 ribu, benih 500 ribu, ditambah pupuk 135 ribu. Semuanya lenyap begitu saja,” ungkap Dg Karo dengan senyum pahit.

Asuransi Pertanian: Antara Harapan dan Fakta
Kasus kekeringan di Bantaeng membuka tabir masalah pada distribusi asuransi pertanian. Meski pada April 2023 Kementerian Pertanian menyebut Bantaeng sebagai daerah terbaik dalam perlindungan petani, fakta di lapangan berbicara sebaliknya bagi sebagian warga. Suaib, petani lain di lokasi yang sama, mengaku tidak pernah mendapatkan klaim asuransi meski berulang kali tertimpa musibah pada lahan kelolaannya. “Di komunitas kami, khususnya di Kalame, tidak ada yang pernah merasakan asuransi itu. Padahal kami dengar di tempat lain ada yang dapat,” tuturnya.

Benteng Pangan yang Mulai Goyah
Pantauan di lapangan menunjukkan kekeringan meluas hingga ke Kampung Tanetea, Kassi-kassi, dan sebagian Desa Bonto Jai di Kecamatan Bissappu. Sawah yang seharusnya menjadi benteng pertahanan pangan kini lumpuh total. Masyarakat kini mendesak Pemerintah Kabupaten Bantaeng untuk segera turun tangan. Diperlukan respons cepat, mulai dari bantuan darurat hingga transparansi mengenai prosedur klaim asuransi pertanian. Penjelasan yang jujur dari instansi terkait sangat dibutuhkan agar petani tidak merasa berjuang sendirian melawan fenomena alam yang kian tak menentu ini.

Hasan Habibu Lahir di Bantaeng Sulawesi Selatan 1 Januari 1975.
Pendidikan S1 STAI Al-furqan Makasar / Jurusan Pendidikan Agama Islam. lulus tahun 2016
Selain sebagai Pendamping Lokal Desa beberapa Organisasipun terlibat di dalamnya, DA’I KAMTIBMAS POLRES BANTAENG bidang KOMUNIKASI ANTAR LEMBAGA, FORUM DA’I POLSEK TOMPOBULU SBG PENASEHAT, IKATAN PELAJAR MUHAMNADIYAH SBG ANGGOTA.
Beberapa penghargaan di raih seperti juara terbaik dua Tingkat Kabupaten Bantaeng Sebagai Tim Pengelolah Kegiatan / TPK 2011. Penghargaan Kapolres sebagai Relawan Covid-19 tahun 2020.
Penghargaan MPR RI dalam sosialisasi Pancasila dan UUD 45 Negara kesatuan RI dan bhinneka tunggal Ika tahun 2011. Dll

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.