Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] – Embung Lowokjati di Desa Baturetno, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kini sedang tidak prima. Waduk kecil yang menjadi urat nadi pengairan bagi puluhan hektare sawah warga ini mengalami pendangkalan serius akibat sedimentasi lumpur. Dampaknya dirasakan langsung oleh para petani setempat yang mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk lahan mereka.
“Dulu kami bisa panen sampai tiga kali dalam setahun. Sekarang, setelah embung semakin dangkal, paling hanya sekali. Kami berharap Embung Lowokjati bisa dikeruk lagi agar sawah kami kembali produktif,” ujar Untung Hariyanto, salah satu petani di Dusun Benel.
Keluhan tersebut mencerminkan realitas penurunan produktivitas pertanian di desa. Akibat pasokan air irigasi menyusut drastis saat musim kemarau, hasil panen padi yang dulunya mampu mencapai 7–8 ton per hektare kini merosot hingga tinggal 3–4 ton saja. Kondisi ini juga memicu berkurangnya jumlah petani aktif dari yang semula sekitar 150–200 orang menjadi tinggal 130 orang.

Urat Nadi Pertanian Dua Desa
Secara teknis, Embung Lowokjati memiliki luas lahan mencapai 15.311 meter persegi dengan kapasitas tampung maksimal sebesar 38.277 meter kubik. Infrastruktur pengairan ini bertanggung jawab mengaliri sekitar 60 hektare lahan pertanian subur yang tersebar di wilayah Desa Baturetno dan Desa Dengkol.
Selain fungsi utamanya sebagai fasilitas irigasi, area embung ini sebenarnya memiliki keunikan karena terdapat makam leluhur pendiri desa di tengah genangan airnya. Potensi sosial ini sering dimanfaatkan warga sekitar untuk lokasi memancing atau sekadar ruang santai warga. Namun, semua potensi tersebut kini terancam tidak optimal jika masalah utama berupa pendangkalan air tidak segera diselesaikan.
Kepala Desa Baturetno, Solehan, menegaskan bahwa perbaikan embung ini sudah menjadi program prioritas yang mendesak.
“Pemerintah desa sangat berharap adanya bantuan revitalisasi fisik. Target kami sederhana, yaitu air tetap mengalir ke sawah saat musim kemarau sehingga petani bisa kembali menanam dua sampai tiga kali setahun. Jika irigasi lancar, kesejahteraan ekonomi warga desa pasti ikut terangkat,” jelasnya.
Solusi Teknis Jangka Panjang
Masalah penumpukan lumpur atau sedimentasi seperti ini merupakan tantangan klasik yang dihadapi oleh banyak fasilitas embung desa di Indonesia. Melakukan pengerukan lumpur secara berkala (normalisasi) memang langkah yang wajib diambil segera untuk mengembalikan volume tampungan air. Namun, pengerukan saja hanya akan menjadi solusi sementara jika sumber erosi tanah dari hulu saluran air tidak dihambat.
Sebagai langkah perbaikan yang lebih berkelanjutan, desa memerlukan pembangunan kolam pengendap sedimen (sediment trap) tepat di titik sebelum aliran air masuk ke dalam embung utama. Kolam jebakan ini berfungsi menyaring dan menahan laju lumpur bawaan sungai. Dengan metode ini, usia tampung embung pasca-pengerukan bisa bertahan jauh lebih lama serta menghemat biaya pemeliharaan rutin desa di masa depan.
Mengingat Embung Lowokjati terhubung ke dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, koordinasi kerja sama menjadi kunci utama. Penanganan fasilitas desa ini memerlukan dukungan bersama dari pihak BBWS Brantas, Pemerintah Kabupaten Malang, jajaran pemerintah desa, serta pendampingan teknis dari akademisi perikanan atau pertanian.
Mengembalikan fungsi utama pengairan pertanian di Embung Lowokjati adalah investasi paling nyata untuk mengamankan roda ekonomi harian ratusan kepala keluarga petani di Baturetno.

Mochamad Fajar Kurniawan adalah Founder Forum Handarbeni Singhasari (FONDASI), CEO Raja Kebab Singosari dan Raja Ayam Geprek Singosari, serta anggota Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Singosari sejak 2017. Alumni SMAN 3 Malang (BHAWIKARSU) dan Universitas Brawijaya ini juga menjadi Pembina Paguyuban Batik Singosari dan Paguyuban Batik Lawang.Jurnalis
Berbekal pengalaman sebagai mantan Pemimpin Redaksi sebuah tabloid di Kota Malang, ia aktif menulis tentang tata kelola pemerintahan desa, pemberdayaan masyarakat, ekonomi lokal, UMKM, pelestarian budaya, dan pembangunan berbasis potensi desa. Melalui tulisan dan kegiatan pendampingan, ia berkomitmen mendorong lahirnya desa-desa yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan.

















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.