Menu

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

DESA · 29 Jul 2026 06:43 WIB ·

Revitalisasi Embung Lowokjati: Solusi Air Irigasi Petani Baturetno


					Embung Lowokjati di Desa Baturetno menjadi sumber irigasi utama bagi puluhan hektare lahan pertanian di Kecamatan Singosari. Perbesar

Embung Lowokjati di Desa Baturetno menjadi sumber irigasi utama bagi puluhan hektare lahan pertanian di Kecamatan Singosari.

Malang, Jawa Timur [DESA MERDEKA] Embung Lowokjati di Desa Baturetno, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kini sedang tidak prima. Waduk kecil yang menjadi urat nadi pengairan bagi puluhan hektare sawah warga ini mengalami pendangkalan serius akibat sedimentasi lumpur. Dampaknya dirasakan langsung oleh para petani setempat yang mulai kesulitan mendapatkan pasokan air bersih untuk lahan mereka.

“Dulu kami bisa panen sampai tiga kali dalam setahun. Sekarang, setelah embung semakin dangkal, paling hanya sekali. Kami berharap Embung Lowokjati bisa dikeruk lagi agar sawah kami kembali produktif,” ujar Untung Hariyanto, salah satu petani di Dusun Benel.

Keluhan tersebut mencerminkan realitas penurunan produktivitas pertanian di desa. Akibat pasokan air irigasi menyusut drastis saat musim kemarau, hasil panen padi yang dulunya mampu mencapai 7–8 ton per hektare kini merosot hingga tinggal 3–4 ton saja. Kondisi ini juga memicu berkurangnya jumlah petani aktif dari yang semula sekitar 150–200 orang menjadi tinggal 130 orang.

Petani Desa Baturetno menunjukkan lahan pertanian yang bergantung pada pasokan air dari Embung Lowokjati.
Petani Desa Baturetno berharap revitalisasi Embung Lowokjati dapat meningkatkan kembali pasokan air sehingga frekuensi tanam dan hasil panen kembali optimal.

Urat Nadi Pertanian Dua Desa
Secara teknis, Embung Lowokjati memiliki luas lahan mencapai 15.311 meter persegi dengan kapasitas tampung maksimal sebesar 38.277 meter kubik. Infrastruktur pengairan ini bertanggung jawab mengaliri sekitar 60 hektare lahan pertanian subur yang tersebar di wilayah Desa Baturetno dan Desa Dengkol.

Selain fungsi utamanya sebagai fasilitas irigasi, area embung ini sebenarnya memiliki keunikan karena terdapat makam leluhur pendiri desa di tengah genangan airnya. Potensi sosial ini sering dimanfaatkan warga sekitar untuk lokasi memancing atau sekadar ruang santai warga. Namun, semua potensi tersebut kini terancam tidak optimal jika masalah utama berupa pendangkalan air tidak segera diselesaikan.

Kepala Desa Baturetno, Solehan, menegaskan bahwa perbaikan embung ini sudah menjadi program prioritas yang mendesak.

“Pemerintah desa sangat berharap adanya bantuan revitalisasi fisik. Target kami sederhana, yaitu air tetap mengalir ke sawah saat musim kemarau sehingga petani bisa kembali menanam dua sampai tiga kali setahun. Jika irigasi lancar, kesejahteraan ekonomi warga desa pasti ikut terangkat,” jelasnya.

Solusi Teknis Jangka Panjang
Masalah penumpukan lumpur atau sedimentasi seperti ini merupakan tantangan klasik yang dihadapi oleh banyak fasilitas embung desa di Indonesia. Melakukan pengerukan lumpur secara berkala (normalisasi) memang langkah yang wajib diambil segera untuk mengembalikan volume tampungan air. Namun, pengerukan saja hanya akan menjadi solusi sementara jika sumber erosi tanah dari hulu saluran air tidak dihambat.

Sebagai langkah perbaikan yang lebih berkelanjutan, desa memerlukan pembangunan kolam pengendap sedimen (sediment trap) tepat di titik sebelum aliran air masuk ke dalam embung utama. Kolam jebakan ini berfungsi menyaring dan menahan laju lumpur bawaan sungai. Dengan metode ini, usia tampung embung pasca-pengerukan bisa bertahan jauh lebih lama serta menghemat biaya pemeliharaan rutin desa di masa depan.

Mengingat Embung Lowokjati terhubung ke dalam sistem Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, koordinasi kerja sama menjadi kunci utama. Penanganan fasilitas desa ini memerlukan dukungan bersama dari pihak BBWS Brantas, Pemerintah Kabupaten Malang, jajaran pemerintah desa, serta pendampingan teknis dari akademisi perikanan atau pertanian.

Mengembalikan fungsi utama pengairan pertanian di Embung Lowokjati adalah investasi paling nyata untuk mengamankan roda ekonomi harian ratusan kepala keluarga petani di Baturetno.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Modal Rekam Jejak Petahana Bantarjaya Hadapi Tiga Rival

29 Juli 2026 - 15:48 WIB

Buku Narkoba PAUD-SMA: Inovasi Pencegahan dari Randupitu

29 Juli 2026 - 06:04 WIB

Warga Lubuk Buaya Padang Kompak Merahkan Kampung Jelang HUT RI

26 Juli 2026 - 17:01 WIB

Warga Desa Gajah Swadaya Tambal Jalan Rusak Ponorogo

26 Juli 2026 - 14:30 WIB

Cara Desa Banjararum Turunkan Stunting Lewat Aplikasi e-HDW

25 Juli 2026 - 11:17 WIB

Rembuk Stunting Desa Banjararum Kecamatan Singosari membahas percepatan Zero Stunting dan penyusunan RKP Desa 2027 melalui pemanfaatan e-HDW.

Rebutan Kursi BPD Sidodadi Banyuwangi: Dusun Krajan Memanas!

24 Juli 2026 - 18:47 WIB

Trending di DESA