Pebayuran, Bekasi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Kamis (10/9/2026) menjadi penanda bahwa kontestasi politik di tingkat akar rumput Kecamatan Pebayuran telah memasuki babak baru. Pengundian nomor urut Pilkades Desa Bantarjaya tidak sekadar menetapkan angka di atas kertas: Layla Rizki, S.Sos. di nomor urut 1, Samsudin, S.E. di nomor urut 2, Misri di nomor urut 3, dan petahana Abu Jihad Ubaidilah di nomor urut 4. Lebih dari itu, hari tersebut mempertontonkan mengapa Bantarjaya layak disebut sebagai hotspot demokrasi paling dinamis se-Pebayuran.
Lumpuhnya Jalan Raya Pebayuran akibat luapan konvoi massa pendukung sore itu menjadi indikator awal yang tak terbantahkan. Ketegangan positif ini wajar terjadi mengingat karakteristik geografis Bantarjaya yang unik. Berada di tepian Sungai Citarum yang membatasi Kabupaten Bekasi dan Karawang, desa agraris dengan dataran rendah ini menyimpan tantangan alam yang nyata. Masalah banjir musiman dan pengelolaan infrastruktur pertanian secara logis selalu menjadi komoditas politik utama di sini.
Hal inilah yang coba dikapitalisasi oleh Abu Jihad Ubaidilah. Berbekal rekam jejak delapan tahun kepemimpinannya, sang petahana maju dengan menyodorkan bukti fisik yang sudah berjalan, seperti realisasi program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) hingga pengecoran jalan-jalan lingkungan. Sebuah narasi keberlanjutan yang kuat, namun tidak lagi melenggang sendirian.
Dari ruang digital yang agresif, para penantang mulai mengikis dominasi tersebut dengan menawarkan alternatif yang segar. Samsudin, S.E., misalnya, bergerak lewat jaringan komunitas digital membawa perspektif ekonomi makro desa, fokus pada pembenahan UMKM serta transparansi pelayanan publik yang ia gaungkan sejak berkasnya dinyatakan lengkap awal Agustus lalu.
Di sisi lain, Layla Rizki, S.Sos., memanfaatkan pendekatan sosiologis untuk merangkul pemilih muda dan keterwakilan perempuan yang selama ini jarang tersentuh narasi pembangunan fisik. Sementara Misri, hadir memperkuat poros kultural yang menjaga simpul-simpul kerukunan antar-dusun agar tensi politik tidak melewati batas wajar.
Di bawah pengawalan ketat Polres Metro Bekasi untuk mengantisipasi potensi gesekan, Pilkades Bantarjaya periode 2026–2034 ini akhirnya menyajikan sebuah ruang kompetisi yang ideal. Masyarakat tidak lagi disodori narasi tunggal, melainkan sebuah spektrum pilihan yang kaya: antara melanjutkan pembangunan fisik yang sudah ada, atau melompat bersama pembaruan tata kelola sosial-ekonomi yang ditawarkan para penantang.
misru Ariyanto jurnalis desamerdeka, saat ini menjabat sekretaris parade Nusantara DPD kabupaten Bekasi


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.