Menu ✖

Mode Gelap
Siasat Desa Paenre Lompoe Merajut Prioritas di Tengah Badai Efisiensi APBDes 2027: Strategi Desa Batang Kejar Target Desa Zero Stunting Desa di Jawa Timur Kini Wajib Buka Informasi Jombang Jadi Kiblat Layanan Publik: Sukses Tembus Tiga Besar Nasional Tonggak Sejarah Baru: PPDI Boyolangu Perjuangkan Kesejahteraan Perangkat Desa

KABAR DESA · 9 Sep 2026 14:23 WIB ·

Sumpah Setia dan Bayang-Bayang Konflik di Balik Sterilisasi Pilkades Pebayuran


					Oplus_131072 Perbesar

Oplus_131072

Pebayuran, Bekasi, Jawa Barat [DESA MERDEKA] – Klaim kondusif yang dilontarkan Pemerintah Kecamatan Pebayuran dalam tahapan penetapan dan pengundian nomor urut calon kepala desa pada Rabu (9/9) kemarin, tampaknya menjadi alarm siaga satu yang tak bisa ditawar. Di balik senyum formalitas para birokrat, aparat gabungan TNI-Polri kini memperketat pengamanan di titik-kantong massa menyusul memanasnya suhu politik di akar rumput.

Camat Pebayuran, Hasyim Adnan Adha, bersama jajaran Kanit Intelkam Polsek Pebayuran dan Babinsa Koramil 11, turun langsung menyisir lokasi untuk memastikan gesekan tidak pecah.

Namun, pengamanan ketat ini bukan tanpa alasan. Langkah preventif ini diambil menyusul rentetan ketegangan psikologis dan isu manipulasi struktural yang sempat mencoreng wilayah ini beberapa bulan lalu.

Bara Dalam Sekam: Dari Sumbersari hingga Bantarjaya
Publik tentu belum lupa dengan skandal video viral yang mengguncang Desa Sumbersari, Pebayuran. Kala itu, sejumlah oknum Ketua RT dan RW diduga dipaksa mengucapkan sumpah setia di bawah Al-Qur’an untuk memenangkan kandidat petahana. Doktrin loyalitas ekstrem berbasis ancaman laknat keagamaan ini menciptakan polarisasi horizontal yang sangat tajam di kalangan warga.

Dampaknya langsung terasa pada tahapan krusial minggu ini. Kubu oposisi yang merasa ruang geraknya dijepit oleh elite desa mulai memperlihatkan resistensi, membuat intelijen kepolisian harus bekerja ekstra di wilayah tersebut untuk memetakan potensi sabotase suara di TPS.

Di sisi lain, ancaman ledakan fisik justru mengintai Desa Bantarjaya. Sebagai episentrum massa terbesar dengan estimasi 16.000 penduduk yang hidup mengelompok di gang-gang sempit, desa ini menjadi titik paling rawan konvoi kendaraan. Belajar dari kericuhan aksi saling dorong antar kubu pendukung saat penetapan nomor urut di Kecamatan Sukawangi yang bertetangga langsung, aparat tidak ingin kecolongan di Bantarjaya.

Menyaring Provokasi di Ruang Sempit
Secara geografis, 80 persen wilayah Pebayuran merupakan hamparan sawah. Namun, anomali ruang membuat seluruh penduduknya mengelompok di sisa 20 persen lahan pemukiman. Jarak antar-rumah yang menempel ketat dan gang-gang linear yang padat memicu efek ruang gema (echo chamber) sosial yang berbahaya. Satu gosip politik atau spanduk provokatif di media sosial bisa langsung menyulut bentrokan fisik dalam hitungan menit.

Pihak otoritas Kecamatan Pebayuran kini terus mewanti-wanti warga agar menyaring informasi dan tidak mudah terhasut isu provokatif di sisa masa kompetisi ini.

Bagi aparat, memastikan tahapan pengundian nomor urut kemarin berjalan aman hanyalah kemenangan kecil. Ujian sesungguhnya adalah meredam bara dalam sekam ini agar tidak meledak menjadi konflik horizontal pada hari pencoblosan nanti.

Follow WhatsApp Channel Desamerdeka.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow
Artikel ini telah dibaca 33 kali

badge-check

Jurnalis

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Sinergi Tiga Pilar Pebayuran Pasca-Pilkades di HUT TNI

5 Oktober 2026 - 16:29 WIB

Wakaf TPU: Jurus Jitu Kades Terpilih Satukan Mekarjaya

5 Oktober 2026 - 16:29 WIB

Jemu Janji Manis, Warga Obi Kompak Benahi Jalan

1 Oktober 2026 - 19:56 WIB

Ritual Pendinginan: Harmoni Adat dan Modernitas Pesisir Malaka

29 September 2026 - 19:22 WIB

Pilkades Bantarjaya: Tumbangnya Petahana dan Ujian Pj Mursidi

29 September 2026 - 12:55 WIB

Bansos Ribuan Warga Wonogiri Disetop Gegara Judol Pinjol

19 September 2026 - 06:11 WIB

Trending di KABAR DESA