Sleman, Yogyakarta [DESAMERDEKA] – Tradisi Merti Dusun Kranggan 1 di Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Sleman, Minggu (6/9/2026), kembali menjadi momentum warga untuk melestarikan budaya Jawa sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diisi dengan kirab budaya yang melibatkan sejumlah kelompok bregodo, pagelaran wayang kulit, serta kegiatan kebersamaan warga. Kirab menampilkan busana tradisional, gunungan hasil bumi, dan berbagai kreativitas masyarakat.
Suasana kebersamaan warga terlihat tidak hanya saat prosesi kirab berlangsung. Sejumlah warga juga berkumpul dan duduk bersama di atas tikar di sepanjang lokasi kegiatan. Berbagai makanan dan hasil bumi tampak tersaji di tengah-tengah warga sebagai bagian dari semangat kebersamaan dalam tradisi merti dusun.
Kirab menjadi salah satu bagian utama dalam rangkaian kegiatan merti dusun. Peserta dari sejumlah kelompok warga berjalan mengikuti rute yang telah ditentukan dengan membawa berbagai atribut budaya.
Pantauan di lokasi memperlihatkan peserta mengenakan busana tradisional Jawa. Beberapa kelompok tampil dalam formasi bregodo dengan membawa identitas wilayah masing-masing.

Bregodo RW 28 dan RW 29 menjadi bagian dari kelompok yang mengikuti prosesi. Penampilan mereka memperlihatkan keterlibatan masyarakat dalam menyiapkan dan menyajikan kreasi budaya secara bersama-sama.
Deretan umbul-umbul berwarna kuning dan hijau juga menghiasi jalur kegiatan. Dekorasi tersebut membuat suasana kampung semakin semarak dan memberikan nuansa khas perayaan tradisi masyarakat Jawa.
Gunungan hasil bumi turut dibawa dalam kirab. Kehadiran gunungan menambah kuat nuansa tradisional dalam kegiatan merti dusun sekaligus menggambarkan hasil bumi dan potensi masyarakat setempat.
Masyarakat berkumpul di sepanjang rangkaian kegiatan dan ikut menyaksikan prosesi. Sejumlah warga tampak antusias mengambil hasil bumi yang dibawa dalam kirab ketika gunungan menjadi bagian dari prosesi.
Kegiatan tahun ini mengusung tema “Gumregah Rukun Nyawiji Mbangun Kranggan 1”. Tema tersebut menjadi semangat warga untuk membangun lingkungan melalui kerukunan dan kebersamaan.
Selain kirab budaya, panitia juga menggelar pagelaran wayang kulit dengan lakon “Semar Boyong”, menghadirkan dalang Ki Hartyo Cermo Raharjo dan Ki Rikhuh Suwarno, serta bintang tamu Apri dan Mimin.
Ketua panitia pelaksana, Adhitya Okviana, mengatakan kegiatan tersebut terus mengalami perkembangan setiap tahun.
“Luar biasa. Alhamdulillah, jadi tiap tahun itu kita ada peningkatan, baik secara antusiasnya masyarakat, perform, dari penampilan dari masyarakat, dan juga rutenya kita lebih jauh,” ujarnya.
Menurut Adhitya, perkembangan rute kirab membuat masyarakat memiliki kesempatan lebih besar untuk memperkenalkan potensi yang dimiliki kepada warga di dusun sekitar.
“Jadi kita bisa menampilkan potensi-potensi ini ke dusun-dusun keliling,” katanya.
Ia menjelaskan, Merti Dusun Kranggan 1 sudah menjadi tradisi sejak zaman leluhur. Sementara pelaksanaan kirab budaya yang dilengkapi kegiatan wayang kulit atau ketoprak mulai dilakukan sejak 2017.
Pelaksanaan kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan budaya Jawa kepada generasi muda. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam berbagai bagian kegiatan, mulai dari persiapan kirab, penampilan kelompok warga, hingga kegiatan kebersamaan dan penyediaan hidangan.

Kebersamaan warga yang terlihat dalam kegiatan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa tradisi merti dusun tidak sekadar kegiatan seremonial. Tradisi tersebut menjadi ruang bertemunya warga, mempererat hubungan antarwarga, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Adhitya berharap kecintaan terhadap budaya Jawa tetap tumbuh di tengah generasi muda.
Di sisi lain, ia berharap kegiatan tersebut mampu memperkuat kerukunan, persatuan, gotong royong, toleransi, dan kepedulian sosial.
Menurutnya, masyarakat perlu bersama-sama menjaga dan mendidik anak-anak di lingkungan dusun agar kelak tumbuh menjadi generasi yang lebih baik.
Dengan keterlibatan berbagai kelompok masyarakat, kirab budaya dan pagelaran wayang kulit diharapkan terus menjadi bagian penting dari Merti Dusun Kranggan 1, sekaligus menjadi sarana untuk merawat budaya Jawa dan memperkuat semangat rukun, nyawiji, serta gotong royong di tengah masyarakat. (alhabieb)
Domisili di Bangka Belitung.
~ Demi masa, sesungguhnya manusia itu merugi, kecuali yang beriman dan berbuat baik. ~
Menulis bukan sekadar menyusun kata, tapi salah satu instrumen menyampaikan kebenaran, edukasi, serta melestarikan nilai-nilai budaya.


















Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.